Konten dari Pengguna

Prof Djoko Wintoro "ADI" Ingatkan Tantangan Dosen di Era Artificial Intelligence

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prof Djoko Wintoro "ADI" Ingatkan Tantangan Dosen di Era Artificial Intelligence
zoom-in-whitePerbesar

Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran vital dalam membentuk dan mempersiapkan generasi penerus bangsa. Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat, perubahan dalam metode pembelajaran menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Ketua Dewan Pakar DPP Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Prof Djoko Wintoro, Ph.D menjelaskan bahwa perguruan tinggi harus siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan.

Salah satu inovasi teknologi yang sedang mengemuka adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kemajuan teknologi AI telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks ini, Prof Djoko Wintoro menyatakan bahwa perguruan tinggi perlu memahami dan memanfaatkan potensi AI dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dosen.

"Yang paling sederhana dengan Microsoft Office saja sudah meningkatkan pembelajaran kita. Tapi sekarang dengan adanya perkjembangan teknologi yang baru misalanya artificial intelligence akan menjadikan pembelajaran kita banyak berubah," kata Prof Djoko saat Seminar Nasional Forum Dewan Pakar DPP Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) bertajuk Transformasi SDM Perguruan Tinggi dalam Menghadapi Era Digital dan Internasionalis.

Prof Djoko menambahkan terdapat tantangan bagi dosen untuk merumuskan kompetensi mahasiswa, yang sudah tidak relevan lagi jika diterpakan dengan pembelajaran 5-10 tahun yang lalu. Ia menggarisbawahi pentingnya persiapan yang matang dalam menghadapi perubahan tersebut.

Salah satu tantangan utama adalah merumuskan kompetensi baru yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Seiring dengan kemajuan teknologi, pekerjaan masa lalu kemungkinan besar akan menghilang atau mengalami transformasi yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mempersiapkan anak didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan pekerjaan baru yang akan muncul.

Dalam konteks ini, Prof Djoko menjelaskan bahwa dosen tidak lagi hanya menjadi sumber pengetahuan. Bahkan tugas administratif yang selama ini dilakukan oleh dosen bisa digantikan oleh AI.

"Tantangan terbesar yang dihadapi oleh dosen adalah menentukan peran mereka ke depannya. Dosen harus mencari bentuk-bentuk baru di mana mereka dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi mahasiswa. Selain itu, interaksi antara dosen dan mahasiswa akan menjadi lebih penting dan intensif, bukan hanya dalam kelas dan bimbingan saja," ujarnya

Perubahan dalam mata kuliah juga akan terjadi sebagai respons terhadap perkembangan teknologi. Oleh karena itu, dosen perlu memahami perubahan ini dan mengembangkan kompetensi yang relevan agar dapat membimbing mahasiswa dengan baik untuk menghadapi tantangan masa depan.

"Karakter etos kerja juga akan mengalami perubahan. Dalam bidang vokasi, hal ini juga relevan karena perubahan karakteristik dan penilaian terhadap kompetensi mahasiswa tidak hanya berdasarkan pada indeks prestasi (IP) yang rendah, tetapi juga pada etos kerja yang buruk. Oleh karena itu, peran dosen dan perguruan tinggi adalah membangun landskap baru dalam kontribusi mereka terhadap pembentukan karakter dan kompetensi," ucapnya.

Secara keseluruhan, perubahan yang dibawa oleh perkembangan AI di bidang pendidikan tinggi menuntut adanya refleksi dan adaptasi dari dosen dan perguruan tinggi. Dosen perlu menemukan peran baru mereka dan mengembangkan kompetensi yang relevan untuk membimbing mahasiswa menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Sementara itu, perguruan tinggi perlu membangun landskap baru dalam kontribusi mereka terhadap dunia bisnis dan persiapan mahasiswa untuk tantangan global yang semakin kompleks.