Selamat Tinggal Koding Manual: Cara Developer Selamat dari Gulungan Agentic AI
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SURABAYA — Landskap industri teknologi informasi (TI) tengah menghadapi titik balik disrupsi yang luar biasa pada tahun 2026. Perkembangan Generative AI yang semula bersifat reaktif kini telah bertransformasi penuh menjadi Agentic AI—sistem kecerdasan buatan otonom yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi mampu mengambil tindakan langsung (take action). Fenomena ini membawa ancaman nyata sekaligus pergeseran karier yang masif bagi para pengembang perangkat lunak, terutama di kelas pemula (entry-level).
Peringatan keras tersebut disampaikan oleh Prof. Ester Irawati, seorang profesor di Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) sekaligus pakar machine learning, NLP, dan AI. Dalam pemaparannya pada acara Level Up Session: Agentic AI for Engineers, the New Baseline Skill for 2026 yang digelar di Gedung SEVIMA HQ, Surabaya, ia mengupas tuntas masa depan interaksi manusia dan kode di era agoritmik.
Melalui sudut pandang Prof. Ester, artikel ini akan mengulas secara tajam bagaimana Agentic AI mendisrupsi struktur kerja developer tradisional dan apa strategi konkret agar para engineer lokal tidak tergilas zaman.
Koding Reguler Digantikan AI: Nasib Programmer Entry-Level di Ujung Tanduk
Dalam sesi takshow tersebut, Prof. Ester menegaskan bahwa fungsi programmer kelas pemula yang hanya mengandalkan kemampuan koding dasar kini sudah berada di ujung tanduk. Tugas-tugas repetitif dan standar seperti membuat halaman login, mengelola cookie, mengonfigurasi session, hingga menyusun fungsi shopping cart kini dapat diselesaikan oleh AI dalam hitungan detik tanpa celah galat (error).
"Programmer entry-level yang hanya punya kemampuan dasar-dasar membuat kode tanpa analytical thinking dan tanpa inovasi itu memang sudah pasti tergusur AI. Bikin login page dalam waktu yang sangat cepat itu AI sudah enggak mau error lagi karena itu something yang sangat remeh-temeh," ujar Prof. Ester di hadapan ratusan komunitas IT Jawa Timur.
Bukan sekadar prediksi kosong, Prof. Ester mengutip data dari lembaga riset global, Gartner, yang memproyeksikan bahwa adopsi sistem agen otonom di ranah perusahaan (enterprise adoption) akan menembus angka 60% sepanjang tahun 2026 ini. Perubahan paradigma dari LLM reaktif menuju sistem agentic yang berinisiatif tinggi ini memaksa industri mengubah struktur organisasinya secara radikal demi efisiensi biaya dan kecepatan produksi.
Ancaman Nyata 'Technical Debt' dan Gelembung Kode yang Siap Meletus
Meskipun efisiensi koding meningkat berkat bantuan kecerdasan buatan, Prof. Ester mengingatkan adanya bahaya laten yang kerap diabaikan oleh para pengembang: Technical Debt (Utang Teknis). Fenomena fast-coding di mana developer junior langsung memasukkan baris-baris kode hasil generatif AI tanpa memeriksa logika dan arsitektur dasarnya secara mendalam berpotensi menjadi bom waktu.
Ia menceritakan pengalamannya saat menghadapi mahasiswa bimbingannya yang membawa proyek aplikasi berbasis Android. Ketika aplikasi tersebut mengalami error massal di puluhan file, mahasiswa tersebut kebingungan karena seluruh kodenya murni dibuat oleh AI tanpa dipahami alur logikanya.
Prof. Ester memperingatkan agar pola kerja instan seperti ini dihindari oleh industri maupun akademisi.
Bahaya Kode Pasaran: Kode yang dihasilkan AI secara mentah cenderung generik dan berpola mirip, sehingga sangat mudah ditebak dan rentan terhadap serangan siber (cyber attack).
Akumulasi Eror: Karena AI bekerja berbasis probabilitas (bukan kepastian deterministik), kesalahan kecil di tengah struktur kode multi-agen yang tidak diawasi akan menumpuk.
Ledakan Gelembung Data: Jika pengawasan longgar, akumulasi kode rusak ini akan memicu ledakan masalah teknis (technical debt bubble burst) yang merusak sistem internal perusahaan.
Menjadi 'Konduktor Orkes': Tiga Peran Baru Developer untuk Bertahan
Bagaimana cara software engineer bertahan di era Agentic AI? Jawabannya bukan dengan menjauhi AI, melainkan dengan menggeser peran dari sekadar "penulis kode" menjadi "konduktor orkestra agen". Manusia tetap memegang kendali penuh sebagai pengawas kebijakan (governance) dan inovator.
Prof. Ester memetakan tiga pilar kompetensi baru yang akan sangat krusial dan mahal harganya di masa depan:
1. Penguatan Computational Thinking
Developer masa kini harus melatih kemampuan berpikir komputasional. Fokus utama bukan lagi menghafal sintaks bahasa pemrograman, melainkan memahami bagaimana fondasi matematika, aljabar linear, manipulas matriks, serta logika dasar sistem bekerja. Ini penting agar developer mampu mendeteksi saat AI mulai mengalami halusinasi (hallucination).
2. Spesialisasi Agent Ops, Monitoring, dan Evaluasi
Proses rilis produk berbasis AI wajib dikawal lewat kerangka kerja Agent Ops. Developer bertugas melakukan pengujian unit (unit testing), merekam seluruh jejak token usage, serta mengevaluasi trajektori keputusan yang diambil oleh AI agar tetap akurat dan sesuai dengan pedoman operasional perusahaan.
3. Cyber Security Specialist Custom Code
Kebutuhan akan ahli keamanan siber yang mampu mengonfigurasi AI agar mematuhi standar keamanan (seperti OWASP) akan melonjak tajam. Manusia dibutuhkan untuk melakukan context engineering dan mengustomisasi instruksi AI agar menghasilkan kode yang unik, aman, dan sesuai dengan budaya enkripsi perusahaan.
Kolaborasi Cerdas Menuju Masa Depan
Disrupsi teknologi di tahun 2026 ini tidak dapat dihindari, namun bukan berarti lapangan kerja bagi manusia akan habis. Kuncinya terletak pada adaptasi dini dan kolaborasi lintas fungsi antara dunia kampus dan industri untuk mempercepat transfer pengetahuan.
"Pada akhirnya, perangkat lunak yang harus beradaptasi dengan manusia, bukan manusia yang beradaptasi dengan perangkat lunak (software adapt to agent, not human adapting to software)," pungkas Founder Google Developer Group (GDG) Surabaya tersebut. Developer yang membekali diri dengan kemampuan analisis mendalam, pemahaman grounding data (seperti teknologi RAG), serta prinsip responsible AI dipastikan akan tetap menjadi aset berharga yang memimpin jalannya inovasi global.

