Konten dari Pengguna

SEVIMA Jadi Objek Penelitian di Konferensi Internasional, Sabet Best Paper

SEVIMA Jadi Objek Penelitian di Konferensi Internasional,  Sabet Best Paper
zoom-in-whitePerbesar

Seville, Spanyol, 5 September 2025 — Perusahaan teknologi pendidikan asal Surabaya, SEVIMA, menjadi objek penelitian yang dipresentasikan di forum industri konferensi ilmiah kelas dunia 23rd International Conference on Business Process Management (BPM 2025) di Seville, Spanyol, 31 Agustus–5 September 2025. Paper berjudul “Impact of Process Redesign: A Case Study from Indonesian Higher Education Data Reporting” karya Indri Sudanawati Rozas, Sugianto Halim, Mahendrawathi ER, dan Arif Wibisono meraih Best Industry Forum Paper Award 2025 pada ajang tersebut. Pengakuan ini menegaskan relevansi internasional praktik process redesign yang lahir dari konteks Indonesia dan menjadikan SEVIMA sebagai studi kasus industri yang diacu komunitas riset manajemen proses bisnis global.

Riset yang dipresentasikan di Industry & Society Forum BPM 2025 ini memeriksa dampak perancangan ulang proses (process redesign) pelaporan data pendidikan tinggi Indonesia—khususnya alur pelaporan terintegrasi ke Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI). Dengan menjadikan ekosistem digital SEVIMA sebagai objek penelitian, tim penulis mendemonstrasikan bagaimana perubahan alur yang terukur, standardisasi titik validasi, dan otomasi integrasi dapat memangkas tahapan manual yang berulang, mendorong mutu data yang lebih akuntabel, sekaligus mempercepat turnaround time pelaporan. Di tengah dinamika kepatuhan regulasi yang ketat, studi ini menunjukkan bahwa praktik industri dari Indonesia dapat menjawab problem universal: bagaimana mendesain proses yang sederhana, efisien, dan dapat ditiru lintas institusi.

Menurut ringkasan penelitian, pendekatan yang dikaji bergerak dari pola kerja manual—yang rentan kesalahan entri dan duplikasi—menuju orkestrasi proses yang terdokumentasi, traceable, dan otomatis. Tahap kunci dalam redesign adalah menggeser beban kerja dari “unggah–unduh–entri ulang” ke integrasi terjadwal yang menempatkan validasi di hulu, sehingga data yang mengalir ke sistem pelaporan nasional sudah bersih dan sahih. Implikasi praktisnya bukan sekadar efisiensi beban operator di tingkat program studi atau fakultas, tetapi juga peningkatan compliance institusi terhadap tenggat pelaporan—faktor krusial bagi akreditasi dan tata kelola. Dari sisi ekosistem, kolaborasi kampus–industri yang diteliti menegaskan pentingnya interoperabilitas dan standar data sebagai prasyarat transformasi digital yang berkelanjutan.

CEO SEVIMA Sugianto Halim, MMT menyampaikan apresiasi kepada tim penulis, khususnya kepada penulis utama yang berkiprah sebagai dosen magang di SEVIMA. “Selamat dan sukses untuk Bu Indri Sudanawati Rozas 🎉👏, dosen magang di SEVIMA yang berhasil meraih penghargaan Best Industry Forum Paper Award 2025 pada ajang prestisius 23rd International Conference on Business Process Management di Sevilla, Spanyol 🇪🇸. Pencapaian ini bukan hanya membanggakan pribadi Bu Indri, tapi juga menjadi inspirasi besar bagi kita semua di SEVIMA untuk terus berinovasi, berkarya, dan memberi dampak nyata bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. 🌟💪” ujarnya. Menurut Halim, penghargaan ini sekaligus validasi atas jalan yang ditempuh SEVIMA bersama ratusan kampus mitra: menyederhanakan proses yang kompleks menjadi alur kerja yang rapi, terdokumentasi, dan mudah direplikasi.

Ucapan terima kasih disampaikan Indri Sudanawati Rozas, M.Kom. yang bertindak sebagai penulis utama sekaligus Dosen Researcher SEVIMA. “Terimakasih Pak Halim, terimakasih Sevima atas dukungannya selama ini untuk riset2 kami...🙏🙏🙏” tulisnya, seraya menambahkan apresiasi bagi para rekan yang terlibat: “Terimakasih juga kepada teman2 yang sering saya repoti dengan wawancara dan permintaan data, dukungan kalian semua sangat berarti 🥰”. Indri juga menyoroti antusiasme audiens saat pemaparan di forum industri BPM 2025: “Owww ...tp emang waktu sy presentasi...audience sangat relate dgn kasusnya...krn simple changes...big impact.” Ia menutup dengan menegaskan daya ubah penelitian tersebut terhadap praktik pembelajaran dan pelaporan di kampus: “Bukti tag line #revolutionizeEducation.”

Dalam kerangka ilmiah, studi ini berkontribusi pada literatur Business Process Management (BPM) dan Business Process Reengineering (BPR) dengan menggarisbawahi bahwa “perubahan kecil” yang ditempatkan tepat pada bottleneck proses mampu menghasilkan “dampak besar” pada kinerja keseluruhan. Penulis menunjukkan bahwa redesign yang efektif tidak semata-mata bertumpu pada teknologi, melainkan pada disiplin pemodelan proses (misalnya menggunakan notasi BPMN), penguatan kontrol mutu data di hulu, dan pola kolaborasi lintas peran—operator, pengelola sistem, hingga pimpinan institusi. Hal inilah yang membuat kasus Indonesia relevan bagi komunitas global: tantangan pelaporan, fragmentasi data, serta kebutuhan traceability adalah persoalan lintas negara, lintas yurisdiksi, dan lintas platform.

Pencapaian Best Industry Forum Paper Award 2025 memberikan sinyal kuat bahwa praktik baik dari Indonesia bukan saja dapat bersaing di panggung akademik internasional, tetapi juga menawarkan playbook yang bisa diadaptasi di berbagai konteks. Bagi kampus, manfaat paling nyata adalah pengurangan kerja administratif yang repetitif dan peningkatan ketepatan data untuk pengambilan keputusan. Bagi regulator, model ini mempercepat aliran data yang andal untuk evaluasi kebijakan. Sementara bagi industri teknologi pendidikan, temuan ini memperkuat pentingnya co-creation solusi bersama pengguna akhir, agar inovasi tidak berhenti pada fitur perangkat lunak, melainkan menyentuh ulang desain proses bisnis inti.

Secara lebih luas, penghargaan ini menggarisbawahi tumbuhnya ruang temu yang sehat antara dunia riset dan praktik industri di Indonesia. Dengan menjadikan SEVIMA sebagai objek penelitian yang dibedah secara metodologis, paper ini memperlihatkan bagaimana data empiris dari lapangan dapat diproses menjadi evidence yang bisa diuji, dikritik, dan ditiru. Momentum BPM 2025 di Seville menunjukkan bahwa kolaborasi seperti ini diapresiasi karena relevan langsung dengan persoalan nyata organisasi: kepatuhan, mutu data, efisiensi biaya, dan ketahanan proses di tengah perubahan regulasi.

Ke depan, tim penulis mendorong replikasi dan pengujian dalam spektrum institusi yang lebih beragam, termasuk variasi ukuran kampus dan kesiapan infrastruktur. Pada saat yang sama, penguatan standardisasi dan interoperabilitas perlu terus dipacu agar manfaat process redesign tidak berhenti pada satu lokus, tetapi meluas menjadi praktik baku. Dengan capaian di BPM 2025 serta dukungan para pemangku kepentingan, studi kasus Indonesia tentang pelaporan data pendidikan tinggi ini diharapkan menjadi rujukan baru—bahwa inovasi proses yang tepat sasaran akan memudahkan kerja insan akademik, menghadirkan data yang dapat dipercaya, dan pada akhirnya mempercepat evidence-based policy making di sektor pendidikan tinggi.