Taman Sains Herbal dan Hortikultura Dukung Riset Pertanian
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SEVIMA - Taman sains Institut Teknologi Del menjadi salah satu upaya menghubungkan kegiatan penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan sektor pertanian dan industri. Pengembangan fasilitas penelitian herbal dan hortikultura di kawasan Humbang, Sumatera Utara, diarahkan untuk membuka ruang kerja sama serta mendorong pemanfaatan hasil riset di luar kampus.
Rektor Institut Teknologi Del, Dr. Arnaldo Marulitua Sinaga, memaparkan pengembangan tersebut dalam pembahasan tentang hilirisasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kampusnya sedang memperkuat kapasitas penelitian sebagai bagian dari arah pengembangan institusi yang semakin berorientasi pada riset.
Menurut pemaparannya, Institut Teknologi Del memperoleh tugas untuk mengelola taman sains yang berfokus pada tanaman herbal dan hortikultura. Kawasan ini berada di wilayah yang juga memiliki aktivitas pengembangan pertanian. Keberadaan fasilitas tersebut memberi kesempatan bagi peneliti untuk bekerja lebih dekat dengan komoditas dan persoalan budidaya setempat.
Arnaldo menyebut luas kawasan yang disiapkan sekitar 30 hektare. Rancangannya mencakup sejumlah fasilitas penelitian, mulai dari laboratorium tanah, laboratorium herbal, laboratorium hortikultura, screen house, hingga greenhouse. Pengembangan fasilitas dilakukan untuk mendukung proses penelitian yang lebih menyeluruh, dari pengamatan awal hingga pengujian hasil.
Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah genomik. Penelitian di bidang ini diarahkan untuk mendukung upaya pemuliaan atau pemurnian bibit tanaman. Melalui pengkajian materi genetik, peneliti berharap dapat berkontribusi dalam pengembangan komoditas pangan dan hortikultura yang sesuai dengan kebutuhan budidaya.
Taman Sains sebagai Sarana Riset Pertanian
Kendati demikian, pengembangan taman sains merupakan proses bertahap. Dalam paparannya, Arnaldo menyampaikan bahwa sejumlah fasilitas masih berada pada tahap penyelesaian, sementara kegiatan penelitian tertentu telah dimulai. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas laboratorium berjalan bersamaan dengan persiapan operasional kawasan.
Institut Teknologi Del juga berupaya mengundang peneliti dari institusi lain untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Kerja sama antarpeneliti dibutuhkan karena persoalan pertanian tidak dapat ditangani oleh satu disiplin ilmu. Pengetahuan tentang tanaman, tanah, data, perangkat digital, dan proses produksi dapat saling melengkapi dalam pengembangan inovasi.
Selain bidang bioteknologi, kampus memiliki kekuatan dalam informatika. Arnaldo menuturkan bahwa penelitian kecerdasan buatan dan keamanan siber turut menjadi perhatian institusi. Keahlian komputasi itu dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan data penelitian, termasuk data yang muncul dari kegiatan genomik dan pengamatan lingkungan.
Kampus juga merencanakan penguatan infrastruktur pusat data dan komputasi berkinerja tinggi. Kebutuhan ini berkaitan dengan karakter penelitian modern yang menghasilkan data dalam jumlah besar. Tanpa dukungan pengolahan data yang memadai, hasil pengamatan dari berbagai laboratorium akan lebih sulit dimanfaatkan secara optimal.
Fasilitas Penelitian Dihubungkan dengan Pembelajaran
Arnaldo menjelaskan bahwa kegiatan riset sebaiknya terhubung dengan pembelajaran mahasiswa. Kampusnya telah memperbarui kurikulum dengan pendekatan pendidikan berbasis capaian serta pembelajaran berbasis proyek dan masalah. Dalam penerapannya, kegiatan penelitian dan pengabdian dosen diupayakan masuk ke dalam rancangan pembelajaran.
Dengan hubungan tersebut, mahasiswa dapat melihat persoalan yang sedang diteliti sebagai bagian dari proses belajar. Penelitian tidak berdiri sebagai aktivitas yang terpisah dari ruang kelas. Sebaliknya, pengalaman mengolah data, menguji gagasan, dan memahami kondisi lapangan menjadi bahan yang memperkaya pembelajaran.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah mendekatkan kegiatan akademik ke kawasan taman sains. Institut Teknologi Del merencanakan pemanfaatan lokasi di dekat fasilitas riset untuk mendukung kegiatan tugas akhir mahasiswa. Langkah itu dimaksudkan agar mahasiswa berinteraksi langsung dengan persoalan dan fasilitas penelitian yang relevan.
Arnaldo juga menyebut adanya pembahasan mengenai penguatan status kawasan menjadi kawasan sains dan teknologi. Pengembangan tersebut masih ditempatkan sebagai rencana yang membutuhkan dukungan lebih lanjut. Jika berjalan, kawasan dapat menjadi wadah yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, peneliti, dan mitra industri.
Bagi perguruan tinggi, tantangannya bukan hanya membangun gedung laboratorium. Fasilitas yang tersedia perlu diikuti peneliti, agenda kajian, dan mitra yang mampu menerapkan hasilnya. Taman sains Institut Teknologi Del memperlihatkan bagaimana pengembangan sarana fisik, penguatan kurikulum, dan kolaborasi penelitian dirancang sebagai bagian dari satu arah pengembangan.
Hasil akhirnya tetap bergantung pada kesinambungan penelitian dan kemampuan membawa inovasi ke pengguna. Dengan fokus pada herbal, hortikultura, dan genomik, kawasan tersebut menjadi salah satu contoh upaya kampus mempersiapkan jalur hilirisasi dari kegiatan ilmiah menuju kebutuhan pertanian dan masyarakat.

