Konten dari Pengguna

Tips Dongkrak Jumlah Mahasiswa Baru untuk Kampus Swasta

Foto: Dok. SEVIMA
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dok. SEVIMA

Surabaya — Di tengah ketatnya persaingan penerimaan mahasiswa baru (PMB) 2026, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Prof. Dr. Ir. H. Tri Yogi Yuwono, D.E.A., IPU, ASEAN Eng., mengungkap strategi yang kerap diabaikan perguruan tinggi swasta yakni spiritual branding. Bukan sekadar menempelkan simbol religius di brosur, melainkan membangun identitas kampus yang berakar pada nilai-nilai rohani secara nyata dalam keseharian.

Hal tersebut disampaikan Prof Tri Yogi dalam Grand Launching Serial Webinar Ngaji PMB bertajuk "Hikmah & Refleksi Ramadhan untuk Meningkatkan Penerimaan Mahasiswa Baru 2026" yang digelar SEVIMA bersama Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) secara hybrid pada 23 Februari 2026.

Semua Jual AI, Lalu Apa Pembedanya?

Prof Tri Yogi memulai paparannya dengan pertanyaan tajam kepada ratusan peserta webinar dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Menurutnya, hampir semua kampus kini menawarkan digitalisasi dan kecerdasan buatan sebagai daya tarik utama promosi. Akibatnya, teknologi menjadi komoditas biasa dan kehilangan fungsi sebagai pembeda.

"Ketika semua orang menawarkan teknologi, itu menjadi komoditas biasa dan kehilangan pembeda. Kata kunci pemasaran itu diferensiasi. Kita harus punya sesuatu yang unik dibanding yang lain," tegas mantan Rektor ITS tersebut seperti dikutip dari Youtube SEVIMA, Selasa (24/2/2026).

Ia kemudian memaparkan lima prinsip utama strategi PMB 2026 yang direkomendasikan, mulai dari spiritual branding, academic excellence, digital engagement, alumni as ambassador, dan human touch. Di antara kelimanya, spiritual branding menjadi pilar utama yang ia dalami secara khusus dalam webinar ini.

Menjawab Kecemasan Orang Tua dan Dahaga Gen Z

Prof Tri Yogi menjelaskan tiga alasan mengapa spiritual branding relevan untuk PMB 2026. Pertama, pendekatan ini menjawab kecemasan orang tua terhadap pergaulan bebas, radikalisme, krisis moral, dan penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampus.

"Orang tua pasti akan sangat aman mengirim putra-putrinya ke perguruan tinggi yang secara spiritual bagus. Mereka khawatir akan pergaulan bebas, radikalisme, krisis moral, dan penyalahgunaan narkoba," ungkapnya.

Ia menceritakan pengalamannya saat menjabat Rektor ITS, ketika tim promosi keliling ke berbagai kota mulai dari Batam, Pekanbaru, hingga Kalimantan dengan pesan utama: kampus menjamin keamanan moral putra-putri calon mahasiswa. Strategi itu terbukti menarik banyak mahasiswa dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Kedua, spiritual branding menjawab pencarian makna yang tengah dialami Generasi Z. Menurut Prof. Tri Yogi, anak muda saat ini tidak sekadar mencari gelar. Mereka menginginkan studi yang bermakna, pekerjaan yang berdampak, serta keseimbangan hidup secara mental dan spiritual. Ia merujuk studi Deloitte yang menunjukkan bahwa Gen Z mulai menghitung secara ekonomis: jika dua tahun mendapat sertifikat yang bisa membawa mereka bekerja, itu lebih menarik daripada empat tahun mengejar ijazah tanpa jaminan karier.

"Spiritual branding menjawab dahaga generasi ini akan tujuan hidup yang lebih tinggi," tambahnya.

Ketiga, spiritual branding menjadi diferensiasi kompetitif yang sulit ditiru pesaing. Berbeda dengan fitur teknologi yang bisa direplikasi, budaya dan nilai-nilai rohani yang sudah menjadi identitas keseharian kampus tidak mudah diduplikasi.

Bukan Simbol, Tapi Harus Jadi Budaya

Prof Tri Yogi menekankan bahwa spiritual branding bukan sekadar pajangan. Identitas spiritual harus tercermin dalam sistem, budaya, dan layanan sehari-hari kampus.

"Jadi bukan cuma muncul 'oh UNUSA perguruan tinggi Islam' terus selesai. Harus ada wujud nyata keseharian bahwa kampus mampu menampilkan karakter islami," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kampus tidak hanya menjual gelar, tetapi membentuk karakter. Konsep yang ia sebut bukan sekadar transfer of knowledge, melainkan transfer of value, ada ilmu dan ada akhlak.

Empat Pilar Pendukung yang Tidak Boleh Diabaikan

Spiritual branding tidak bisa berdiri sendiri. Prof Tri Yogi menegaskan bahwa diperlukan empat pilar operasional sebagai pendukung. Pertama, academic excellence: prodi yang unggul dan kurikulum adaptif. Ia mengingatkan bahwa kesalehan tanpa kompetensi tidak akan menarik pasar. Kualitas akademik adalah tiket masuk.

Kedua, digital engagement. UNUSA sendiri membagikan tablet gratis kepada setiap mahasiswa baru sejak 2017 sebagai wujud komitmen terhadap keterlibatan digital. Ketiga, human touch berupa pelayanan yang ramah, responsif, dan solutif. Prof. Tri Yogi mengkritik kampus yang memiliki layanan hotline tetapi menjawab dengan malas-malasan, atau satpam yang tidak ramah dan minim pengetahuan tentang kampus.

"Pelayanan buruk akan merusak citra spiritual branding. Pelayanan prima adalah bukti nyata dari akhlak," tegasnya.

Keempat, alumni as ambassador. Alumni yang berkarakter baik menjadi duta kepercayaan masyarakat yang paling otentik. Ia menambahkan bahwa peringkat QS pun mempertimbangkan porsi alumni yang menduduki jabatan penting. Promosi terbaik dan termurah sebuah kampus adalah alumni yang sukses.

Langkah Implementasi yang Bisa Dimulai Sekarang

Di akhir sesi, Prof Tri Yogi merangkum langkah implementasi yang bisa segera dilakukan perguruan tinggi: memastikan nilai rohani tercermin dalam setiap layanan, memfokuskan narasi konten pada keamanan lingkungan dan pencarian makna oleh Gen Z, melibatkan alumni dalam kegiatan roadshow dan testimoni digital, serta mengoptimalkan platform PMB agar mudah diakses dan responsif.

"Kita tidak sedang berkompetisi dalam perebutan teknologi semata. Kita sedang menawarkan rumah bagi mereka yang mencari ilmu, keamanan moral, dan makna hidup," tutup Prof Tri Yogi.

Serial Webinar Ngaji PMB akan berlangsung setiap hari selama Ramadhan hingga 16 Maret 2026 pukul 15.00 WIB melalui platform Zoom. Informasi pendaftaran tersedia di sevima.com/event-sevima.