Konten dari Pengguna

UGM dan Bukit Asam Luncurkan Kalium Humat untuk Tingkatkan Pemupukan

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Sleman, 21 Agustus 2025 – Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan MIND ID meresmikan proyek percontohan Kalium Humat, sebuah inovasi yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan kesuburan tanah. Produk ini dikembangkan sebagai solusi untuk memperbaiki kualitas tanah, merangsang pertumbuhan tanaman, dan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia sintetis. Peluncuran dilakukan di Fakultas Teknik UGM dengan dihadiri oleh Rektor UGM, Dirut PTBA Arsal Ismail, serta Dirut MIND ID Maroef Sjamsoeddin.

Kalium Humat, yang merupakan hasil riset lintas fakultas di UGM, menggunakan bahan baku batubara kalori rendah yang mengalami proses oksidasi untuk melepas senyawa humat, yang kemudian diperkaya dengan kalium. Proses ini menghasilkan serpihan humat padat berkadar tinggi yang siap digunakan sebagai pupuk untuk tanah. Produk ini diyakini mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya serap air, serta merangsang pertumbuhan akar tanaman yang lebih kuat. Penemuan ini menjadi terobosan dalam mengoptimalkan pemupukan dan meningkatkan hasil pertanian secara berkelanjutan.

Peluncuran Kalium Humat dihadiri oleh berbagai pihak yang mendukung pengembangan produk ini, termasuk pemerintah dan sektor industri. Dalam sambutannya, Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyampaikan apresiasi atas sinergi antara dunia riset dan industri yang terwujud melalui program ini. “Kami sangat berbahagia melihat keterbukaan korporasi terhadap ide dan inovasi peneliti UGM. Semoga ekosistem inovasi berbasis kolaborasi dengan visi keberlanjutan dapat terus didorong bersama-sama,” ungkap Prof. Emilia.

Foto: Istimewa

Pengembangan Kalium Humat ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pertanian, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional. UGM, sebagai perguruan tinggi riset, berkomitmen untuk mendorong transformasi dalam sektor energi dan pertanian Indonesia melalui inovasi yang berfokus pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

Inovasi Kalium Humat berawal dari riset yang dipimpin oleh Prof. Ferian Anggara, Dosen Fakultas Teknik UGM. Tim peneliti yang terlibat dalam riset ini telah lama menaruh perhatian pada pengembangan senyawa humat, yang dikenal dapat meningkatkan kualitas tanah dan efisiensi pemupukan. Melalui riset lintas fakultas, lahirlah Gamahumat, produk humat yang terbukti mampu meningkatkan efisiensi pemupukan dan memperbaiki kualitas tanah. Keberhasilan ini kini diperluas dengan hilirisasi batubara menjadi Kalium Humat, yang tidak hanya memberikan nilai tambah pada sumber daya lokal, tetapi juga berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Proyek ini bukan hanya tentang riset, tetapi juga penerapan teknologi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya petani. Kami berharap produk ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi ketergantungan mereka pada pupuk kimia,” jelas Prof. Ferian.

Sejumlah petani di Bimomartani, Sleman, yang menjadi lokasi demonstrasi penggunaan Kalium Humat, melaporkan hasil yang positif. Mereka mengungkapkan bahwa penggunaan Kalium Humat membuat tanah menjadi lebih subur, meningkatkan hasil panen, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk urea dan NPK. “Kalium Humat sangat efektif dalam meningkatkan kualitas tanah dan hasil panen. Kami berharap produk ini dapat digunakan secara luas oleh petani di seluruh Indonesia,” ujar salah seorang petani di Bimomartani.

Foto: Istimewa

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, yang hadir dalam peluncuran tersebut, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari komitmen PTBA untuk mendukung sektor pertanian di Indonesia, terutama dalam menekan biaya produksi petani. “Kolaborasi ini dilakukan untuk mendukung pemerintah dalam bidang kedaulatan pangan, hilirisasi, serta mengurangi ketergantungan pada impor pupuk. Dengan Kalium Humat, kami harap dapat membantu mewujudkan bangsa yang lebih besar, mandiri, dan berdaulat,” jelas Arsal Ismail.

Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan terhadap inovasi ini. Jekvy Hendra, Direktur Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian RI, menyebut asam humat dan turunannya sebagai inovasi yang sangat strategis untuk menghadapi dinamika kebutuhan pupuk nasional. “Asam humat adalah terobosan yang kami tunggu untuk menjaga dan meningkatkan mutu pupuk, serta membuka peluang menggantikan pupuk subsidi di masa depan. Hasil karya anak bangsa ini harus segera dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Jekvy Hendra.

Kalium Humat bukan hanya sekadar inovasi dalam sektor pertanian, tetapi juga merupakan langkah menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Dengan mengubah batubara, yang selama ini dianggap sebagai sumber daya yang tidak ramah lingkungan, menjadi pupuk yang bermanfaat bagi pertanian, inovasi ini turut memperkuat pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab.

Inovasi Kalium Humat juga sejalan dengan visi pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor pupuk dan mewujudkan kedaulatan pangan. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti batubara, yang diolah menjadi produk yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, diharapkan dapat membantu menciptakan sistem pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Dengan peluncuran Kalium Humat ini, UGM dan PTBA menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia akademik dan industri dapat menghasilkan inovasi yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Inovasi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia, mengurangi ketergantungan pada impor pupuk, serta mendukung sektor pertanian yang lebih berkelanjutan.

“Semoga Kalium Humat dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, khususnya petani, dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi sektor pertanian Indonesia. Kami berharap produk ini dapat menjadi terobosan untuk masa depan yang lebih baik,” tutup Prof. Ferian Anggara.

Sumber: ugm.ac.id