Konten dari Pengguna

UIN Bandung Adakan Workshop Kurikulum Agama dan Budaya Lokal

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Bandung, 18 September 2025 — Program Studi Magister (S2) Studi Agama-Agama Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Workshop Kurikulum bertajuk "Memahami Agama dan Budaya Lokal melalui Kasepuhan Adat Gelaralam" di Aula Lantai 4 (Cinema), Kamis (18/9/2025). Workshop ini bertujuan untuk mengintegrasikan kajian agama dengan khazanah kearifan lokal, dengan harapan agar studi agama tidak hanya teoritis, tetapi juga berakar pada realitas sosial-budaya masyarakat Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Prof. M. Taufiq Rahman, Ketua Prodi S2 Studi Agama-Agama, serta Prof. Ajid Thohir, Wakil Direktur I Pascasarjana UIN Bandung. Workshop ini juga menghadirkan dua narasumber utama, yakni Yoyo Yogasmana, perwakilan dari Jembatan Kasepuhan Gelaralam Sukabumi, dan Dr. Ahmad Gibson Al Busthomi, M.Ag., dosen dari Prodi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Bandung. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya UIN Bandung untuk memperkuat sinergi antara agama dan budaya dalam kajian akademik.

Prof. M. Taufiq Rahman, dalam sambutannya, menekankan pentingnya mengintegrasikan studi agama dengan konteks lokal agar kajian agama tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. "Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi kami untuk memperkuat pemahaman bahwa agama tidak terlepas dari budaya dan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Indonesia," ungkapnya. Hal ini sejalan dengan visi UIN Bandung untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap budaya lokal yang ada di sekitar mereka.

Sementara itu, Prof. Ajid Thohir, Wakil Direktur I Pascasarjana UIN Bandung, juga menekankan pentingnya penguatan dimensi lokal dalam kajian agama sebagai langkah strategis untuk menghadapi tantangan kebudayaan di era globalisasi. "Penguatan dimensi lokal dalam kajian agama ini menjadi sangat relevan, karena dengan memahami konteks budaya lokal, kita dapat lebih memahami hubungan antara agama dan masyarakat," katanya.

Dalam workshop tersebut, Yoyo Yogasmana yang merupakan perwakilan dari Kasepuhan Adat Gelaralam Sukabumi menjelaskan mengenai pentingnya mempertahankan tradisi sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kasepuhan Gelaralam, yang telah lama dikenal sebagai komunitas yang memadukan tradisi dengan inovasi, menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat adat dapat menjaga nilai-nilai luhur sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal.

"Kami mengikuti perkembangan zaman tapi tetap tidak kehilangan jati diri tradisi. Tradisi pertanian padi yang tidak diperjualbelikan di kasepuhan menjadi simbol kearifan menjaga titipan leluhur dan kesinambungan ekologi," ujar Yoyo yang akrab disapa Kang Yoyo. Ia juga menjelaskan bagaimana masyarakat Kasepuhan memanfaatkan kincir air untuk pembangkit listrik sejak 1987, berlanjut dengan penggunaan turbin modern dan kini mengelola jaringan radio, televisi, dan internet secara mandiri.

Foto: Istimewa

Dr. Ahmad Gibson Al Busthomi, M.Ag., dosen Fakultas Psikologi UIN Bandung, menyoroti pentingnya kosmologi Sunda dalam memahami hubungan antara agama dan budaya. "Agama dan budaya selalu berkelindan, namun modernitas membuat banyak masyarakat kehilangan makna budaya karena tidak lagi memahami akarnya," ujarnya. Dalam penjelasannya, ia menyebutkan tiga lapisan kosmos dalam pandangan Sunda: jatiniskala (entitas ketuhanan), niskala/madyapada (ruang spiritual), dan sakala/marcapada (dunia nyata). "Hubungan manusia dengan Tuhan diwujudkan melalui penghormatan terhadap karuhun (leluhur)," tambahnya. Dengan pendekatan ini, ia menekankan bahwa agama dan budaya tidak bisa dipisahkan, melainkan harus saling menopang dalam membentuk identitas masyarakat.

Sesi diskusi interaktif berjalan dengan lancar, dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai bagaimana kasepuhan dapat berperan dalam menjaga generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya mereka. Menanggapi hal ini, Kang Yoyo mengungkapkan bahwa dalam masyarakat Kasepuhan, Islam dipahami sebagai komitmen etis untuk menjaga manusia dan alam. Sejak usia delapan tahun, anak-anak di Kasepuhan sudah dilatih tanggung jawab melalui pekerjaan seperti penggembalaan, yang membentuk disiplin, manajemen emosi, dan kepedulian terhadap ekologi.

Selain itu, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah pihak yang berkontribusi besar dalam persiapan kurikulum dan kegiatan pengajaran. Tim asesor internal yang terdiri dari Prof. Dr. Yayan Sopyan dan Dr. Syahrul Adam diberikan penghargaan atas dedikasi mereka dalam mendukung kegiatan ini. Edi Sanjaya, M.Si., Kepala Pusat Audit & Pengendalian Mutu, juga menerima penghargaan atas upayanya dalam menjaga kualitas dan integritas akademik di Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Bandung.

Melalui kegiatan workshop ini, Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Bandung menegaskan komitmennya dalam mengintegrasikan agama dan budaya lokal dalam kurikulum studi agama-agama. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya mumpuni dalam analisis akademik, tetapi juga memiliki kepekaan budaya serta kemampuan menjembatani nilai-nilai agama dengan konteks masyarakat Indonesia. Sebagai langkah awal, workshop ini diharapkan dapat menjadi platform bagi pengembangan kurikulum berbasis agama dan budaya yang lebih aplikatif dan relevan dengan tantangan zaman.

Foto: Istimewa

"Kami berharap kegiatan ini akan menjadi langkah awal dalam menciptakan kurikulum yang lebih menyatu dengan nilai-nilai budaya lokal, sehingga dapat membantu menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas dalam bidang agama, tetapi juga peka terhadap keberagaman budaya di Indonesia," kata Prof. M. Taufiq Rahman, Ketua Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Bandung, dalam sambutannya.

Dengan pendekatan semacam ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap dapat menghasilkan mahasiswa dan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik tetapi juga memiliki kepekaan budaya dan kemampuan untuk mengadaptasi ajaran agama dengan realitas sosial budaya masyarakat Indonesia. Ini merupakan salah satu cara untuk menciptakan pendidikan agama yang inklusif, relevan, dan berkelanjutan dalam membangun karakter bangsa.

Kegiatan ini juga diharapkan akan memperkuat hubungan antara agama dan budaya sebagai pilar penting dalam pengembangan kurikulum dan pendidikan agama yang berbasis pada kearifan lokal serta mampu menjawab tantangan globalisasi yang semakin pesat. Ke depan, UIN Bandung berencana untuk terus memperluas kolaborasi dan riset bersama dengan berbagai komunitas budaya dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan agama di Indonesia.

Sumber: uinsgd.ac.id