Konten dari Pengguna

UNAIR Tunjukkan Kepemimpinan Digital di EduTech Solution Summit 2025

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

SURABAYA — Universitas Airlangga (UNAIR) menegaskan kepemimpinan digitalnya di kancah internasional melalui partisipasi aktif dalam EduTech Solution Summit 2025, bagian dari rangkaian Higher Education Partnerships Conference (HEPCON) 2025. Forum kolaboratif ini berlangsung di The Westin, Nusa Dua, Bali, Jumat–Sabtu (12–13/9/2025), dan mempertemukan perguruan tinggi, praktisi, serta penyedia teknologi pendidikan untuk mendorong adopsi EdTech yang inklusif dan berkelanjutan. Dikutip dari rilis resmi UNAIR News berbahasa Indonesia dan Inggris, keikutsertaan UNAIR menegaskan komitmen kampus terhadap transformasi digital yang terarah, terukur, dan berdampak.

Sekretaris Universitas, Prof. Dr. Dwi Setyawan, S.Si., M.Si., Apt., menyampaikan apresiasi atas kontribusi sivitas akademika yang mewakili UNAIR di forum tersebut. “Keterlibatan dosen UNAIR dalam forum internasional ini menjadi bukti nyata komitmen universitas untuk memperkuat kapasitas akademik sekaligus meningkatkan reputasi global. Kami mendukung penuh langkah-langkah strategis dalam pemanfaatan teknologi pendidikan demi mendukung transformasi digital perguruan tinggi,” ujarnya. Informasi profil jabatan beliau sebagai Sekretaris Universitas Airlangga periode 2025–2030 tercantum pada laman resmi UNAIR.

Pada sesi panel bertajuk “EdTech Procurement and Implementation: Making Smart Investments,” UNAIR diwakili Yutika Amelia Effendi, S.Kom., M.Kom., Ph.D., dosen Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM). Yutika berperan sebagai panelis yang memaparkan strategi investasi dan implementasi solusi EdTech yang tepat guna bagi perguruan tinggi. Dikutip dari kanal resmi UNAIR News, kehadiran Yutika sebagai panelis menegaskan kiprah UNAIR dalam forum internasional yang berfokus pada tata kelola pengadaan dan integrasi teknologi pendidikan.

Dalam paparannya, Yutika menekankan pentingnya perencanaan sistem teknologi informasi sebagai enabler utama bagi ekosistem tridharma—pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat—serta pendorong reputasi global universitas. Ia menyoroti infrastruktur data dan platform pembelajaran sebagai elemen krusial untuk meningkatkan kualitas proses akademik. “UNAIR sudah memiliki UNAIR Satu Data. Sehingga seluruh target kinerja fokus pada data untuk bisa melaju di level nasional maupun internasional,” terang Yutika, yang pernah menjadi Kapten E-Learning UNAIR (2019–2020). Pernyataan lengkap dan konteks keikutsertaan Yutika dipublikasikan di laman resmi UNAIR.

Lebih lanjut, Yutika memaparkan konsep Faculty 4.0: Empowering Lecturers for Digital-First Teaching yang saat ini menjadi fokus pengembangan di UNAIR. Dalam kerangka ini, beberapa faktor dinilai sebagai indikator kunci keberhasilan adopsi EdTech: (1) kesesuaian dengan visi–kurikulum dan capaian pembelajaran lulusan (CPL) berbasis Outcome-Based Education/OBE; (2) keamanan dan kepatuhan perlindungan data; (3) integrasi yang kompatibel dengan Learning Management System (LMS) UNAIR yaitu Hebat e-Learning; (4) pengalaman pengguna (user experience) yang mudah; serta (5) skalabilitas dan reliabilitas agar mampu melayani puluhan ribu mahasiswa tanpa mengorbankan mutu. Informasi mengenai Hebat e-Learning sebagai LMS UNAIR dapat diakses pada portal resmi e-learning UNAIR.

Partisipasi UNAIR di EduTech Solution Summit 2025 sekaligus mempertegas posisi kampus dalam jejaring kolaborasi global. Dikutip dari situs resmi HEPCON dan berbagai pengumuman penyelenggara, konferensi kemitraan pendidikan tinggi tersebut beragenda memfasilitasi kerja sama internasional antara universitas di Indonesia dan mitra mancanegara, dengan skema diskusi kebijakan, networking, serta showcase solusi. Kehadiran track EduTech menjadi wahana strategis untuk menyelaraskan pengadaan, interoperabilitas sistem, dan praktik pembelajaran digital lintas institusi.

Dalam sesi refleksi, Yutika menyampaikan semangat berbagi praktik baik dan mengakselerasi dampak EdTech di pendidikan tinggi. “Bangga dapat mewakili Universitas Airlangga di forum internasional ini. Sekaligus berbagi pengalaman dan belajar dari para pemimpin pendidikan dunia. Baik sebagai akademisi, profesional, maupun penyedia teknologi. Harapannya, strategi pengadaan EdTech dapat semakin cerdas, berkelanjutan, dan berdampak bagi masa depan pendidikan tinggi,” ujarnya. Kiprah Yutika sebagai panelis yang mewakili UNAIR juga terdokumentasi melalui kanal media sosial profesional.

Foto: Istimewa

Secara institusional, UNAIR menempatkan transformasi digital sebagai prioritas strategis. Dikutip dari laman utama UNAIR dan jejaring informasi institusi, kampus berlokasi di Surabaya dengan jejaring beberapa kampus (A, B, C, dan Giri Banyuwangi), serta mengembangkan berbagai inisiatif untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi dan kolaborasi riset. Penegasan lokasi dan kanal layanan resmi kampus terekam pada laman UNAIR serta direktori institusi internasional.

Konteks kelembagaan yang kuat tersebut menopang efektivitas inisiatif seperti UNAIR Satu Data yang berorientasi pada integrasi dan konsistensi data. Pendekatan ini relevan dengan semakin pentingnya analitik untuk perencanaan akademik, pemetaan kinerja riset, serta manajemen mutu berkelanjutan. Pada tataran operasional, Hebat e-Learning menjadi tulang punggung pembelajaran daring dan hibrida di UNAIR—ditopang dokumentasi, tutorial, dan sosialisasi berkala yang disediakan unit terkait.

Kehadiran Sekretaris Universitas pada forum ini menegaskan dukungan manajerial terhadap strategi digital kampus. Profil resmi Prof. Dwi Setyawan memperlihatkan rekam jejak kepemimpinan yang kuat dalam pengembangan fakultas dan kebijakan akademik, memperkuat legitimasi kebijakan transformasi digital di tingkat universitas. Dengan demikian, sinergi antara pimpinan universitas, dosen, dan unit pendukung memastikan program digitalisasi berjalan konsisten serta berorientasi hasil.

Bagi UNAIR, partisipasi dalam EduTech Solution Summit 2025 bukan hanya ajang berbagi, tetapi juga momentum memperluas kolaborasi strategis dengan pemangku kepentingan EdTech. Dikutip dari situs penyelenggara dan publikasi mitra, ekosistem HEPCON 2025 dirancang untuk mempertemukan lebih dari seratus perguruan tinggi dengan mitra internasional melalui sesi pleno, breakout, dan pameran, sehingga membuka ruang sinergi lintas disiplin dan lintas negara.

Secara keseluruhan, partisipasi UNAIR pada forum internasional ini merepresentasikan kepemimpinan digital yang proaktif, kolaboratif, dan berorientasi dampak. Dari perspektif tata kelola, UNAIR mengedepankan pengadaan yang cerdas, perlindungan data yang ketat, serta integrasi sistem yang mulus. Dari perspektif pembelajaran, UNAIR mendorong dosen untuk mengadopsi Faculty 4.0 dengan pemanfaatan LMS yang user-friendly dan andal. Sementara dari perspektif reputasi, UNAIR memperkuat jejaring internasional dan publikasi praktik baik, sehingga memperbesar peluang kolaborasi riset dan pengembangan. Dukungan pimpinan universitas dan kontribusi dosen pada forum global seperti EduTech Solution Summit 2025 semakin meneguhkan posisi UNAIR sebagai kampus yang unggul, adaptif, dan visioner dalam ekosistem pendidikan tinggi Indonesia dan kawasan.

Sumber: unair.ac.id