Konten dari Pengguna

UNAS–UP Jalin MoA Benchmarking Penjaminan Mutu dan Tata Kelola

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

JAKARTA, 10 September 2025 — Universitas Nasional (UNAS) menerima kunjungan Universitas Pancasila (UP) dalam kegiatan benchmarking penjaminan mutu di Ruang Rapat Cyber Library Kampus UNAS Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (10/9). Kegiatan ini difokuskan pada penguatan tata kelola, pengelolaan aset, pemanfaatan teknologi informasi, serta identifikasi praktik terbaik yang bisa diadopsi kedua perguruan tinggi. Agenda juga ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Arrangement (IA) sebagai komitmen kerja sama jangka panjang di bidang penjaminan mutu.

Rombongan UNAS dipimpin Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Keuangan, dan SDM, Prof. Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M., bersama Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Dr. Dra. Erna Ermawati Chotim, M.Si.. Hadir pula jajaran kepala unit: Winarsih, S.Si., M.M.S.I. (Kepala Badan Pengelola Sistem Informasi), Ariana Azimah, S.T., M.T.I. (Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi), Dr. Muhani, S.E., M.Si.M. (Kepala Badan Penjaminan Mutu), Dr. Heni Jusuf, S.Kom., M.Kom. (Kepala Badan Pengembangan Kurikulum), Dr. Drs. Ian Zulfikar, M.Si. (Kepala Biro Administrasi Umum), Dr. Dra. Sri Handayani, M.Si. (Kepala Biro Administrasi Akademik), dan Dini Febriani, S.Psi., M.M. (Kepala Biro Administrasi SDM).

Dari pihak UP, hadir Wakil Rektor II, Prof. Dr. Sri Widyastuti, S.E., M.M., M.Si., beserta jajaran: Kiki K. Lestari, M.T. (Anggota Pengawas YPPUP), Guritno, S.E., M.H. (Direktur Pengelolaan Sarana dan Prasarana), Adi Wahyu Pribadi, S.Si., M.Kom. (Direktorat Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi), Rangga Nurdianto (Kepala Bagian Umum), Bambang Riono (Kepala Bagian Layanan dan Operasional IT), serta Cheni Dian Anggreni (Staf Khusus WR II).

Seusai penandatanganan MoA dan IA, Prof. Suryono menyampaikan apresiasi atas kemitraan strategis tersebut. “Kegiatan ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menunjukkan semangat kebersamaan dalam membangun pendidikan tinggi yang akuntabel dan relevan,” ujarnya. Erna Ermawati menambahkan, “Kami menempatkan tata kelola, penjaminan mutu, dan transformasi digital sebagai pondasi untuk konsistensi capaian tridarma serta pemenuhan target kinerja akademik.”

Dari pihak tamu, Sri Widyastuti menilai kerja sama lintas-universitas perlu diperluas dari level fakultas ke level universitas agar mencakup seluruh tridarma dan inisiatif benchmarking. “Ini momentum memperkuat kesetaraan standar, mempercepat adopsi praktik baik, dan memastikan perbaikan mutu berjalan sistematis,” katanya.

Sebagai tuan rumah, UNAS memusatkan rangkaian diskusi di Cyber Library, pusat layanan pengetahuan berbasis digital. Dikutip dari laman resmi perpustakaan UNAS, unit ini menjalankan program literasi informasi dan penguatan layanan koleksi agar dapat diakses sivitas akademika secara efektif. “Cyber Library UNAS memiliki koleksi digital yang mencakup e-book, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja,” dikutip dari laman Cyber Library UNAS.

Selain sesi sinkronisasi dokumen SPMI dan aplikasi mutu, agenda mencakup walkthrough pengelolaan aset dan layanan TI, yang dipresentasikan unit pengelola sistem informasi UNAS dan Direktorat TSI UP. Rombongan UP juga meninjau fasilitas akademik di Kampus Pejaten.

Sementara itu, dikutip dari laman profil Universitas Pancasila, kampus utama UP berada di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan kampus pascasarjana di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Secara substansi, benchmarking diposisikan sebagai instrumen peningkatan berkelanjutan. Dikutip dari laman LPM Institut Nalanda, “Benchmarking adalah upaya perbandingan standar baik antar bagian internal organisasi maupun dengan standar eksternal secara berkelanjutan dengan tujuan untuk peningkatan mutu dalam rangka memenuhi kebutuhan pemangku kepentingan.” Kutipan ini menegaskan bahwa pembandingan bukan sekadar studi banding, melainkan proses sistematis untuk menaikkan standar.

Dalam beberapa tahun terakhir, UNAS juga kerap menjadi rujukan kegiatan serupa. Dikutip dari berita Matana University (30 Agustus 2025), LPM Matana melakukan benchmarking ke Badan Penjaminan Mutu (BPM) UNAS untuk memperkuat Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan budaya mutu. “Kegiatan ini bertujuan memperkuat SPMI dan meningkatkan budaya mutu akademik maupun non-akademik,” tulis rilis tersebut.

Keterpautan agenda hari ini dengan arah kebijakan institusional UNAS juga terlihat dari target world class university. Dikutip dari laman Visi dan Misi UNAS, visi universitas berbunyi: “Menjadi Perguruan Tinggi Swasta dengan peringkat 10 PTS terbaik di Indonesia dan mencapai akreditasi internasional menuju world class university pada tahun 2025.” Fokus pada penjaminan mutu dan tata kelola yang transparan menjadi instrumen untuk mendekatkan capaian visi tersebut.

Sesi diskusi teknis dipecah ke tiga klaster: (1) kesesuaian dokumen SPMI dan implementasinya di tingkat program studi, (2) pemetaan risiko pengelolaan aset dan skema pemeliharaan preventif, serta (3) arsitektur TI untuk layanan akademik termasuk integrasi single sign-on, keamanan data, dan dukungan business intelligence untuk pengambilan keputusan. Pada bagian ini, kedua kampus menukar checklist audit internal, alur corrective and preventive action (CAPA), dan matriks indikator kinerja utama (IKU) yang sudah berjalan.

Di ranah tata kelola, perbincangan menyinggung konsolidasi data dosen/mahasiswa dan document control agar selaras dengan kebutuhan akreditasi nasional maupun skema akreditasi internasional yang hendak dikejar. UNAS memaparkan praktik penguatan quality culture melalui lokakarya berkala, audit mutu internal, hingga pelibatan program studi dalam penyusunan risk register akademik. UP, di sisi lain, mempresentasikan penguatan layanan sarana-prasarana, termasuk pola lifecycle aset dan service level dukungan TI untuk kelas hyflex.

“Benchmarking seperti ini memungkinkan kami menguji kembali gap proses, memastikan lesson learned terdokumentasi, sekaligus menyiapkan roadmap perbaikan yang terukur,” ujar Dr. Muhani, Kepala BPM UNAS, dalam diskusi panel. Ia menekankan pentingnya memadukan policy, people, dan platform agar penjaminan mutu tidak berhenti pada dokumen, tetapi terasa dampaknya di ruang kelas dan laboratorium.

Dari sisi pengembangan teknologi, Ariana Azimah memaparkan inisiatif analytics untuk pengelolaan kurikulum, beban belajar mahasiswa, dan produktivitas riset dosen. “Data harus ditarik dekat ke pengambil keputusan. Dengan dashboard yang tepat, prodi bisa early detect deviasi pembelajaran dan segera melakukan tindakan korektif.”

Dalam forum yang sama, Adi Wahyu Pribadi dari UP menyoroti pentingnya standar interoperabilitas sistem informasi antarunit. “Kita perlu memastikan data lintas unit bisa berbicara dalam bahasa yang sama, sehingga evaluasi mutu lebih cepat dan akurat,” ucapnya.

Menutup rangkaian acara, kedua perguruan tinggi menyepakati timeline kerja tindak lanjut, antara lain penyusunan template audit peer review lintas kampus, kelas coaching pengelola jurnal, dan pilot project integrasi pelaporan mutu berbasis dashboard. Rombongan lantas meninjau layanan Cyber Library dan beberapa fasilitas akademik.

Kegiatan hari ini juga memberi pesan kontekstual bagi publik. Dikutip dari laman resmi UNAS, kampus ini memposisikan diri sebagai “Pionir Perubahan,” dengan kanal informasi institusional—profil, kebijakan mutu, hingga renstra riset—yang dapat diakses umum. Narasi tersebut menunjukkan keterbukaan informasi yang sejalan dengan penguatan akuntabilitas mutu.

Dengan MoA dan IA telah ditandatangani, UNAS dan UP menegaskan rencana kerja 12 bulan ke depan: penguatan siklus PPEPP (Penetapan–Pelaksanaan–Evaluasi–Pengendalian–Peningkatan), peningkatan kapasitas pengelola jurnal, berbagi tooling audit, serta publikasi bersama mengenai praktik baik tata kelola. “Kerja sama ini kami rancang by design, terukur, dan berorientasi hasil,” ujar Sri Widyastuti menutup sesi. “Targetnya bukan sekadar compliance, melainkan mutu yang benar-benar dirasakan mahasiswa dan dosen di kelas.”

Sumber: unas.ac.id