Konten dari Pengguna

UNNES Tanam Pohon di IKN, Dukung Forest City dan SDGs

SEVIMA

SEVIMA

Sentra Vidya Utama (Sevima) adalah Education Technology yang berdiri sejak tahun 2.004, dengan komunitas dan pengguna platform yang tersebar di lebih dari 1.000 kampus se-Indonesia. Bersama kita revolusi pendidikan tinggi, #RevolutionizeEducation!

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

Semarang/IKN—Universitas Negeri Semarang (UNNES) menegaskan kembali identitasnya sebagai Kampus Konservasi dengan berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 24–26 Agustus 2025. Aksi tanam pohon itu merupakan bagian dari agenda forum rektor perguruan tinggi negeri se-Indonesia dan sekaligus momentum UNNES memperluas kerja sama internasional melalui penandatanganan kesepakatan dengan Prince of Songkla University (PSU) dari Thailand.

Rektor UNNES, Prof. Dr. S Martono, M.Si., menegaskan bahwa konservasi lingkungan bukan sekadar program, melainkan nafas dan arah strategis kampus. “Sebagai Kampus Konservasi berwawasan internasional, UNNES menempatkan isu lingkungan dan keberlanjutan sebagai bagian inti dari tridharma perguruan tinggi. Penanaman pohon di IKN ini adalah kontribusi nyata UNNES dalam mendukung konsep Forest City serta pembangunan kota berkelanjutan yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Partisipasi UNNES tersebut sejalan dengan visi pembangunan IKN yang didesain sebagai “forest city”. Dikutip dari laman resmi Otorita IKN (Nusantara Capital Authority), melalui dokumen Nusantara Net Zero Strategy 2045, konsep “kota di dalam hutan” itu tercermin pada rencana tata guna lahan, di mana sekitar 65 persen kawasan IKN (hampir 200 ribu hektare) ditetapkan sebagai area berhutan dan kawasan lindung, lengkap dengan koridor hijau dan biru untuk konektivitas ekologis. Dokumen yang sama menargetkan IKN menjadi kota netral karbon pada 2045.

Dalam keterangan yang dirangkum dari kanal SDGs UNNES, kegiatan di IKN dihadiri langsung Rektor UNNES beserta jajaran dekan dan wakil dekan III dari setiap fakultas. Selain penanaman pohon, UNNES juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Prince of Songkla University sebagai bentuk penguatan relasi internasional dan peningkatan mutu pendidikan. “Penanaman pohon di IKN selaras dengan konsep Forest City yang dikembangkan OIKN,” tulis UNNES dalam rilisnya.

Kolaborasi Indonesia–Thailand di IKN tahun ini juga terhubung dengan forum CUPT–CRISU pertemuan tahunan pimpinan universitas Thailand (Council of University Presidents of Thailand) dan Indonesia (Council of Rectors of Indonesian State Universities) yang ikut menampilkan agenda tanam pohon, dialog akademik, hingga ajang budaya untuk menguatkan kerja sama pendidikan tinggi kedua negara.

Sejalan dengan itu, UNNES menegaskan komitmen pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dikutip dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa, SDG 11 menekankan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan, sementara SDG 17 menekankan kemitraan global sebagai pengungkit pencapaian seluruh tujuan. Narasi inilah yang mengikat aksi tanam pohon di IKN (SDG 11) dan penandatanganan kerja sama dengan kampus luar negeri (SDG 17).

Dalam konteks lokal kampus, UNNES mengingatkan kembali posisi dan perannya di Semarang. Dikutip dari laman resmi universitas, kampus utama UNNES berlokasi di Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, salah satu kawasan perbukitan kota yang selama ini menjadi laboratorium hidup berbagai program konservasi kampus.

Sementara itu, kerja sama internasional yang diteken di sela-sela agenda IKN juga menyasar penguatan jejaring riset dan pertukaran akademik. Dikutip dari laman resmi Prince of Songkla University, PSU beralamat di 15 Kanchanavanich Road, Hat Yai, Songkhla 90110, Thailand, kampus negeri besar di Thailand Selatan dengan sejumlah fakultas unggulan dan tradisi riset yang kuat. Informasi kampus dan jaringan fakultas di kampus Hat Yai tercantum pada direktori internasional PSU.

Tak hanya penanaman pohon yang digerakkan komunitas kampus, gelombang kegiatan serupa juga meluas di IKN sepanjang 2025. ANTARA mencatat, aksi tanam pohon dilakukan berbagai pihak untuk mendukung kota hijau IKN dan menyeimbangkan percepatan pembangunan infrastruktur dengan pemulihan lingkungan. Hal itu memperlihatkan bahwa penguatan peran masyarakat dan lintas lembaga menjadi kunci agar visi “forest city” tidak sebatas jargon.

Rektor S Martono menambahkan, hilirisasi dampak menjadi tolok ukur kegiatan kampus. “Kami mendorong dosen menghasilkan penelitian yang aplikatif agar manfaatnya dirasakan langsung masyarakat. Ketika dosen terjun ke lapangan, mahasiswa pun ikut belajar agar tak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial,” katanya dalam kesempatan terpisah ketika menegaskan orientasi riset berdampak bagi publik. Pernyataan ini linier dengan arah kebijakan IKN yang memadukan pemulihan ekosistem, ekonomi hijau, dan keberlanjutan sosial, sebagaimana dipetakan oleh OIKN dalam strategi menuju netral karbon.

Dari sisi tata kelola, UNNES menyebut partisipasi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) serta unit-unit lain dalam aksi di IKN sebagai wujud bahwa pendidikan, kebudayaan, dan lingkungan saling terhubung. Pendekatan lintas disiplin ini mulai dari seni, pendidikan, hingga sains menjadi pintu masuk membangun komunitas pembelajar yang sadar lingkungan. “Gerakan konservasi akan kuat bila menjadi kebiasaan kolektif,” ujar salah satu pimpinan fakultas dalam keterangan tertulis.

Di tingkat kebijakan nasional, fokus pada penanaman kembali dan perluasan penutup hijau memang menjadi bagian dari target pemerintah. ANTARA melaporkan target pembagian 17 juta bibit pohon kepada masyarakat hingga akhir 2025 sebagai insentif partisipasi publik dalam pemulihan lingkungan. Arah kebijakan ini turut menegaskan bahwa program penghijauan IKN membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi.

Langkah UNNES yang mengawinkan aksi lapangan (penanaman pohon) dan diplomasi akademik (MoU dengan PSU) juga mempertegas ciri kampus sebagai aktor pengetahuan yang bekerja pada dua ranah sekaligus: ekologi dan jejaring global. Di satu sisi, keterlibatan langsung di IKN menghadirkan manfaat ekologis yang terukur; di sisi lain, kemitraan internasional memperluas akses riset, pertukaran dosen–mahasiswa, publikasi bersama, hingga pengembangan kurikulum berbasis keberlanjutan. Hal ini sejalan dengan pengalaman forum CUPT–CRISU yang menempatkan IKN bukan hanya sebagai proyek infrastruktur, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi akademik Indonesia–Thailand.

UNNES sendiri sudah lama memantapkan identitas “Kampus Konservasi”. Dikutip dari laman konser­vasi UNNES dan profil kampus, pendekatan konservasi menjadi perspektif gerak tridharma pelestarian sumber daya alam–sosial budaya, efisiensi energi, hingga budaya akademik hijau. Identitas itu diperkuat kehadiran Subdirektorat Konservasi yang mengoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi agenda konservasi kampus.

Pada akhirnya, aksi tanam pohon di IKN dan penguatan kemitraan internasional menjadi dua wajah yang saling melengkapi. Yang satu memulihkan lanskap ekologis Kalimantan Timur sebagai rumah bagi IKN; yang lain membuka lanskap kolaborasi lintas negara agar pengetahuan, teknologi, dan inovasi bergerak lebih cepat menurunkan emisi serta meningkatkan kualitas hidup warga.

“Konservasi lingkungan adalah komitmen yang kami jalankan dari kampus, untuk kota, dan untuk dunia,” tegas Prof. S Martono. Dengan begitu, kontribusi UNNES bukan hanya menyumbang pohon pada ekosistem IKN, melainkan juga menyemai jaringan pengetahuan agar visi kota di dalam hutan benar-benar berakar dan berbuah dari Semarang, Hat Yai, hingga Nusantara.

Sumber: unnes.ac.id