Konten dari Pengguna

Dari Sampah Sayur Jadi Maggot, TTG UMY Diterapkan di Pesantren Asy Syifa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Krisdiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampah organik dari rumah tangga maupun pasar kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan. Padahal, jika dikelola dengan tepat, limbah tersebut dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Hal inilah yang coba dikembangkan oleh tim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui program pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Asy Syifa Muhammadiyah Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Program bertajuk “Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Pengelolaan Produksi Maggot yang Higienis di Ponpes Asy Syifa Muhammadiyah Bambanglipuro” tersebut dipimpin oleh Krisdiyanto, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Program Studi Teknik Mesin UMY bersama tim pengabdi dan mitra pesantren. Kegiatan ini dilaksanakan dalam skema PKM Reguler dan berlangsung pada 2025–2026.

Proses penyuluhan budidaya maggot. Dok. Pribadi

Salah satu fokus kegiatan adalah memperkenalkan pengelolaan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai alternatif dalam mengurangi limbah organik. Maggot memiliki kemampuan mengonsumsi berbagai bahan organik sehingga berpotensi membantu proses pengolahan sampah sekaligus menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

Mengubah Sampah Sayuran Menjadi Pakan Maggot Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan pengujian terhadap 10 jenis limbah sayuran yang umum ditemukan di masyarakat, yaitu kangkung, sawi, kubis, bayam, daun singkong, kacang panjang, wortel, terong, mentimun, dan campuran berbagai limbah sayuran.

Sebanyak 25 gram larva maggot berumur lima hari digunakan pada setiap perlakuan. Masing-masing kelompok diberi 500 gram limbah sayuran dan dipelihara hingga larva berusia 14 hari. Pengujian dilakukan dalam tiga ulangan dengan kondisi lingkungan yang dijaga agar tetap teduh dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan pertumbuhan maggot berdasarkan jenis limbah sayuran yang digunakan. Kangkung memberikan hasil paling tinggi. Dari biomassa awal 25 gram, berat maggot mencapai 132 gram pada hari ke-14, atau mengalami peningkatan sebesar 107 gram.

Sawi juga menunjukkan hasil yang tinggi dengan berat akhir 128 gram. Sementara itu, limbah sayuran campuran menghasilkan 130 gram, mentimun 124 gram, bayam 121 gram, dan kubis 118 gram.

Proses praktek budidaya maggot. Dok. Pribadi.

Sebaliknya, daun singkong dan kacang panjang menghasilkan pertumbuhan yang lebih rendah, masing-masing mencapai 82 gram dan 88 gram pada hari ke-14. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kandungan serat dan tekstur bahan yang lebih sulit dicerna oleh larva.

Bukan Sekadar Budidaya Maggot

Program pengabdian UMY ini tidak berhenti pada pengujian jenis pakan. Tim juga memperkenalkan pengelolaan produksi maggot yang lebih terstruktur dan higienis kepada mitra.

Teknologi tepat guna menjadi bagian penting dalam program tersebut. Tim memberikan perangkat pendukung pengelolaan sampah dan peralatan untuk pemeliharaan serta proses pendewasaan maggot. Selain itu, kegiatan juga dilengkapi dengan modul dan pelatihan agar pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh pihak pesantren.

Pada Mei 2026, program tersebut dinyatakan telah selesai dilaksanakan dengan baik. Tim UMY juga menyerahkan paket peralatan pelatihan maggot untuk pengolahan sampah dan pelatihan penggunaannya kepada Pondok Pesantren Asy Syifa Muhammadiyah Bambanglipuro. Nilai hibah barang yang diserahterimakan tercatat sebesar Rp5,88 juta.

Mendorong Ekonomi Sirkular di Lingkungan Pesantren Program ini memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan maggot. Pemanfaatan limbah sayuran sebagai pakan dapat menjadi salah satu contoh penerapan konsep ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Limbah yang sebelumnya berpotensi menimbulkan bau dan menjadi beban lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi larva BSF. Selanjutnya, biomassa maggot berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, sementara sisa proses budidaya dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengelolaan pupuk organik.

Dalam laporan kegiatan, partisipasi siswa dan masyarakat juga dinilai positif. Peserta memperoleh pengetahuan praktis mengenai budidaya maggot dan pengelolaan sampah organik. Sejumlah peserta bahkan menunjukkan ketertarikan untuk mengembangkan budidaya maggot sebagai kegiatan ekonomi tambahan.

Bagi lingkungan pesantren, pendekatan seperti ini dapat menjadi sarana pembelajaran yang menggabungkan teknologi, kepedulian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi. Para santri tidak hanya mengenal persoalan sampah secara teori, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Dari Teknologi Tepat Guna ke Kemandirian

Pengembangan budidaya maggot di Ponpes Asy Syifa menunjukkan bahwa teknologi tepat guna tidak selalu harus berbentuk mesin atau peralatan yang kompleks. Teknologi dapat hadir dalam bentuk sistem pengelolaan yang sederhana, mudah diterapkan, sesuai kebutuhan masyarakat, dan mampu memberikan manfaat nyata. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa jenis bahan organik yang digunakan sebagai pakan berpengaruh terhadap pertumbuhan maggot. Kangkung, sawi, dan campuran limbah sayuran menjadi beberapa bahan yang memberikan hasil pertumbuhan tinggi dalam pengujian tersebut.

Ke depan, pengembangan budidaya maggot masih dapat diarahkan pada aspek yang lebih luas, seperti analisis kandungan protein, efisiensi konversi pakan, hingga kelayakan ekonomi untuk produksi dalam skala lebih besar.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana membuang limbah, tetapi bagaimana mengubahnya menjadi sumber daya.

Dari pesantren, teknologi sederhana itu berpotensi menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan dapat dihadapi sekaligus dengan pemberdayaan masyarakat dan penciptaan peluang ekonomi