Konten dari Pengguna

Murid “Bandel”, atau Ada Cerita yang Belum Kita Dengar?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari krisentia angelina napitu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik perilaku yang sering dianggap mengganggu, mungkin ada sesuatu yang belum sempat dipahami.

Interaksi Antara Pendidik dan Peserta didik dalam Kegiatan Pembelajaran. Sumber foto : Birleşim Özel Eğitim Rehabilitasyon Merkezi/Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Interaksi Antara Pendidik dan Peserta didik dalam Kegiatan Pembelajaran. Sumber foto : Birleşim Özel Eğitim Rehabilitasyon Merkezi/Unsplash.

“Dia memang bandel dari sananya.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, sebenarnya apa yang membuat seorang anak terlihat seperti itu?

Di dalam kelas, kita mungkin melihat siswa yang sering berbicara ketika guru menjelaskan, sulit mengikuti aturan, atau memilih mengganggu temannya. Dari luar, perilaku tersebut memang mudah terlihat.

Tetapi manusia tidak pernah sesederhana apa yang terlihat.

Seorang siswa datang ke sekolah bukan hanya membawa buku dan alat tulis. Ia juga membawa pengalaman, perasaan, lingkungan, dan cerita yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Dalam Penelitian Daulay (2021) dalam Buletin Psikologi UGM menjelaskan bahwa perilaku maladaptif pada anak dapat dipahami sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan dan dapat berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan serta kondisi anak. Karena itu, perilaku anak perlu dilihat secara lebih menyeluruh, bukan hanya melalui label “nakal” atau “bandel”.

Pada Penelitian Putera, Wahyuni, dan Ariani (2019) juga menemukan adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan masalah perilaku dan emosional pada anak sekolah dasar. Namun, temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap perilaku anak dapat disebabkan oleh satu faktor saja. Perkembangan perilaku anak dapat dipengaruhi oleh berbagai hal.

Yang Terlihat Hanya Permukaannya, Bayangkan sebuah gunung es.. Yang terlihat di permukaan mungkin hanya sedikit. Namun, bagian yang jauh lebih besar justru berada di bawah air.

Begitu pula dengan perilaku seorang siswa.

Kita mungkin hanya melihat ia tidak mau diam. Tetapi kita tidak selalu tahu apa yang sedang ia rasakan. Kita melihat ia sulit mengikuti aturan, tetapi mungkin belum memahami bagaimana ia belajar mengelola dirinya.

Memahami bukan berarti membenarkan.

Aturan tetap penting. Ketegasan tetap dibutuhkan. Tetapi sebelum memberi label, mungkin ada baiknya memberi ruang untuk bertanya: “Ada apa dengan kamu?” bukan hanya, “Kenapa kamu seperti ini?”

Bagi seorang guru, perbedaan kecil dalam cara bertanya mungkin bisa membuka percakapan yang besar. Karena Setiap Anak Sedang Bertumbuh Tidak semua anak tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Ada yang mudah menyesuaikan diri. Ada yang membutuhkan lebih banyak waktu. Ada yang mampu menunjukkan perasaannya dengan baik, sementara yang lain justru menunjukkannya melalui perilaku.

Mungkin tugas seorang guru bukan mengubah semua siswa menjadi sama. Melainkan membantu mereka tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, sambil tetap mengajarkan batas dan tanggung jawab.

Pada akhirnya, seorang siswa mungkin akan lupa banyak hal yang pernah diajarkan di kelas. Tetapi bisa jadi, ia akan mengingat satu guru yang pernah memilih untuk memahami sebelum menghakimi.

Karena terkadang, di balik anak yang disebut “bandel”, ada seorang anak yang sebenarnya hanya sedang mencari cara untuk mengatakan: “Tolong pahami aku.”