Legenda Gunung Inerie dan Gunung Ebulobo
Tulisan dari Krismanuel Pasamboan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di ujung timur Indonesia, di antara samudra luas dan padang sabana yang membentang, tersimpan ribuan cerita tua yang terus dibisikkan dari generasi ke generasi. Di atas tanah Ngada, berdiri pula sebuah gunung yang menjulang tinggi membentuk piramida yang menatap langit dengan wibawa dan keagungan. Gunung itu bernama Inerie. Saat mata memandangnya, orang mungkin berkata, “Seperti Ibu sedang menceritahkan kisahnya sendiri.”
Alkisah, pada zaman dahulu, hiduplah seorang gadis yang keelokan parasnya bagaikan mentari yang terbit dari balik awan. Darinya terpancar kasih sayang, perwujudan seorang ibu sejati, anggun dan agung laksana embun pagi yang meneduhkan.
Namanya Inerie. Putri dari Kepala Suku, ibunya bernama Roka. Ia tumbuh dalam kesederhanaan. Namun, kabar tentang kecantikannya menyebar secepat angin berhembus. Dari mulut ke mulut, orang membicarakan kembang yang sedang mekar itu.
Namanya membuat hati berdebar. Apalagi ketika mata berpapasan, debar itu menjadi kekaguman yang takkan dapat diterangkan dengan kata. Bagi mereka yang berkesempatan bersahutan mulut dengannya, maka khatamlah sudah kekaguman itu: keelokan parasnya, kepandaiannya membawa diri, budi baik, serta adab pada tutur katanya adalah pesonah sesungguhnya.
Hari-hari berlalu, Inerie kian menjadi buah bibir. Hingga, pada suatu hari yang lengang, ketika lumpur sawah masih menelan mata kaki warga kampung dan bayangan tubuh masih tegak, seekor kuda putih menerjang terik matahari. Derap langkahnya mencabik kesunyian. Debu-debu menari di udara, mengekor di belakangnya. Tepat ketika memasuki halaman Sa’o milik Kepala Suku, langkahnya kian melambat, lalu berhenti. Hembusan napasnya yang berat pertanda ia telah berjalan menuruni lembah dan mendaki bukit. Tak ada hiruk-pikuk, desiran angin mengibaskan ranting-ranting pohon dan mengelus atap jerami. Dalam satu lompatan yang terkukur, kaki penunggang kuda menapak di atas tanah.
Entah apa pangkal sebabnya, saat ia menjejak di atas bumi, seketika ia gemetar. Bulu kuduknya berdiri tegak seakan ada bisikan tentang bahaya yang mengintai. Sengat matahari membawa udara panas yang membakar jiwanya. Suara angin seakan membawa pesan hidup dan mati.
“Baiklah, jika ini adalah perjalanan takdir, maka aku menjemputnya,” Ebulobo membatin.
Sebuah dentingan memecah kesunyian, ada suara ranting yang patah di antara daun kering dari balik pohon lontar. Dari sana, seorang anak kecil tampak mengintip. Ia melihat laki-laki gagah dengan kulit legam, ciri khas mereka yang terbiasa dengan panasnya matahari, tubuhnya tegap, bahu bidang, seperti tembok batu yang tak tergerus. Wajahnya yang masih diliputi debu, pertanda ia telah menempuh perjalanan yang jauh.
Sekali lagi, anak itu menginjak ranting, kini disertai suara gemericik daun lontar. Ebulobo kini menyadari kehadirannya, tetapi sebelum ia menoleh, anak itu sudah berlalu.
Di kejauhan, tampak kepulan asap membubung tinggi dari jerami yang terbakar. Gemericik aliran air dari irigasi tua terdengar berpadu dengan nyanyian burung pipit di udara.
Di atas sepiring sawah, sabit Mama Roka dan Bapak Kepala Suku memantulkan cahaya matahari. Begitu pula dengan Inerie, lumpur di kakinya kian menegaskan langkanya yang anggun tetapi pekerja keras. Ah, gadis cantik itu seperti tak termakan di hujan dan tak lekang di panas. Memandanginya terasa seperti tersiram air kehidupan yang menyegarkan.
Tiba-tiba teriakan anak kecil bergema. “Mama Rokaaa! Kakak Inerieeee!”
Sepasang kaki mungil menerjang lumpur sawah “Bapak, di Sa’o ada tamu!” ujarnya anak itu dengan napas tersengal.
Semua sabit berhenti berayun.
“Tarik dahulu napasmu, Nugi, Kau berbicara seperti ombak yang berkecamuk,” ucap Mama Roka
“Di Sa’o ada tamu Mama, sepertinya datang dari jauh. Naik kuda putih yang sangat besar,” ucap Nugi sembari membentangkan tangan, kini udara telah memenuhi paru-parunya.
Bapak Kepala Suku dan Mama Roka beradu pandangan. Mereka kemudian melirik ke Inerie yang tangannya tampak melepas beberapa tangkai padi, kepalanya tertunduk, pipinya seperti tomat yang baru di petik dari tangkai.
“Kuda putih,” ucap Bapak Kepala Suku. Kuda putih tentu bukan kendaraan biasa.
“Roka, pulanglah dahulu, sambut tamu kita. Sampaikan salamku,” Suara seraknya mempertajam perintah.
Mama Roka mengangguk.
Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu orang yang luput dari pandangan, namanya adalah Masi. Mendengar kabar kedatangan tamu, ia menghela napas panjang seakan memompa udara keluar dari paru-parunya. Dari luar ia tetap tampak seperti danau tanpa riak. Namun, barang siapa yang mampu melihat, melebihi apa yang dapat dijangkau oleh mata manusia, akan tahu bahwa hatinya bergejolak.
Masi, pengawal Inerie, mendengar kabar kedatangan Ebulobo seperti petir yang menyambar di siang bolong. Hatinya telah lama terikat pada sosok yang mustahil disentuhnya itu. Baginya, setiap sayatan sabit Inerie pada sebatang padi terdengar seperti alunan foydoa yang merdu. Ia bahkan dapat menghitung setiap langkah Inerie di pematang sawah itu. Namun, ia tidak akan berkata-kata; tarikan napasnya, dan detak jantungnya adalah cinta itu sendiri, cinta baginya hanya kesunyian.
Di tempat Nugi berdiri tadi, Mama Roka sejenak menghela napas. Dari sana sudah tampak kudah putih yang diceritakan. Ia berpikir sejenak sebelum menemui tamunya. Demikianlah mereka yang bijak, kepalanya selalu tiba lebih dahulu sebelum tubuhnya.
Angin sore bertiup pelan menuju Sa’o, mengiringi langkah Mama Roka bersama bau lumpur dan wangi padi yang baru dipotong. Kini makin jelas, bukan saja kuda putih besar yang dilihatnya, tetapi laki-laki gagah kini berdiri tepat di depannya.
“Selamat sore, Mama,” ucap Ebolobo, mendahului.
“Selamat sore, Nak,” jawab Mama Roka
Mata Mama Roka yang jeli menangkap sekeliling. Selain kuda putih, sapu-lu’e (sarung tenun di pingang) yang mahal, Boku di atas kepalanya, serta kalung emas dan gelang perak semuanya menandakan Ebulobo bukan orang biasa.
“Jauh perjalananmu, Nak. Maafkan kami tak menyambutmu dengan layak,” ucap Mama Roka sambil mempersilakan masuk ke dalam Sa’o.
Ebulobo mengangguk, sambil ikut melangkah masuk.
Tikar anyam dari daun pandan terpasang di lantai. Ebulobo duduk bersila. Mama Roka membuka kotak besi tua berisi buah pinang serta buah dan daun sirih, santapan pembuka yang biasa disajikan. Beberapa percakapan ringan mengiring sore itu – tentang cuaca, ladang dan sawah. Mama Roka menyimpan pertanyaan serius untuk sore nanti. Ebulobo menyadari itu.
Waktu berlalu, matahari telah berpulang ke peraduannya, kerajaan malam kini berkuasa penuh. Bapa Kepala Suku, Mama Roka, para tetua adat telah duduk di atas tikar anyam. Seorang diantaranya tampak lebih tua, dengan kerut wajahnya melambangkan asam garam kehidupan yang telah ditelan habis, dialah sang juru bicara. Inerie di ruangan terpisah. Be’o Sa’o segera dimulai.
Bapak Kepala Suku membuka pembicaran, “Kami menghormati perjalananmu yang jauh, anak muda,” suaranya yang serak bergema.
“Siapakah namamu, dari manakah kamu datang, dan niat hati apakah yang membawamu kemari?” lanjutnya.
“Aku Ebulobo, anak dari kepala suku di hulu sungai, aku meninggalkan tanah kelahiranku hingga di tempat ini... ” Ebulobo berhenti sejenak, kepalanya menengadah, meminta ilham dan restu dari langit sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Aku datang hendak mendirikan dapur bersama Inerie.”
“Mulia rupanya kedatanganmu, anak muda. Hendak mencari penghidupan rupanya. Puteri kami Inerie adalah warisan dari tanah dan langit. Menghargainya seperti menghargai tanah leluhur kami ini. Karena itu belis yang kami minta adalah sepuluh gading gajah yang panjangnya mulai dari kepala hingga menyentuh pusar dan dua puluh ekor kerbau”
Seketika rasanya udara ditarik paksa dari paru-paru Ebulobo. Satu gading gajah adalah harta yang langka, kini yang diminta adalah sepuluh, dan panjangnya harus menyentuh pusar. Bukan itu saja, dua puluh kerbau jantan adalah kekayaan yang bahkan dapat membangun sebuah perkampungan baru.
Ebulobo pun berkata, “Adakah kehadiranku diterima dengan tangan terbuka, atau tertutupkah pintu rumah yang hendak aku masuki?”
Dengan tenang juru bicara menjawab, “Ini bukan sekadar harga untuk kecantikan paras, anak muda. Tetapi kau hendak meminang rahim agung tanah kami. Ini harga yang sepadan.”
Mama Roka terus memandangi Ebulobo. Matanya mencari: kemarahan, keraguan, ketulusan, atau bahkan kebenciankah yang akan tersirat.
Angin topan berkecamuk dalam diri Ebulobo seiring kulit legamnya menjadi kemerahan. Harga itu jelas menghinanya. Tetapi kembali dengan tangan hampa jelas lebih menghinakan. Mustahil baginya untuk mengiyakan, namun harga dirinya tak mungkin menolak.
“Harga itu jelas melampaui kemampuan siapa pun,” suaranya meninggi. “Tetapi kehadiranku pun diringi kehormatan. Beri aku waktu. Jika langit menghendaki aku akan kembali dengan belis yang diminta.”
Pembicaraan ini nyaris mencapai ujungnya. Pihak keluarga besar Inerie menerima tawaran Ebulobo. Memberi waktu adalah jalan tengah dari pembicaraan malam itu.
“Baiklah, kami memberikanmu waktu,” kata Bapa Kepala Suku mengakhiri pertemuan. “Mengingat perjalananmu yang jauh, beristirahat dahulu di sini, pulihkan dahulu rasa lelahmu sebelum kembali.” Pertemuan itu pun berakhir.
Pagi-pagi benar, Inerie duduk menjaga padi yang sedang dijemur di depan Sa’o. Panas matahari menerpa bahunya, namun yang sampai di dadanya adalah belis yang menanti untuk ditebus. Masi menghampiri, duduk tepat di sampingnya. Tangan Masi mulai mengupas buah pinang. Hanya ada suara beberapa ekor ayam yang mengintai butiran padi.
“Adakah saya menjadi beban bagi orang lain, Masi?” ujarnya lirih.
Masi tahu betul Inerie bukan mengharap jawaban seketika, melainkan yang dapat bergema dalam hatinya. Masi membungkus sehelai daun sirih, yang telah ditaburi kapur bersama buah pinang, lalu menyerahkannya pada Inerie. Ia menunggu hingga Inerie menerimanya sebelum ia bicara.
Masi menjawab “Nona, harga yang diterapkan adalah bukti agungnya dirimu. Bukan untuk meminta harta, apalagi menjual namamu. Mama Roka, Bapak Kepala Suku, dan para tetua hendak menunjukkan nilai dirimu yang tiada tertakar.”
Inerie mengangguk pelan; Ini bukan tentang menjual atau membeli. Jika Ebulobo merasa harga dirinya tercabik oleh sepuluh gading gajah, bukankah hatinya pun akan robek jika yang diminta hanya beberapa ekor babi?
Inerie tahu betul mata Masi tidak pernah benar-benar lepas darinya. Ketika tangannya mengupas buah pinang, ketika ia di sawah dan ladang, semuanya seakan hanya meminjam tangannya, sebab Inerielah yang tampak di balik bola matanya. Inerie membiarkannya.
Dari balik jendela Ebulobo mengintip. Melihat Masi bersama Inerie bagaikan belati yang menancap di dadanya. Belum berlalu belis itu dari benaknya, kini datang pula tembok besar lainnya.
Waktu berlalu, udara tidak lagi terik, namun belum juga sejuk. Suara alu dan lesung telah ramai di telinga. Padi-padi telah tersusun rapi dalam lumbung, bayangan tubuh kini memanjang.
Inerie sedang bergelut dengan alat tenunnya, di atas beranda dari bambu dengan atap daun lontar dan ilalang kering. Seperti biasa Masi duduk di sampingnya dengan bayangan Inerie tampak jelas dalam bola matanya.
Dalam betul tatapan itu. Ketika cahaya mentari menyiram wajahnya, di mata Masi kilauannya lebih bersinar dari permata mana pun. Ingin rasanya Masi teriak pada angin sore yang sesekali menghempaskan rambut Inerie, tetapi tak ada kata yang terucap; hanya suara daun lontar yang diterpa angin dan suara alat tenun yang terdengar.
Inerie menyadari tatapan Masi, sesekali ia menghentakkan alat tenunnya, suara itu membuyarkan Masi. Dari bibirnya yang tipis kadang tampak senyuman kecil. Entah apa yang terjadi, hanya mereka yang dapat menjawabnya. Sekali lagi tak ada kata yang terucap, tetapi demikianlah, kadang diam adalah suara itu sendiri.
Malangnya, petaka akhirnya tiba bersama maut yang mengiringinya.
Dari balik pohon lontar yang menjulang tinggi, Ebulobo memandangi mereka berdua. Sejak pagi ia telah menyimpan curiga. Langit seakan menghitam di atas kepala Ebulobo. Kulit tampak semerah darah. Api yang dipercikkan oleh belis itu kini berkobar ditiup angin kecemburuan. Dengan tangan yang gemetar, dicabutnya pedang dari sarungnya dan melangkah menuju beranda.
Masi menyadari kehadiran Ebulobo, bersama pedang terhunus yang hendak ditebaskan padanya. Tetapi tak sedikit pun ketakutan mampir dalam dirinya. Sekalipun maut merengkunya, jiwanya akan abadi bersama cinta yang dipendamnya.
“Belum cukupkah kiranya kalian regas harga diriku dengan yang belis tiada terkira dan kini kau patahkan pula pucuk pengharapanku?” ujarnya lantang. “Dan kau Masi, turunlah dari beranda itu. Biarlah langit menjadi saksi siapa yang dapat memiliki Inerie,” sambungnya.
Masi melompat dari atas beranda, sebilah pisau di tangannya menantang pedang milik Ebulobo. Awan hitam memenuhi langit, tanah bergetar, dua anak muda yang sama perkasanya beradu ilmu dan kesaktian. Seketika percikan api tampak dari dua logam di udara.
Warga kampung ketakutan. Pintu-pintu dan jendela ditutup rapat. Tangan para ibu mendekap mata dan telinga anak-anak agar tak melihat dan mendengar. Suara tangis Mama Roka menggemah. Di atas beranda, Inerie berdiri kaku. Kepala Suku hanya dapat menundukkan kepala.
Pertarungan terus berlanjut. Kini keduanya telah terluka parah. Akhirnya, Saat Masi hendak menancapkan pisaunya tepat di jantung Ebulobo, sebuah tebasan pedang mendarat di lehernya. Masi akhirnya tumbang.
Inerie melompat meraih Masi. Air matanya mengalir deras, teriakannya bergema.
Dibutakan oleh harga diri dan kecemburuan, Ebulobo sekali lagi mengayunkan pedangnya. Kini Inerielah yang dituju. Beruntung Inerie berhasil menghindar. Entah kekuatan apa yang menggerakkan tangan Inerie, ia meraih pisau milik Masi. Dalam satu ayunan tangan, pisau itu terlempar, mendarat tepat di jantung yang tadi hendak ditusuk oleh Masi. Ebulobo pun ikut terkapar.
Seketika langit menjadi gelap. Awan hitam datang entah dari mana. Angin mengguncang dedaunan, dentuman suara petir bergema diiringi kilat yang menyambar. Tanah bergetar, tepat di tempat Inerie, Masi dan Ebulobo berada.
Kabut tebal menyelimuti, Inerie di dalamnya. Bumi memeluknya tubuhnya dengan erat; tampak kian memudar, dalam damai, ketenangan, ia mengudara. Sementara itu, jiwanya terangkat jauh menyatu dengan puncak gunung yang kini disebut Gunung Inerie, gunung yang melambangkan ibu yang agung. Di sanalah ia bersemayam.
Tubuh Ebulobo berubah menjadi gundukan tanah yang semakin membesar dan kian meninggi, dengan lubang menganga di dadanya. Demikianlah muncul gunung yang kini disebut Gunung Ebulobo, dengan lubang besar di puncaknya yang terus mengeluarkan asap.
Sementara tubuh Masi dalam ratapan dan cintanya, membatu, kokoh layaknya cinta pada Inerie. Ia kini terletak di sebelah selatan Gunung Inerie. Menjaga pujaan hatinya di atas puncak, menjaga arwah para leluhur yang bersemayam di Gunung Inerie. Sebuah batu besar bernama Jaramasi kini di sana.
Di atas tanah Ngada, di bawah langit yang sama, Inerie, Ebulobo, dan Masi tetap abadi. Demikianlah kisah legenda ini terus dihidupkan melalui mereka yang mendongengkannya di lereng gunung. Mengisahkan petuah tentang, kehidupan, kebijaksanaan, tradisi, cinta, pengorbanan dan harga diri yang tak lekang oleh waktu.
Selesai.

