Konten dari Pengguna

Tren Media Sosial Lebih Menarik Dibanding Belajar? Ini Alasanya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Krispinus Iman Putra Ndruru tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI

Pernahkah kita membuka TikTok hanya untuk menonton satu video, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa menyadarinya? Awalnya mungkin hanya ingin mencari hiburan. Namun, satu video membawa kita ke video berikutnya, tren baru, dan berbagai konten yang terus muncul. Ketika berhenti, waktu sudah berlalu cukup lama, sementara pekerjaan atau kegiatan belajar yang seharusnya dilakukan justru tertunda.

Fenomena ini patut menjadi bahan renungan. Di tengah kemudahan teknologi dan akses informasi, kita memiliki kesempatan yang semakin luas untuk belajar. Akan tetapi, kesempatan tersebut tidak selalu dimanfaatkan dengan baik. Sebagian dari kita justru lebih sibuk mengikuti tren yang sedang viral daripada mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.

Ketika Kemudahan Informasi Tidak Diikuti Kemauan Belajar

Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Jika dahulu seseorang harus datang ke perpustakaan atau membeli buku untuk mempelajari sesuatu, sekarang banyak materi dapat diakses melalui internet. Kita bisa belajar bahasa asing, memahami ilmu ekonomi, membaca buku digital, bahkan mengikuti perkuliahan secara daring melalui telepon genggam.

Besarnya peluang ini juga terlihat dari penggunaan media digital di Indonesia. DataReportal dalam laporan Digital 2025: Indonesia memperkirakan terdapat 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2025. Laporan tersebut juga mencatat bahwa TikTok memiliki potensi jangkauan iklan sebesar 108 juta pengguna dewasa di Indonesia pada periode yang sama. Angka jangkauan iklan ini bukan jumlah pasti pengguna aktif, tetapi cukup menggambarkan luasnya jangkauan platform tersebut.

Data tersebut tidak membuktikan bahwa masyarakat menjadi malas belajar akibat media sosial. Namun, data itu menunjukkan bahwa teknologi digital memiliki jangkauan yang besar. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana kita memanfaatkan kemudahan tersebut: apakah untuk memperluas pengetahuan, atau hanya untuk mengisi waktu dengan hiburan? Informasi yang mudah diperoleh tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih berpengetahuan. Kita tetap perlu memiliki kemauan untuk mencari, membaca, memahami, dan mengevaluasi informasi. Tanpa usaha tersebut, kemajuan teknologi hanya menjadi kemudahan yang belum tentu menghasilkan perkembangan diri.

Ilustrasi AI

Mengapa Tren Terasa Lebih Menarik daripada Belajar?

Salah satu alasannya adalah perbedaan antara hiburan dan proses belajar. Konten hiburan dapat memberikan kesenangan dengan cepat, sedangkan belajar sering kali membutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan pengulangan. Ketika mengikuti tren, kita dapat langsung menikmati video yang lucu, menarik, atau sedang ramai dibicarakan. Sebaliknya, ketika membaca buku atau mempelajari konsep yang sulit, kita harus menyediakan waktu untuk memahami isi materi. Hasilnya pun tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.

Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah memilih aktivitas yang memberikan kesenangan langsung daripada kegiatan yang manfaatnya baru terasa setelah beberapa waktu. Jika kebiasaan ini terus berulang tanpa pengendalian, belajar dapat terasa seperti beban, sementara membuka media sosial menjadi pilihan otomatis setiap kali merasa bosan.

Bayangkan seorang mahasiswa yang berniat belajar selama satu jam. Sebelum mulai, ia membuka TikTok sebentar. Satu video berubah menjadi puluhan video, kemudian muncul tren yang ingin ia ikuti. Tanpa disadari, waktu belajarnya berkurang atau bahkan tidak terlaksana. Contoh tersebut bukan berarti setiap pengguna TikTok mengalami hal yang sama. Namun, situasi itu memperlihatkan bagaimana penggunaan media sosial tanpa batas yang jelas dapat mengganggu prioritas. Masalahnya bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan telepon genggam, melainkan apakah penggunaan tersebut membuatnya mengabaikan tanggung jawab dan tujuan yang lebih penting.

Masalahnya Bukan TikTok, Melainkan Cara Kita Menggunakannya

Menyalahkan TikTok sepenuhnya bukanlah jalan keluar. Media sosial juga dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat. Banyak konten kreator membagikan pengetahuan tentang pendidikan, bahasa asing, sejarah, keterampilan kerja, dan berbagai topik lainnya.

Seseorang bahkan dapat memanfaatkan video singkat untuk mendapatkan pengantar sebelum mempelajari materi yang lebih mendalam. Dengan memilih konten secara tepat, media sosial dapat membantu memperluas wawasan dan mendorong seseorang untuk belajar lebih jauh.

Namun, ada perbedaan antara melihat informasi dan benar-benar mempelajarinya. Menonton video tentang suatu materi tidak selalu berarti kita memahami isinya. Pengetahuan membutuhkan proses berpikir, pemeriksaan kebenaran informasi, latihan, dan penerapan. Karena itu, kita perlu mengubah cara memandang teknologi. Jangan hanya bertanya, “Apa yang sedang viral hari ini?” tetapi tanyakan juga, “Apa yang bisa saya pelajari hari ini?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita menjadi pengguna teknologi yang lebih sadar akan tujuan.

Jangan Menunggu Motivasi untuk Mulai Belajar

Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan adalah menunggu munculnya motivasi sebelum mulai belajar. Kita ingin merasa bersemangat terlebih dahulu, padahal semangat tidak selalu datang setiap hari.

Belajar sebaiknya dibangun melalui kebiasaan kecil yang realistis. Tidak perlu langsung membaca satu buku dalam sehari atau belajar berjam-jam. Kita dapat memulainya dengan membaca beberapa halaman buku, mempelajari lima kosakata bahasa Inggris, atau meluangkan 20 menit untuk memahami satu materi.

Langkah kecil tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, kita memiliki kesempatan untuk membangun kebiasaan belajar yang lebih kuat. Waktu yang sebelumnya habis tanpa tujuan juga dapat dialihkan sedikit demi sedikit untuk kegiatan yang bermanfaat. Selain itu, kita dapat menetapkan batas waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi saat belajar, dan menyelesaikan tugas penting sebelum menikmati hiburan. Tujuannya bukan melarang diri sendiri bersenang-senang, melainkan memastikan bahwa hiburan tidak mengambil alih seluruh waktu dan perhatian kita.

Kita juga perlu berhenti mengukur perkembangan diri hanya berdasarkan apa yang sedang populer. Mengikuti tren mungkin membuat kita merasa terhubung dengan lingkungan sosial, tetapi kemampuan berpikir, pengetahuan, dan keterampilan merupakan bekal yang dapat terus kita kembangkan untuk menghadapi berbagai tantangan.

Jangan Sampai Sibuk Mengikuti Tren, tetapi Lupa Bertumbuh

Mengikuti tren bukanlah kesalahan. Kita tetap membutuhkan hiburan, interaksi sosial, dan waktu untuk beristirahat. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika kita selalu memiliki waktu untuk mengikuti tren, tetapi merasa terlalu sibuk untuk membaca, belajar, atau mengembangkan kemampuan diri.

Kita hidup pada zaman ketika pengetahuan dapat dijangkau dengan lebih mudah. Kesempatan untuk belajar tersedia dalam berbagai bentuk, tetapi kesempatan itu tetap membutuhkan kemauan untuk dimanfaatkan. Teknologi dapat menyediakan informasi, tetapi keputusan untuk mempelajarinya berada di tangan kita.

Pada akhirnya, tren akan terus berganti. Apa yang ramai hari ini mungkin terlupakan beberapa minggu kemudian. Sementara itu, pengetahuan dan keterampilan yang kita bangun melalui proses belajar dapat menjadi bekal untuk menghadapi masa depan. Jadi, sebelum kembali menggulir layar untuk mengikuti tren berikutnya, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hari ini kita hanya menghabiskan waktu, atau juga melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri?