Langgar Gambar Hadirkan Permainan Gasing: Refleksi Dinamika Kehidupan Perkotaan

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, penggemar no na.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kristiani Kundimang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“MAINKAN SAJA GASINGNYA, BIAR RAMAI” merupakan tulisan yang menyambut pengunjung saat mendekati instalasi interaktif "Petarung dalam Jejak Putaran" dalam pameran "Kebangkitan Gambar - Menggambar Kebangkitan" yang berlangsung pada 18-25 Mei di Galeri R. J. Katamsi ISI Yogyakarta. Karya tersebut dipersembahkan oleh komunitas Langgar Gambar untuk mengundang para pengunjung memainkan gasing yang terdapat di tengah miniatur-miniatur perkotaan. Karya ini berusaha merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat perkotaan.
Pameran ini diadakan untuk menjadi bagian dari upaya dalam menyambut disahkannya Mei sebagai Bulan Indonesia Menggambar dalam kalender nasional. Diikuti oleh 187 peserta dari 86 komunitas yang berasal dari seluruh Indonesia. Salah satu peserta pameran ini adalah Kevien Hermon Abast (24), mahasiswa ISI Yogyakarta asal Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Ia memaknai "Kebangkitan Gambar - Menggambar Kebangkitan" sebagai kesadaran kolektif akan gambar yang harus tetap ada dan dilestarikan karena seni gambar sudah menjadi bahasa visual sebelum manusia mengenal tulisan. “Dengan adanya tema ini, kami mempunyai tujuan yang sama, yaitu menjadikannya sarana untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang pentingnya menggambar, sehingga tumbuh kesadaran kolektif menggambar,” ujarnya.
Pemaknaan tersebut, Kevien wujudkan bersama teman-temannya dari komunitas Langgar Gambar, yaitu Adam Ar Rizki, Alvi Alatas, Arus Siang, Bintang Sri Rotua, Lalu Rama, dan Addini Firmanda. Karya mereka dapat ditemukan di lantai satu galeri. Instalasi tersebut memadukan gambar visual dikelilingi miniatur gedung perkotaan dan di bagian tengah terdapat permainan gasing. Langgar Gambar berusaha mengangkat isu sosial melalui dinamika kehidupan perkotaan.
Gasing dipilih dari banyaknya permainan karena memiliki kedekatan dengan memori masa kecil yang akrab dengan banyak orang. Langgar Gambar bereksperimen merepresentasikan kehidupan kota bersama dinamikanya melalui gasing diibaratkan sebagai manusia. Berputar kencang, bersenggolan, kalah, lalu bergerak lagi. Chaos. Ketika dilihat secara cepat seperti rangkaian dinamika yang terus bergerak. Jika ritme diperlambat dalam rentang waktu yang panjang, akan terlihat jejak-jejak yang membentuk pola estetika tersendiri sehingga mampu membuka cara pandang lain.
Mereka sengaja menempatkan tulisan “MAINKAN SAJA GASINGNYA, BIAR RAMAI” di dekat kotak berisi gasing warna-warni sebagai ajakan bagi siapa saja yang berkunjung untuk berpartisipasi dalam karya mereka. Harapannya, karya tersebut menjadi ruang temu yang saling menghubungkan manusia satu dengan yang lain dan menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan, serta memberikan dampak mendalam dalam pembentukan karakter sosial melalui media permainan.
Kevien mengungkapkan karya tersebut lahir dari gagasan yang berangkat melalui pengamatan setiap anggota Langgar Gambar terhadap kehidupan perkotaan. Ia sendiri menyumbang pemikirannya mengenai masyarakat urban. Baginya, keikutsertaannya dalam pameran ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, menambah pengalaman, dan memperluas relasi seni. Kevien berharap seni tidak lagi dikesampingkan, melainkan sudah menyatu dengan masyarakat sebagai warisan turun temurun yang tidak pernah berkesudahan tetapi berkembang. "Ini untuk mendukung peran mempertahankan identitas bangsa dan budaya," jelasnya.
