Konten dari Pengguna

Hedonisme Mahasiswa: Ketika Gaya Hidup Menggerus Etika

Kristin Danda Yuliani Lingga

Kristin Danda Yuliani Lingga

Mahasiswi Manajemen Universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kristin Danda Yuliani Lingga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi gaya hidup hedon (sumber: https://disapedia.com/wp-content/uploads/2025/07/Gaya-hidup-hedon-memang-menawarkan-godaan-yang-besar-terutama-di-tengah-gempuran-media-sosial-dan-budaya-konsumerisme.jpg)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gaya hidup hedon (sumber: https://disapedia.com/wp-content/uploads/2025/07/Gaya-hidup-hedon-memang-menawarkan-godaan-yang-besar-terutama-di-tengah-gempuran-media-sosial-dan-budaya-konsumerisme.jpg)

Hidup sebagai mahasiswa dahulu identik dengan kesederhanaan. Kos-kosan sederhana, warung makan murah, dan rutinitas harian yang terukur sudah cukup. Namun kini, gambaran itu bergeser. Hedonisme mulai mengakar di kalangan mahasiswa, menuntut mereka tampil glamor, eksis di media sosial, dan mengikuti gaya hidup yang tidak selalu sesuai kemampuan finansial. Fenomena ini bukan sekadar soal konsumsi, tetapi juga menggeser nilai-nilai etika yang seharusnya menjadi pondasi kehidupan.

Hedonisme dan Gaya Hidup Mahasiswa Modern

Generasi mahasiswa saat ini cenderung mengukur status sosial dan eksistensi melalui barang dan pengalaman. Media sosial mempercepat fenomena ini. Unggahan tentang fashion terbaru, nongkrong di kafe estetik, liburan singkat, hingga “coffee aesthetics” menjadi standar pergaulan. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa harus mengikuti arus agar tetap diterima dalam kelompok sosial. Secangkir kopi mahal atau foto di kafe keren bukan lagi sekadar minuman atau tempat nongkrong; ia menjadi bahasa visual yang menandai identitas.

Kebiasaan ini mencerminkan pola hidup yang konsumtif dan hedonistik: memburu pengalaman yang instan, menempatkan gaya hidup lebih tinggi daripada kemampuan finansial, dan menomor-duakan substansi pribadi. Fenomena ini juga berdampak pada psikologi mahasiswa: tekanan sosial untuk selalu “tampil” dapat memicu stres, kecemasan, bahkan perilaku mengambil jalan pintas demi mempertahankan citra.

Dampak Hedonisme terhadap Etika Mahasiswa

Masalah terbesar muncul ketika hedonisme mulai menggerus etika. Banyak mahasiswa yang seharusnya memegang nilai integritas akademik justru mengabaikannya demi mempertahankan citra. Contoh nyata terlihat dari kasus mahasiswa di Bandung pada 2023 yang kedapatan menggelapkan dana organisasi kampus untuk membiayai gaya hidup mewahnya. Kapolsek Coblong, AKP R. Rachmad Hidayat, mengatakan, “Pelaku mengaku tertekan karena merasa harus tampil sama seperti teman-temannya yang hidup serba enak.”

Kutipan ini menunjukkan bahwa hedonisme bukan sekadar konsumsi; ia bisa mendorong perilaku melanggar etika dan hukum. Mahasiswa menjadi lebih peduli pada citra luar daripada integritas diri. Plagiarisme, kecurangan akademik, atau pengelakan tanggung jawab adalah bentuk nyata bagaimana hedonisme dapat memengaruhi moral. Ketika gaya hidup menjadi ukuran nilai diri, etika pun terkikis.

Sebagai mahasiswa, saya percaya ada beberapa cara untuk menyeimbangkan hidup: pertama, membangun kesadaran diri tentang batas kemampuan finansial. Tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua pengalaman harus dibeli. Kedua, memilih lingkungan pergaulan yang sehat: teman yang menghargai karakter lebih dari label barang. Ketiga, kampus harus lebih proaktif dalam menanamkan pendidikan karakter, bukan sekadar teori, tetapi praktik melalui diskusi, kegiatan organisasi, dan keteladanan dosen.

Hedonisme tidak selalu buruk; menikmati hidup wajar. Namun, ketika kesenangan itu mengalahkan nilai dan integritas, ia menjadi berbahaya. Mahasiswa harus belajar bahwa investasi terbesar bukan pada barang atau pengalaman, tetapi pada etika dan integritas. Barang mewah bisa hilang, tren bisa berganti, tetapi nilai diri yang dibangun dengan benar akan bertahan seumur hidup. Dengan kesadaran dan tindakan nyata, mahasiswa bisa tetap menikmati hidup modern tanpa harus kehilangan etika yang menjadi pondasi masa depan.

Seperti pesan Buya Hamka: “Manusia yang mulia bukanlah manusia yang kaya atau tampan, tetapi manusia yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan memegang teguh prinsip kebaikan.” Sebagai mahasiswa, kita harus belajar menahan godaan hedon, menata gaya hidup, dan membangun karakter yang kokoh. Kesederhanaan dan etika sejati adalah kemewahan yang paling mahal, dan mereka yang mampu memeliharanya akan selalu menang bukan oleh orang lain, tetapi oleh diri sendiri.