Konten dari Pengguna

Film Animasi Indonesia Harus Fokus Pada Praktik Transmedia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kristin Sihotang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa film animasi Indonesia (Sumber: pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Beberapa film animasi Indonesia (Sumber: pribadi)

Film animasi Indonesia banyak tayang di berbagai platform yang memudahkan penonton menyaksikan film kesukaannya. Film animasi merupakan teknik untuk mewujudkan imajinasi manusia menjadi sesuatu yang kasatmata, dapat dilihat. Dalam membuat film animasi yang paling penting adalah pergerakan. Menurut John Lasseter (Co-founder Pixar), mendefinisikan animasi sebagai seni menceritakan kisah melalui gambar bergerak. Jenis film animasi juga beragam mulai dari film animasi 2D, 3D, dan Stop Motion/Clay Animation.

Indonesia memiliki banyak film animasi karya animator yang luar biasa dan bertalenta. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya film animasi Indonesia yang menarik perhatian masyarakat khususnya anak kecil. Film animasi Indonesia antara lain Kiko, Si Juki The Movie, Adit & Sopo Jarwo, Keluarga Somat, Entong, Petualangan Si Unyil, Super Neli, (D.O.A) Doyok, Otoy Ali Oncom, Riska dan Si Gembul, Syamil dan Dodo, juga Nussa dan Rara. Selain itu, banyak film Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional dan meraih penghargaan festival film animasi dunia. Beberapa film animasi Indonesia yang tayang di luar negeri antara lain Si Juki The Movie (2017), Knight Kris (2017), Kuku Rock You (2008), Candy Monster (2020), dan Battle of Surabaya (2015).

Praktik Transmedia Pada Film Animasi

Kearney menjelaskan bahwa transmedia storytelling merupakan pengembangan multiplatform dan multimodal konten media. Transmedia dapat dilakukan sebagai usaha memperkenalkan film animasi menggunakan berbagai platform khususnya media sosial. Sebelumnya praktik ini banyak diimplementasikan di industri film animasi luar negeri contohnya Frozen I (2013) dan Frozen II (2019). Banyak film animasi Indonesia yang sudah mengimplementasikan praktik transmedia storytelling. Hal ini menyebabkan peningkatan yang pesat pada film animasi Indonesia mulai dari tahun 2015 sampai 2019.

Berdasarkan riset AINAKI pada 120 studio animasi Indonesia kurun waktu 2015-2019, industri animasi Indonesia mengalami peningkatan sebesar 153%. Hal ini membuat Indonesia meraih pendapatan 122 triliun pada total belanja iklan (2020). Perkembangan ini diperkirakan akan terus berkembang dengan meningkatnya demand produk animasi pada berbagai kanal over-the-top (OTT). Kanal-kanal OTT yang dimaksud yaitu Youtube, Instagram, Netflix, Viu, Goplay, dan tidak melupakan media televisi dan bioskop. Kondisi ini dapat menjadi momentum pas bagi industri animasi Indonesia untuk memanfaatkan praktik transmedia dalam perkembangannya.

Penulis:

Kristin Marianty Sihotang_Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Referensi:

R.A. Vita. N.P.Astuti. Ph. D. (2022). Buku Ajar Filmologi Kajian Film. UNY Press.

https://ainaki.or.id/indonesia-animation-report-2020/