Bisnis Viral Belum Tentu Layak untuk Dijalankan

Mahasiswa UNIVERSITAS PAMULANG
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari KRISTINA ANIMAN WARUWU tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bisnis viral di media sosial semakin menarik perhatian masyarakat karena dianggap menawarkan peluang usaha dan keuntungan yang menjanjikan. Produk makanan dan minuman yang sedang populer sering mendorong banyak orang untuk membuka usaha serupa. Namun, bisnis yang viral belum tentu layak untuk dijalankan tanpa perencanaan yang matang dan analisis kelayakan bisnis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan memulai usaha terkadang lebih didasarkan pada tren daripada perencanaan yang matang. Padahal, keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh banyaknya konsumen dalam waktu singkat, tetapi juga oleh kemampuan usaha untuk bertahan menghadapi persaingan dan perubahan pasar.
Kasmir dan Jakfar (2012) menjelaskan bahwa studi kelayakan bisnis dilakukan untuk menilai apakah suatu usaha atau investasi layak dijalankan. Penilaian tersebut perlu mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan keberlangsungan usaha. Artinya, keputusan bisnis seharusnya tidak hanya didasarkan pada perkiraan keuntungan, tetapi juga pada kesiapan menghadapi risiko.
Studi Kelayakan Bisnis: Popularitas Bukan Jaminan Keuntungan
Menurut saya, salah satu hal yang sering menjadi perhatian calon pengusaha adalah seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh dari suatu bisnis. Padahal, potensi keuntungan perlu dilihat bersama dengan risiko yang mungkin terjadi. Produk yang sedang viral belum tentu memiliki permintaan yang stabil dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, seseorang yang tertarik membuka usaha minuman kekinian perlu memahami siapa target konsumennya, bagaimana persaingan di lokasi usaha, serta berapa modal yang dibutuhkan. Ia juga perlu memperhitungkan biaya bahan baku, operasional, dan harga jual agar dapat mengetahui apakah usaha tersebut berpotensi menghasilkan keuntungan.
Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa pemasaran berkaitan dengan upaya memahami kebutuhan konsumen dan menciptakan nilai bagi pelanggan. Dalam konteks bisnis kuliner, hal ini menunjukkan bahwa pengusaha tidak cukup hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami alasan konsumen membeli suatu produk. Menurut saya, usaha yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen akan memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan pelanggan dibandingkan usaha yang hanya mengandalkan popularitas.
Kelayakan Bisnis Tidak Hanya Soal Keuangan
Aspek keuangan memang menjadi bagian penting dalam studi kelayakan bisnis. Namun, menurut saya, keuntungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan usaha. Freeman (1984) melalui teori stakeholder menjelaskan bahwa perusahaan juga perlu memperhatikan pihak-pihak yang berkepentingan, seperti pekerja, konsumen, pemasok, dan masyarakat.
Selain itu, Elkington (1997) melalui konsep triple bottom line menekankan pentingnya keseimbangan antara people, planet, dan profit. Artinya, bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga perlu memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Menurut saya, hal ini penting agar usaha dapat berkembang tanpa mengabaikan tanggung jawabnya terhadap masyarakat.
PENUTUP
Pada akhirnya, memulai bisnis tidak cukup hanya dengan melihat peluang keuntungan. Diperlukan perencanaan yang matang dan pemahaman terhadap berbagai risiko yang mungkin terjadi. Menurut saya, studi kelayakan bisnis menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa usaha yang dijalankan tidak hanya menarik di awal, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang. Bisnis yang baik bukan sekadar bisnis viral, melainkan bisnis yang memiliki perencanaan jelas dan mampu memenuhi kebutuhan konsumen.
