Konten dari Pengguna

Dari Digugu ke Di-follow: Cerita Otoritas yang Pindah ke Layar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Gema Kumara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Gemini AI

Dulu, kalau bingung, kita bertanya kepada orang yang punya alamat. Soal agama ke ustaz kampung, soal anak ke bu guru, soal sengketa tanah ke Pak RT, soal hidup ke sesepuh yang dianggap tahu. Sekarang, kalau bingung, kita bertanya kepada orang berkacamata dengan ring light yang alamatnya "link in bio". Ia menjawab soal investasi, jerawat, tafsir ayat, dan geopolitik dalam 15 hingga 43 detik, lengkap dengan musik latar yang membuat semua klaim terdengar benar.

Pertanyaan esai ini sederhana tapi tidak enak: apakah influencer sedang menggantikan tokoh masyarakat? Jawaban jujurnya: sebagian ya, sebagian tidak. Bagian yang paling menarik ada di antara keduanya, yaitu paradoksnya.

Peta yang Bergeser

Datanya tidak bisa dibantah. Laporan Reuters Institute 2026 mencatat bahwa untuk pertama kalinya media sosial dan jaringan video menjadi sumber berita yang paling banyak dipakai secara global, dengan 54 persen audiens. Di Indonesia, proporsi yang menyebut media sosial sebagai sumber berita utama naik 8 poin persentase menjadi 48 persen, dan penggunaan TikTok untuk berita di Indonesia melampaui 40 persen. Secara global, sekitar 27 persen responden mengakses berita dari kreator atau influencer berfokus berita dalam seminggu, dan angkanya menjadi 46 persen bila kreator yang sesekali membahas isu terkini ikut dihitung. Reuters juga mencatat bahwa influencer gaya hidup di Indonesia ikut membentuk diskusi anak muda. Di ranah agama, sebuah studi kualitatif pada Gen Z menggambarkan pergeseran dari otoritas keagamaan tradisional ke figur digital yang berpengaruh.

Latar belakangnya adalah krisis kepercayaan. Edelman Trust Barometer 2026 menemukan bahwa di kalangan yang terdampak peristiwa terkini, kepercayaan pada pemimpin pemerintahan dan media besar turun, sementara kepercayaan pada tetangga, keluarga, dan teman naik 11 poin. Kepercayaan makin terlokalisasi. Dan influencer adalah tetangga paling lihai: ia terasa dekat tanpa perlu kita bertamu, dan tidak pernah menagih iuran.

Ada satu angka lagi yang menjelaskan mengapa panggung ini kosong untuk diisi. Di 26 negara, 57 persen responden menilai para pakar punya pengaruh berlebihan atas pemberitaan. Bagi influencer, itu seperti pintu yang dibiarkan terbuka.

Weber, Foucault, dan Para Sofis

Max Weber membagi otoritas menjadi tradisional, legal-rasional, dan karismatik. Tokoh masyarakat lama memadukan ketiganya: kiai punya garis keilmuan, guru punya ijazah, kepala desa punya SK. Influencer hanya membawa karisma, tanpa "rutinisasi" apa pun. Karisma tanpa institusi itu cepat menanjak dan cepat runtuh, dan yang mengukurnya bukan sanad atau gelar, melainkan algoritma.

Clifford Geertz pernah menyebut kiai Jawa sebagai "perantara budaya" (cultural broker) yang menerjemahkan dunia luar bagi warga desa. Influencer adalah perantara model baru, hanya saja ia tidak menerjemahkan, ia merangkum. Paul Lazarsfeld dan Elihu Katz sudah lama menjelaskan "two-step flow": pesan tidak langsung sampai ke massa, tetapi lewat pemimpin opini. Yang berubah bukan mekanismenya, melainkan siapa yang duduk di posisi itu, dan siapa yang membayar kursinya.

Michel Foucault mengingatkan bahwa setiap masyarakat punya "rezim kebenaran": aturan tentang siapa yang boleh bicara dan apa yang dianggap benar. Dulu rezim itu dijaga gelar, mimbar, dan lembaga. Kini dijaga jumlah pengikut. Pierre Bourdieu mungkin akan menyebutnya pergantian modal simbolik: gelar doktor ditukar dengan centang biru.

Dan Plato sudah menyampaikan keluhannya dua ribu empat ratus tahun lalu. Dalam Gorgias, ia mencela para sofis yang piawai berbicara meyakinkan tanpa peduli benar tidaknya. Kalau Socrates hidup hari ini, ia mungkin akan dibalas komentar, "Bang, kontennya panjang banget, bisa diringkas?"

Psikologi Teman yang Tidak Mengenal Kita

Donald Horton dan Richard Wohl menamai fenomena ini pada 1956: "interaksi parasosial", yakni hubungan yang terasa akrab padahal sepihak. Kita merasa dekat dengan sosok yang tidak tahu kita ada. Ditambah bukti sosial ala Robert Cialdini (kalau jutaan orang menonton, pasti benar), dan cara berpikir cepat ala Daniel Kahneman (yang enak didengar terasa lebih benar), jadilah resep manjur: informasi yang terasa akrab, ramai, dan mudah dicerna. Kebenaran, yang biasanya lambat dan membosankan, kalah start.

Herbert Simon sudah menulis pada 1971 bahwa kelimpahan informasi melahirkan kemiskinan perhatian. Neil Postman menambahkan bahwa ketika wacana publik dikemas sebagai hiburan, yang bertahan adalah yang menghibur. Maka wajar bila ceramah 40 menit kalah dari potongan 40 detik. Bukan karena isinya lebih dalam, tetapi karena kita sedang tergesa-gesa menuju video berikutnya.

Lima Paradoks

Pertama, paradoks kedekatan. Influencer terasa lebih dekat, tetapi justru lebih sulit dimintai pertanggungjawaban. Ustaz punya majelis, guru punya sekolah, Pak RT punya rumah yang bisa diketuk. Kalau mereka salah, ada yang bisa mendatangi. Influencer yang salah cukup menghapus unggahan dan berkata, "Maaf, itu opini pribadi." Kita menukar akuntabilitas dengan keakraban, dan merasa untung.

Kedua, paradoks anti-otoritas. Kita mengikuti influencer karena ia "bukan bagian dari sistem". Begitu pengikutnya jutaan, ia menjadi otoritas baru, kini dengan kontrak sponsor dan tanpa kode etik. Kita meninggalkan lembaga karena curiga pada kepentingan, lalu mempercayai orang yang penghasilannya bergantung pada kepentingan yang dibayar per unggahan. Dulu kita curiga pada "titipan pejabat", sekarang percaya pada "titipan brand" karena setidaknya ada tulisan #ad.

Ketiga, paradoks konsumsi tanpa kepercayaan. Reuters menemukan bahwa kreator dinilai lebih menghibur, lebih mudah dipahami, dan lebih relatable, tetapi rata-rata dianggap kurang tepercaya dan kurang imparsial. Jadi kita menonton mereka bukan karena percaya, melainkan karena nyaman. Ini seperti makan mi instan tiap hari sambil sadar itu bukan makanan sehat.

Keempat, paradoks pengganti. Kalau dipikir, "menggantikan" ternyata berlebihan. Reuters menyebut bahwa bagi banyak audiens, sumber-sumber baru ini melengkapi, bukan menggantikan, berita tradisional, dan hanya 3 persen orang di dunia yang mengandalkan kreator sepenuhnya untuk semua kebutuhan berita. Banyak influencer justru menumpang legitimasi lembaga: dokter, ustaz, dosen, yang kredensialnya dipinjam dari institusi lama lalu dikemas dengan estetika baru. Tokoh masyarakat tidak sepenuhnya tergantikan. Sebagian pindah ke layar, dan sebagian lain, sayangnya, masih menunggu di depan mimbar yang sepi.

Kelima, paradoks kelimpahan. Akses pengetahuan belum pernah semudah ini, tetapi yang sampai ke kita justru pengetahuan yang sudah dipotong, dipilihkan, dan diurutkan algoritma. Kita merasa merdeka memilih, padahal menu sudah disodorkan. Kita merasa belajar dari banyak sumber, padahal semuanya lewat satu pintu: layar dan kepentingan yang mengatur isinya.

Jangan Terjebak Nostalgia

Sebelum kita meratapi zaman, catatan yang adil diperlukan. Tokoh masyarakat lama juga tidak selalu bening. Sebagian menjaga gerbang demi kepentingan sendiri, sebagian otoriter, sebagian menutup ruang tanya, dan tidak sedikit yang gagap menjawab zaman. Influencer, di sisi lain, membuka akses bagi orang yang tak pernah punya tempat di majelis: perempuan, anak muda, warga daerah terpencil. Ada pula influencer yang jujur, rajin merujuk sumber, dan mengoreksi diri di depan publik. Menolak semuanya sama malasnya dengan menerima semuanya.

Persoalannya bukan medium, melainkan mekanisme koreksi. Otoritas yang sehat selalu punya cara untuk ditegur: sanad, peer review, kode etik profesi, dewan pers. Influencer belum punya, dan kita, para pengikutnya, belum menuntutnya.

Jalan Tengah yang Tidak Viral

Tidak ada solusi yang enak untuk dijadikan konten, tetapi ada beberapa yang masuk akal:

1. Literasi tiga pertanyaan sebelum percaya: siapa dia dan apa dasar keahliannya, dari mana sumbernya, dan siapa yang diuntungkan bila saya percaya.

2. Keterbukaan kepentingan. Endorsement, afiliasi, dan sponsor harus jelas, terutama untuk isu kesehatan, keuangan, dan agama.

3. Tokoh lama belajar bahasa baru. Bukan menjadi badut layar, tetapi hadir dengan bahasa yang dipahami warga hari ini.

4. Pengikut naik kelas. Kita berhak berkata, "Mana sumbernya?" sama lantangnya dengan saat berkata, "Keren, kak!"

Penutup

Jadi, apakah influencer menggantikan tokoh masyarakat? Mungkin lebih tepat: ia mengisi kursi yang ditinggalkan, dengan sebagian orang duduk di sana karena layak, dan sebagian karena kursinya kebetulan kosong dan kameranya menyala.

Dulu kita mencari yang "digugu lan ditiru": yang dipercaya perkataannya dan ditiru perbuatannya. Kini kita mencari yang di-follow. Bedanya mungkin ini: yang pertama menuntut kita menjaga sikap di hadapan yang kita hormati, yang kedua cukup menuntut jempol. Kalau kita ingin otoritas kembali punya makna, mulailah dari hal yang paling gratis: bertanya, sebelum menekan tombol ikuti.