Konten dari Pengguna

Slacktivism dan Wajah Liyan: Membaca Ulang Levinas di Tengah Krisis Empati Kita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Gema Kumara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Gemini AI

Ada satu adagium filsafat yang, kalau dipikir-pikir, lebih cocok jadi caption Instagram ketimbang jargon kampus: "respondeo ergo sum"—aku bertanggung jawab, maka aku ada. Diksi ini lahir dari kepala Emmanuel Levinas, filsuf Prancis-Lithuania yang seumur hidup gelisah karena satu hal: Barat terlalu sibuk membangun sistem berpikir yang berpusat pada "aku," sampai lupa bahwa di depan "aku" itu selalu ada wajah orang lain yang menuntut untuk dilihat, bukan sekadar dipikirkan.

Levinas sebenarnya sedang menyindir — dengan cara yang sangat sopan dan berbahasa Prancis tinggi—leluhur intelektualnya sendiri: René Descartes. Descartes bilang "cogito ergo sum," aku berpikir maka aku ada. Kedengarannya keren, fondasi filsafat modern, tapi kalau ditelisik, ini adalah pernyataan seorang manusia yang duduk sendirian di kamar, meragukan segala hal, sampai akhirnya menemukan kepastian satu-satunya: dirinya sendiri yang sedang berpikir. Titik. Orang lain? Belakangan saja. Dunia? Nanti dulu. Yang penting "aku" ini eksis karena aku sedang mikir.

Levinas datang tiga abad kemudian dan bilang: eh, tunggu dulu, Bung Descartes, sebelum kamu sempat berpikir tentang dirimu sendiri, kamu sudah lebih dulu dipanggil oleh wajah orang lain. Ada yang disebutnya le visage — wajah liyan (the Other) — yang hadir bukan sebagai objek yang bisa direduksi jadi konsep, melainkan sebagai panggilan etis yang telanjang: "Jangan bunuh aku." Dan dari situlah subjektivitas manusia sesungguhnya lahir—bukan dari kemampuan berpikir, tapi dari kesediaan merespons panggilan itu. Maka: respondeo ergo sum, aku ada, karena aku bertanggung jawab atas yang lain, bahkan sebelum aku sempat memilih untuk bertanggung jawab.

Konsep yang indah. Filosofis. Menggetarkan kalau dibaca di ruang kuliah dengan AC dingin sambil pura-pura paham betul semua istilah fenomenologinya.

Sekarang mari kita bawa Levinas jalan-jalan ke Indonesia hari ini, dan lihat bagaimana "wajah liyan" ini diperlakukan.

Cogito Ergo Sum, Versi Lokal: Aku Julid, Maka Aku Eksis

Kalau Descartes hidup di Indonesia zaman sekarang, mungkin dia akan merevisi dalilnya jadi cogito ergo sum, sed prius scroll— aku berpikir, maka aku ada, tapi sebelumnya aku scroll dulu. Kita ini bangsa yang sangat piawai berpikir tentang penderitaan orang lain—dalam bentuk utas Twitter (atau X, atau apalah namanya hari ini), kolom komentar Instagram, dan grup WhatsApp keluarga yang isinya bolak-balik antara resep jamu dan hoaks politik.

Ironinya, justru di titik inilah Levinas terasa menampar. Sebab bagi Levinas, etika bukan soal seberapa canggih kita "berpikir" tentang penderitaan liyan, melainkan seberapa siap kita "merespons" ketika wajah itu benar-benar ada di depan kita. Dan masyarakat kita—jujur saja—jauh lebih mahir pada tahap pertama (memikirkan, mengomentari, membagikan) ketimbang tahap kedua (merespons secara nyata, dengan konsekuensi, dengan pengorbanan).

Coba lihat pola khas ketika bencana terjadi—banjir di satu wilayah, longsor di wilayah lain, kebakaran lahan yang asapnya menyeberangi negara tetangga sampai jadi bahan diplomasi tahunan. Pola responsnya nyaris seragam: viral dulu, baru bergerak. Wajah liyan di Levinas hadir "sebelum" representasi, sebelum ia sempat jadi konten—tapi di sini, wajah liyan baru dianggap "ada" secara etis setelah ia berhasil menembus algoritma. Kalau videonya kurang dramatis, kurang related, kurang menyentuh estetika sedih-tapi-instagramable, penderitaannya seolah belum cukup nyata untuk direspons.

Ini bukan sekadar dosa individu warganet, ini juga watak struktural. Birokrasi bantuan bencana kita terkenal punya jeda waktu yang aneh: butuh rapat koordinasi dulu, butuh SK dulu, butuh menunggu siapa yang berwenang menyatakan status darurat—sementara wajah-wajah yang kedinginan di pengungsian sudah lama menuntut jawaban, bukan menunggu rapat. Levinas akan bilang: tanggung jawab etis itu "pra-ontologis," ia mendahului segala kategori dan prosedur. Tapi negara kita punya keyakinan filosofis sendiri yang diam-diam dianut: "procedura ergo sum"— aku ber-SOP, maka aku (merasa) sudah bertanggung jawab.

Wajah Liyan yang Disensor Algoritma dan Anggaran

Bagian paling satir dari cerita ini adalah: kita hidup di era di mana wajah liyan bisa disortir. Ada wajah yang laku secara politik dan emosional—cocok untuk konferensi pers, cocok untuk program CSR, cocok jadi latar foto kunjungan kerja dengan helm proyek warna cerah. Dan ada wajah yang, entah kenapa, tidak pernah cukup viral untuk dianggap layak direspons: buruh yang di-PHK massal karena efisiensi perusahaan, petani yang gagal panen karena cuaca ekstrem tapi tak masuk radar media nasional, anak-anak di pelosok yang sekolahnya ambruk duluan sebelum videonya sempat trending.

Levinas menegaskan bahwa wajah liyan itu resisten terhadap totalisasi—ia tidak boleh direduksi jadi kategori, angka statistik, atau data sensus. Tapi coba tengok bagaimana kemiskinan dibicarakan dalam rapat-rapat kebijakan kita: sering kali ia berubah jadi angka desimal dalam persentase penurunan kemiskinan, jadi target RPJMN, jadi indikator makro yang dibanggakan di rapat tahunan—sementara wajah orang yang benar-benar lapar hari ini, yang antre bansos dari subuh, seolah menguap jadi rerata statistik. Kita berhasil melakukan apa yang paling ditakutkan Levinas: mengubah liyan menjadi objek pengetahuan, bukan subjek yang memanggil.

Dan ini bukan cuma soal negara. Kita, sebagai warga, juga punya andil menyenangkan dalam proyek totalisasi ini. Berapa banyak dari kita yang merasa cukup "bertanggung jawab secara sosial" setelah membagikan ulang unggahan galang dana, tanpa pernah benar-benar menyisihkan recehan? Berapa banyak yang merasa lega sudah "aware" terhadap isu kemanusiaan tertentu, cukup dengan mengganti foto profil, lalu lanjut hidup seperti biasa? Ini yang oleh sebagian pemikir kontemporer disebut slacktivism—aktivisme yang cukup dilakukan dari sofa, dengan jempol, tanpa risiko personal apa pun. Levinas pasti geleng-geleng: bagimu, wajah liyan itu cuma jadi bahan estetika keprihatinan, bukan panggilan yang benar-benar menuntutmu keluar dari kenyamanan.

Krisis yang Sesungguhnya: Krisis Merespons

Kalau kita jujur, sebagian besar "krisis" yang dihadapi masyarakat Indonesia hari ini bukan semata krisis ekonomi, krisis iklim, atau krisis kepercayaan pada institusi—melainkan krisis yang lebih mendasar: krisis kesediaan merespons. Harga kebutuhan pokok naik, tapi solidaritas horizontal antarwarga justru melemah karena masing-masing sibuk survival individual. Ruang publik makin ramai, tapi makin sepi empati—orang lebih cepat marah pada pengemudi ojol yang salah belok ketimbang bertanya kenapa ia harus ngebut demi target rating aplikasi. Kita jadi masyarakat yang sangat sibuk "berpikir" tentang siapa yang salah, siapa yang harus disalahkan di media sosial, tapi lambat sekali untuk "merespons"—mengulurkan tangan tanpa menunggu tahu dulu siapa yang layak dibantu berdasarkan kategori moral kita sendiri.

Yang menarik, Levinas justru menolak logika "layak-tidak layak" ini. Tanggung jawab etis, katanya, bersifat asimetris dan tak bersyarat—kita bertanggung jawab pada liyan bukan karena dia pantas, bukan karena dia "satu golongan" dengan kita, bukan karena dia sudah viral dan disahkan secara sosial sebagai korban yang sah. Kita bertanggung jawab justru karena wajahnya hadir di depan kita, titik, tanpa tapi. Ini konsep yang berat untuk diterapkan di negeri yang budaya politiknya masih sangat kental dengan politik identitas—di mana empati sering kali berhenti di batas suku, agama, almamater, atau afiliasi partai. Kita jauh lebih mudah merespons wajah yang mirip dengan wajah kita sendiri di cermin, ketimbang wajah yang benar-benar liyan, benar-benar asing, benar-benar berbeda.

Penutup: Mungkin Kita Perlu Berhenti Berpikir Sejenak

Ironisnya, esai ini sendiri adalah bentuk "cogito"— sebuah proses berpikir panjang tentang bagaimana seharusnya kita merespons. Ada jebakan melingkar di sini yang, dengan senang hati, saya akui: menulis analisis kritis tentang pentingnya bertindak, alih-alih bertindak itu sendiri, adalah salah satu bentuk paling elegan dari penundaan tanggung jawab. Levinas sendiri mungkin akan tersenyum getir membaca esai filosofis tentang filsafatnya—sebab makin banyak kita berteori tentang tanggung jawab, biasanya makin jauh kita dari benar-benar menjalankannya.

Barangkali yang dibutuhkan masyarakat kita bukan lebih banyak wacana, bukan lebih banyak utas panjang yang analitis-reflektif-kritis-satir seperti tulisan ini, melainkan keberanian sederhana untuk berhenti sejenak dari kesibukan mikir dan menoleh: siapa, hari ini, yang wajahnya sedang menuntut respons dari kita—tetangga yang rumahnya kebanjiran, kolega yang baru kena PHK, pengamen yang lewat tanpa kita anggap ada. Respondeo ergo sum barangkali bukan sekadar jargon filsafat yang enak dikutip di skripsi. Ia adalah tuduhan halus terhadap kita semua: bahwa selama ini kita terlalu percaya diri sudah "ada" hanya karena rajin berpikir, berkomentar, dan berwacana—padahal keberadaan yang sesungguhnya, kata Levinas, baru teruji ketika kita benar-benar menjawab panggilan liyan, bukan sekadar menikmati derita mereka sebagai bahan renungan yang syahdu di linimasa.