Konten dari Pengguna

Ketika Rumah Tidak Bisa Dijangkau

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kumoro Riana Sanggar Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Foto Pribadi

Judul: Pulang

Penulis: Leila S. Chudori

Tahun Terbit: 2023

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Genre: Fiksi Sejarah

Jumlah Halaman: 460

Sinopsis:

Cerita ini menceritakan sang tokoh utama yang bernama Dimas Suryo, seorang wartawan dari Kantor Berita Nusantara yang berada di luar negeri ketika tragedi tahun 1965. Karena Dimas Suryo diduga berkaitan dengan kelompok tertentu sehingga paspor nya disita sehingga tidak bisa kembali ke tanah air, ia akhirnya mendirikan sebuah Restoran Tanah Air yang bernuansa Indonesia untuk mengobati rasa rindu. Dengan beberapa tokoh lainya yang bernama Nugroho, Tjai, dan Risjaf.

Di Paris, Dimas menikah dengan pujaan hatinya Vivienne Deveraux dan memiliki anak bernama Lintang Utara. Pada tahun 1998 Lintang datang ke Tanah Air, Jakarta, untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya bersama dengan eksil politik. Ia menyaksikan secara langsung Indonesia yang sedang bergejolak menjelang reformasi.

Resensi:

Yang paling saya suka adalah bagaimana Leila S. Chudori dapat menceritakan dari sudut pandang yang berbeda yaitu Lintang, Dimas, dan Segara. Dari ketiga sudut pandang ini menjelaskan bagaimana suatu kejadian bisa dipandang melalui waktu dan perasaan yang berbeda. Pada sudut pandang Dimas membawa luka dan perasaan masa lalu yang belum benar benar selesai. Lintang memandang dengan sudut pandang orang luar yang dimana ia tumbuh di Prancis. Sedangkan pandangan dari segara dimana ia tumbuh di tengah tengah peristiwa tersebut terlebih di Indonesia. Yang dimana 1965 digambarkan sangat jelas dari berbagai sudut pandang.

Restoran Tanah Air yang digambarkan menunjukan bagaimana identitas Indonesia itu dijaga di tengah tengah Paris. Yang dimana masakan yang disajikan digambarkan sebagai “rumah” yang disajikan diatas sebuah piring.

Namun begitu disayangkan alur maju mundur yang disajikan sesekali membuat saya kebingungan dan harus kembali membuka halaman halaman sebelumnya untuk kembali mengingat beberapa bagian. Selain itu bagian kisah cinta terkadang terasa lebih vulgar dan dominan yang dimana hal tersebut menggeser isu politik yangs sedang dibahas.

Kesimpulan:

Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, buku ini layak untuk dibaca terutama bagi generasi muda untuk lebih mengenal lebih jauh lagi mengenai peristiwa 1965. Novel ini terasa mudah dibaca karena tidak menuntut pembaca untuk memihak kepada satu pihak. Novel ini menceritakan bagaimana sejarah pada zamanya terasa tidak adil.

Rating: 8/10