Kumparan Logo

20 UMKM Kopi RI Mejeng di World of Coffee Bangkok, Bidik Pasar Ekspor Global

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Paviliun Indonesia di World of Coffee Bangkok 2026 yang digelar di Bangkok International Trade & Exhibition Center, Kamis (7/5). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Paviliun Indonesia di World of Coffee Bangkok 2026 yang digelar di Bangkok International Trade & Exhibition Center, Kamis (7/5). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Sebanyak 20 UMKM kopi asal Indonesia tampil di ajang World of Coffee Bangkok 2026 yang digelar di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC) Bangkok pada 7-9 Mei 2026.

Puluhan UMKM tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan hingga Papua.

Salah satu UMKM yang ikut dalam pameran tersebut adalah Bali Arabica milik I Komang Sukarsana. Komang mengatakan keikutsertaannya di World of Coffee menjadi peluang penting untuk memperluas pasar kopi Bali hingga ke mancanegara.

Terlebih dalam gelaran ini UMKM juga bisa menjajakan produk langsung melalui pembayaran tunai maupun nontunai, salah satunya melalui sistem pembayaran digital Thailand, PromptPay, yang terhubung dengan sistem pembayaran digital Indonesia, yaitu QRIS.

“Kenapa kami hadir di World of Coffee ini yang sudah di-support oleh BI (Bank Indonesia). Kami sebetulnya bisa terkoneksi dari petani, bisa terkoneksi dengan para roastery secara langsung, sehingga ini bisa menutup mata rantai. Kemudian dari petani processing kita bisa melihat future, atau kira-kira kopi-kopi proses apa yang akan tren di masa depan,” kata Komang di sela acara di Bangkok, Thailand, Jumat (9/5).

Komang mengatakan saat ini kopi produksinya sudah mulai menembus pasar ekspor seperti Kuwait, Korea Selatan, Jepang hingga Amerika Serikat. Menurut dia, ajang internasional seperti World of Coffee menjadi momentum untuk memperkenalkan kopi lokal Indonesia lebih luas lagi.

“Tujuan kami adalah membawa produk-produk lokal ini supaya mudah dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat internasional,” ujarnya.

Komang bercerita sebelumnya juga sempat mengikuti World of Coffee di San Diego, Amerika Serikat dan tengah menjajaki kerja sama pengiriman kopi untuk kebutuhan roastery di sana.

Lebih lanjut, Komang menuturkan Bali Arabica juga melibatkan banyak kelompok tani lokal dalam rantai bisnis kopi yang dijalankannya. Saat ini, lebih dari 200 orang dari enam kelompok tani yang terlibat dalam penyediaan bahan baku kopi.

Komang juga mengaku pendampingan dari BI membantu UMKM kopi meningkatkan kualitas produk agar sesuai dengan standar pasar global.

“BI melakukan pendampingan di hulu, memberikan pelatihan, kemudian melakukan kurasi, melibatkan para ahli-ahli kopi untuk menentukan produk-produk kami. Menjadi sebuah percepatan ya bagi para petani prosesing untuk mendapatkan market yang cocok dengan produk kita, sehingga produk kita yang dulunya tidak dikenal, sekarang sudah dikenal, bahkan kita bisa menentukan market sendiri,” katanya.

UMKM lainnya yang ikut dalam pameran tersebut adalah Beskabean Coffee Roastery asal Sumatera Selatan milik Hendra Susanto. Hendra mengaku bisnisnya berkembang pesat setelah mengikuti program Wirausaha BI sejak 2017.

Kopi Indonesia di World of Coffee Bangkok 2026 yang digelar di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC) Bangkok, Kamis (7/5). Foto: Widya Islamiati/kumparan

“Dulu saya sendirian, enggak punya apa-apa. Sekarang sudah punya 14 cabang dan 85 karyawan,” ujar Hendra.

Dia mengatakan bisnis kopinya kini memiliki kebun sendiri di Semendo, Sumatera Selatan dan saat ini Beskabean juga mulai menjajaki pasar ekspor ke Jepang.

Menurut Hendra, pendampingan dari BI bukan sekadar bantuan modal, melainkan penguatan manajemen bisnis agar UMKM bisa berkembang secara mandiri.

“BI lebih ngasih pancing dibanding kasih uang. Jadi kita dibina soal manajemen bisnis sampai akhirnya bisa berkembang sendiri,” katanya.

Sementara itu, Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) BI Maulisa Yanti Nasution mengatakan 20 UMKM yang dibawa ke World of Coffee Bangkok telah melalui proses kurasi ketat.

“Kita bawa 20 UMKM. Awalnya dari seluruh UMKM Binaan Bangkok Indonesia itu 180 UMKM di seluruh Indonesia. Itu yang ikut kurasi untuk mengikuti World of Coffeedi Bangkok,” ujar Maulisa.

Menurut dia, sebagian besar UMKM yang ikut sudah memiliki pengalaman ekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa hingga Amerika Serikat.

Maulisa mengatakan keikutsertaan Indonesia di World of Coffee Bangkok diharapkan dapat membuka akses pasar baru karena buyer yang hadir tidak hanya berasal dari Thailand, tetapi juga berbagai negara lain.

“Harapannya buyer dari seluruh negara bisa mengenal cita rasa dan keunikan kopi Indonesia. Karena setiap negara punya preferensi kopi masing-masing dan kopi Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pasar tersebut,” katanya.

Senada dengan Maulisa, Duta Besar RI untuk Thailand Hari Prabowo mengatakan Thailand menjadi pasar strategis bagi kopi Indonesia karena konsumsi kopi domestiknya terus meningkat.

Dia menyebut konsumsi kopi masyarakat Thailand naik dari sekitar 180 cangkir per orang per tahun menjadi 340 cangkir per orang per tahun. Di sisi lain, produksi kopi Thailand hanya sekitar 15.600 ton per tahun, sementara kebutuhannya mencapai lebih dari 90 ribu ton per tahun.

Selain konsumsi kopi masyarakat yang terus meningkat, Thailand juga merupakan negara yang banyak dikunjungi wisatawan asing dari berbagai negara.

“Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Thailand yang mencapai lebih dari 32 juta per tahun. Jadi membawa kopi Indonesia ke Thailand sebenarnya juga membawa kopi Indonesia ke seluruh negara di dunia dengan banyaknya wisatawan asing yang berkunjung ke Thailand,” ujar Hari.