Kumparan Logo

23 Juta Pekerja Terancam Robot AI, Buruh Minta Maksimalkan Peran Jaminan Sosial

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah buruh pabrik di Jalan Industri. Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah buruh pabrik di Jalan Industri. Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, meminta pemerintah memaksimalkan peran jaminan sosial untuk memitigasi hilangnya 23 juta pekerjaan imbas kemunculan teknologi robot kecerdasan buatan (AI).

Said yang juga merupakan Ketua Umum Partai Buruh menuturkan, pihaknya mendukung terhadap penyediaan lapangan pekerjaan yang berdasarkan kepada pasar sosial yang bertumpu kepada iuran jaminan sosial.

"Misal jaminan pensiun dan hari tua, kalau jaminan pensiun saja bisa 12 persen, 3 persen dibayar oleh buruh dan 9 persen dibayar perusahaan dalam waktu 10 tahun hitungan Partai Buruh itu bisa sampai Rp 2.000-3.000 triliun," jelasnya saat konferensi pers, Kamis (4/5).

Selama jaminan sosial tersebut belum terpakai, lanjut Said, iuran jaminan sosial ini bisa dimanfaatkan sebagai penyokong di saat model perekonomian berubah karena revolusi industri 4.0 menciptakan digital ekonomi dan robotisasi.

"Uang jaminan sosial ini bisa meng-cover untuk kebutuhan hidup mereka yang kita sebut unemployment insurance, kalau di-PHK atau mau menjadi wirausaha, pemerintah bisa menggunakan jaminan sosial sebagai jadi modal," ungkap Said.

Prototype robot humanoid Optimus yang diumumkan CEO Tesla, Elon Musk, dalam Tesla AI Day 2022 pada 1 Oktober 2022. Foto: Tesla

Selain pemanfaatan jaminan sosial, Partai Buruh juga menyarankan kepada pemerintah agar pekerja sektor digital ekonomi adalah pekerja, bukan mitra seperti para driver ojek online.

"Supaya dia punya hubungan kerja jadi kalau di-PHK perusahaan tidak bisa seenaknya, dan kalau di-PHK karena keadaan masih ada pesangon," kata Said.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid, menilai pesatnya perkembangan industri 4.0 bakal berdampak ke lapangan pekerjaan. Ia menyebut cepatnya kemajuan teknologi bisa berimbas hilangnya jutaan pekerjaan di 2030.

Apalagi, kata Arsjad, sektor ketenagakerjaan di Indonesia belum sepenuhnya menyesuaikan dengan perkembangan teknologi digital.

embed from external kumparan

"Kalau kita lihat lebih jauh, bonus demografi akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 atau 7 tahun dari hari ini. Waktu yang tidak lama, tentunya dengan banyaknya angkatan kerja, lapangan pekerjaan yang dibutuhkan pun akan semakin banyak," kata Arsjad saat Peluncuran Platform Kadin for Naker di Gelora Bung Karno, Senayan, Minggu (30/4).

"Namun dengan berkembangnya teknologi dan otomatisasi, 23 juta juta pekerjaan terancam punah pada tahun 2030 mendatang," tambahnya.

Arsjad tidak merinci pekerjaan sektor apa saja yang terancam hilang. Namun, ia mendorong adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sehingga bisa menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. Arsjad juga mengharapkan semua pihak memaksimalkan bonus demografi.