24 Bank Sentral Dunia Bakal Terbitkan Mata Uang Digital, Bagaimana Rupiah?
·waktu baca 3 menit

24 bank sentral di negara berkembang dan maju bakal memiliki mata uang digital di akhir 2030. Hal tersebut diungkapkan Bank Sentral International (BIS) dalam survei yang terbit pada Senin (10/7).
Mengutip Reuters, Selasa (11/7) seluruh bank sentral di dunia memang sudah mempelajari dan mengerjakan mata uang digital untuk penggunaan ritel di tengah percepatan penurunan penggunaan uang tunai. Beberapa juga melihat versi grosir untuk transaksi antar lembaga keuangan.
Dalam surveinya, BIS menyebut mayoritas Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) baru akan muncul di sektor ritel. Lebih lanjut, sebelas bank sentral akan bergabung dengan rekan-rekan di Bahama, Karibia Timur, Jamaika, dan Nigeria yang sudah menjalankan mata uang ritel digital langsung.
Di sisi lain, BIS menilai dari sisi grosir memungkinkan lembaga keuangan mengakses fungsi baru berkat tokenisasi, sembilan bank sentral dapat meluncurkan CBDC.
"Meningkatkan pembayaran lintas batas adalah salah satu pendorong utama pekerjaan bank sentral pada CBDC grosir," tulis laporan tersebut.
Sementara itu, Bank Nasional Swiss menyatakan pada akhir Juni, pihaknya akan menerbitkan CBDC grosir pada pertukaran digital Swiss sebagai bagian dari uji coba.
Sementara Bank Sentral Eropa berada di jalur yang tepat untuk memulai uji coba euro digitalnya menjelang kemungkinan peluncuran pada tahun 2028.
Adapun uji coba CBDC di China sekarang mencapai 260 juta orang. Dua negara berkembang besar lainnya, India dan Brasil, berencana meluncurkan mata uang digital tahun depan.
Gubernur BI: Rupiah Digital Mulai Proyek Desain Juli 2023
Bank Indonesia (BI) tengah mengebut penerbitan rupiah digital (Central Bank Digital Currency/CBDC) sebagai alat transaksi sah yang berlaku di Indonesia. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan rupiah digital akan mulai proses desain proyek pada Juli 2023.
“Kami juga sudah memperkenalkan penerbitan makalah konsultasi kami, mulai Juli kami akan memulai desain proyek,” kata Perry dalam acara High Level Seminar ASEAN, Jakarta, Senin (6/3).
Perry mengatakan pihaknya telah mendorong kerja sama lintas batas dengan negara lain sebagai sarana untuk meningkatkan inklusi keuangan.
Sebagai pemegang tongkat kepemimpinan ASEAN Chairmanship 2023, Indonesia akan mendorong regulasi pengembangan CBDC dengan sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
"Jadi pada tahun ini di bawah kepemimpinan ASEAN, Indonesia juga akan terus mengerjakan CBD di kawasan," ujar Perry.
Rupiah digital ini nantinya akan diedarkan melalui platform teknologi bernama digital blockchain dan distributed ledger technology (DLT). Rupiah digital akan memiliki desain fitur keamanan dan coding spesifik layaknya uang rupiah kertas, sehingga khazanah rupiah digital pun akan dibangun selayaknya uang rupiah kertas.
Hadirnya Rupiah Digital ini dinilai mampu menekan biaya transaksi di perbankan. Selain itu, keberadaan rupiah digital di Indonesia merupakan kewajiban untuk menegakkan mandat bank sentral sebagai satu-satunya penerbit mata uang pada suatu negara.
