3 Fakta Pesawat N219 yang Siap Diproduksi di 2021: Ada Mimpi BJ Habibie

Pesawat N219 baru saja mengantongi Type Certificate setelah menyelesaikan serangkaian uji sertifikasi. Sertifikat itu dikeluarkan Direktorat Jenderal Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Pesawat bikinan PT Dirgantara Indonesia (Persero) PTDI ini digadang-gadang jadi penyambung mimpi almarhum BJ Habibie agar Indonesia punya pesawat bikinan sendiri. Rencananya, pesawat bakal mulai diproduksi tahun 2021.
Berikut fakta-fakta mengenai N219:
Sudah Kantongi Sertifikasi dari Kemenhub
Sekretaris Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Nur Isnin Istiartono, telah menyerahkan Type Certificate pesawat N219 kepada PTDI.
Dengan demikian, pesawat yang mulai dikembangkan pada 2014 itu kini sudah mendapat lampu hijau untuk diproduksi.
"Secara total pesawat N219 telah menyelesaikan 393 Flight Cycle dan 451 Flight Hours dalam proses sertifikasi ini," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Gita Amperiawan, dalam siaran persnya, Senin (28/12).
Mulai Diproduksi di 2021, Target Awal 4 Pesawat per Tahun
Setelah mengantongi sertifikasi, pesawat N219 bakal mulai diproduksi tahun 2021. PTDI untuk tahap awal menargetkan bisa memproduksi pesawat N219 sebanyak empat unit per tahun.
Selanjutnya, PTDI akan melakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem produksi modern pada manufacturing. Sehingga secara bertahap kemampuan output produksi akan terus dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Penyambung Mimpi BJ Habibie
Pesawat N219 ini diharapkan mampu menjadi penyambung mimpi Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie. Sebagaimana diketahui, almarhum BJ Habibie punya ambisi besar agar Indonesia punya pesawat karya anak bangsa.
Mimpi itu sudah nyaris terwujud lewat N250 yang ia rancang sendiri dan bahkan sudah sempat terbang perdana pada 10 Agustus 1995. Sayangnya, krisis ekonomi 1998 membuat mimpi Mister Crack kandas, N250 pun berujung dimuseumkan di Yogyakarta.
Para insinyur PTDI melanjutkan mimpi almarhum BJ Habibie dengan merancang pesawat baling-baling berukuran lebih kecil berkapasitas 19 orang, yang kemudian diberi nama N219.
