Kumparan Logo

4 Alasan di Balik Kenaikan Harga Pertamax

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas mengisi bahan bakar pertamax di SPBU Pertamina. Foto: Dok. Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengisi bahan bakar pertamax di SPBU Pertamina. Foto: Dok. Pertamina

Harga BBM Pertamax mulai hari ini menjadi Rp 12.500 per liter, naik Rp 3.500 dari sebelumnya Rp 9.000 per liter. Pertamina menyatakan, kenaikan harga ini sudah mempertimbangkan berbagai hal, termasuk daya beli masyarakat.

"Pertamina selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga Pertamax ini tetap lebih kompetitif di pasar atau dibandingkan harga BBM sejenis dari operator SPBU lainnya. Ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, sejak tahun 2019," jelas Irto Ginting, Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, SH C&T PT Pertamina (Persero), dalam keterangan resmi, Kamis (31/3).

Ada 4 alasan di balik kenaikan harga Pertamax. Berikut kumparan merangkumnya:

Harga Minyak Dunia Melambung

Krisis geopolitik yang terus berkembang sampai saat ini mengakibatkan harga minyak dunia melambung tinggi di atas USD 100 per barel. Hal ini pun mendorong harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) per 24 Maret 2022 tercatat USD 114,55 per barel atau melonjak hingga lebih dari 56 persen dari periode Desember 2021 yang sebesar USD 73,36 per barel.

Petugas mengisi bahan bakar pertamax di SPBU Pertamina. Foto: Dok. Pertamina

Imbasnya, harga keekonomian BBM dengan kadar oktan (RON) 92 pun ikut melambung. Kementerian ESDM membeberkan bahwa harga keekonomian Pertamax pada Maret 2022 mencapai Rp 14.256 per liter. Bahkan bisa mencapai Rp 16.000 per liter di bulan April.

"Dengan mempertimbangkan harga minyak bulan Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari, maka harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 bulan April 2022 akan lebih tinggi lagi dari Rp. 14.526 per liter, bisa jadi sekitar Rp. 16.000 per liter," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan tertulis, Jumat (25/3).

Pengguna Pertamax Adalah Kelompok Menengah Atas

Pertamax pada dasarnya bukan ditujukan untuk masyarakat bawah. Terlihat dari penjualan Pertamax hanya 20 persen dari total penjualan, berbeda dengan Pertalite yang menjadi mayoritas.

Pengguna BBM nonsubsidi, mulai dari Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex, adalah kelompok menengah atas yang mengkonsumsi BBM berkualitas dan ramah lingkungan. Maka wajar saja harganya dinaikkan mengikuti mekanisme pasar. Jika tidak naik, Pertamina memberikan 'subsidi' untuk orang-orang kaya.

Research Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi juga tidak mengganggu daya beli masyarakat. Penyesuaian harga BBM berkualitas yang ramah terhadap lingkungan itu juga tidak banyak berdampak pada indikator ekonomi makro.

“Harga Pertamax idealnya naik sesuai harga keekonomiannya,” kata Pieter dalam keterangan tertulis, Rabu (16/3).

Infografik Dasar Kenaikan Harga BBM Pertamax. Foto: kumparan

Piter mengatakan, Pertamina tentu harus menjaga ketersediaan pasokan dan juga mematuhi kebijakan pemerintah dalam hal harga agar tetap terjangkau dan tidak memberatkan masyarakat. “Selama yang naik bukan BBM bersubsidi, kenaikan harga BBM tidak banyak berdampak ke inflasi,” ujarnya.

Sudah Lebih dari 2 Tahun Harga Pertamax Tak Naik

Sebelum 1 April 2022, harga Pertamax tak mengalami kenaikan selama lebih dari 2 tahun. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan secara regulasi Pertamina sangat berpeluang menyesuaikan harga Pertamax. Kenaikan harga Pertamax mendekati harga produk sejenis dari perusahaan lain tidak akan menjadi masalah karena dampak terhadap inflasi seharusnya terkendali.

“Dampak inflasi tidak akan diteruskan karena akan terhenti pada pengguna akhir. Pertamax tidak terkait langsung dengan proses produksi dan distribusi barang dan jasa,” ujar Komaidi dalam keterangan tertulis, Selasa (15/3).

Pertamina Bisa Tekor Rp 200-an Triliun

Beban tambahan yang ditanggung Pertamina bisa mencapai Rp 200-an triliun dalam setahun jika harga Pertamax tak dinaikkan.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David E Sumual, mengungkapkan bahwa perbedaan harga Pertamax dengan harga pasar jika tak dinaikkan sekitar USD 20-40 per barel.

“Pertamina memang butuh suntikan likuiditas dan mereka sudah kelihatan beberapa kesempatan menyampaikannya,” kata David seperti dikutip dari Antara, Jumat (18/3).