Kumparan Logo

4 Faktor yang Bikin Dolar AS Keok ke Rp 14.000

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers oleh Gubenur BI, Perry Warjiyo mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Januari 2019, Jakarta, Kamis (17/1/2019). (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers oleh Gubenur BI, Perry Warjiyo mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Januari 2019, Jakarta, Kamis (17/1/2019). (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)

Dolar AS terus melemah hingga akhirnya menyentuh posisi Rp 14.000 pagi ini. Dikutip dari data perdagangan Reuters, Senin (28/1), dolar AS dibuka di posisi Rp 14.080 dan menyentuh level terendahnya di Rp 14.010. Akhir pekan lalu, dolar AS masih bergerak di kisaran Rp 14.100.

Hal ini dikatakan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo masih bergerak stabil. Bahkan, Perry yakin rupiah akan terus menguat. Keyakinan ini sejalan dengan 4 langkah yang dilakukan BI untuk stabilisasi rupiah terhadap mata uang negara Paman Sam itu.

“Ada 4 faktor yang mendukung menguatnya nilai tukar rupiah. Pertama adalah confident investor asing terus menguat, terbukti dari terus masuknya aliran modal asing yang tidak hanya Penanaman Modal Asing (PMA) tapi juga investasi portofolio baik di obligasi, saham, maupun jenis-jenis aset lainnya,” katanya saat ditemui di Kantor Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (28/1).

Selanjutnya, dia mengatakan, sinergi kebijakan antara pemerintah, BI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam hal menyederhanakan prosedur ekspor dinilai strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pendorongan ekspor di berbagai bidang seperti otomotif, garmen, hingga elektronik juga dilakukan. Sejalan dengan itu, pihaknya juga terus mempersiapkan kebijakan untuk substitusi produk impor seperti baja maupun farmasi.

Uang dolar dan rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing/money changer. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Uang dolar dan rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing/money changer. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

“Ketiga, mekanisme pasar yang semakin berkembang membuat pasar tidak hanya bergantung pada Spot dan Swap, tetapi juga Domestic Non Deliverable Forward (DNDF),” tambahnya.

Dari waktu ke waktu, volume dari transaksi DNDF terus berlangsung. Hal ini membuat likuiditas valas tetap terjaga baik di Spot, Swap, dan DNDF.

“Pelakunya pun tidak hanya dalam negeri tetapi juga investor asing yang sudah pakai DNDF,” ucapnya.

Terakhir, defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) diperkirakan Perry akan bergerak lebih rendah di tahun ini. Aliran modal asing yang terus berjalan dan semakin membaiknya neraca pembayaran dari sisi fundamental juga akan mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kontribusi neraca pembayaran menurun dan surplus neraca modal juga semakin meningkat. Keempat ini diharapkan bisa tetap menjaga stabilitas,” pungkasnya.