4 Peternak Sapi Perah Indonesia Belajar Peternakan di Belanda

“Saya enggak bisa makan. Setiap hari menunya roti dan keju. Jadi saya makan pisang saja,” kata Yanto, seorang peternak sapi perah dari Grati, Pasuruan.
“Saya enggak usah Bu, terima kasih,” jawab Mita Khofiyah, seorang peternak sapi perah dari Tulung Agung ketika disodorkan semangkuk sup tomat sebagai makanan pembuka.
“Bakery, bukan bakteri,” kata Nenih, seorang peternak sapi perah dari Lembang, Bandung. Dia menceritakan kisah lucu Yanto, yang salah mengucapkan ‘bakery’.
Abdul Hapid alias Apid, peternak sapi perah asal Pengalengan, Bandung, juga berkisah bahwa Yanto sudah bisa berbahasa Inggris. “Dia sekarang sudah tahu ‘banana’ dan ‘let’s go’,” canda Apid.
Kisah-kisah lucu ini mereka ceritakan sebagai bumbu-bumbu di akhir program Farmer2Farmer (F2F) yang sudah mereka lalui selama dua minggu di Belanda. Keempat peternak ini, Yanto, Mita, Nenih, dan Apid merupakan para peternak yang menjadi pemenang dalam program F2F yang digelar Frisian Flag Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan skill para peternak sapi perah Indonesia.
Sebagai hadiah, mereka diganjar melihat dan belajar mengenai sapi perah di Belanda. Mereka diboyong Frisian Flag selama dua minggu (23 Juni - 4 Juli 2019) di kawasan peternakan sapi perah di Belanda Utara, sekitar 1,5 jam dari Kota Amersfoort atau sekitar 2,5 jam dari Amsterdam. Kawasan peternakan sapi perah ini sangat dekat dengan Taman Nasional Drents-Friese Wold yang berada di kawasan Appelscha. Kalau dilihat dari peta, area peternakan sapi perah cukup dekat dengan perbatasan Belanda dan Jerman.
Mengapa mereka diboyong ke Belanda? Karena industri peternakan sapi perah di Belanda sangat maju. Ekonomi Belanda salah satunya sangat ditunjang oleh industri peternakan sapi perah. Belanda juga merupakan negara pengekspor hasil pertanian, termasuk susu sapi, terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Belanda memiliki 18 ribu peternak sapi perah, dengan populasi sapi perah sekitar 1,6 juta. Rata-rata seorang peternak sapi perah di Belanda memiliki 90 ekor sapi. Produksi susu yang dihasilkan tiap tahun sekitar 12,7 juta ton. Sekitar 65 persen susu yang dihasilkan Belanda diekspor ke negara-negara di Eropa dan benua lain. Hanya 35 persen susu yang dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri.
Para peternak sapi perah ini tergabung dalam sebuah koperasi, Friesland Campina. Susu-susu yang dihasilkan para peternak sapi perah dikumpulkan, dikelola, dan didistribusikan oleh Friesland Campina, yang berpusat di Amersfoort. Sudah sejak lama, industri peternakan sapi perah di Belanda dikelola secara profesional, menggunakan teknologi tinggi, dan juga sangat memperhatikan dampak lingkungan.
Beruntung buat keempat peternak sapi perah dari Indonesia yang bisa datang ke Belanda, karena cuaca cukup bersahabat. Saat ini merupakan musim panas. Suhu minimal sekitar 10 derajat Celcius, suhu maksimal sekitar 26 derajat Celcius, dengan tiupan angin yang agak kencang. Matahari terbenam sekitar pukul 22.00 dan terbit sekitar pukul 05.00.
Selama dua minggu, kecuali hari Sabtu dan Minggu, para peternak dari Indonesia tinggal di area peternakan para peternak Belanda. Beberapa hari mereka tinggal di peternakan yang sudah modern, menggunakan robot untuk kegiatan peternakan sehari-hari. Di hari-hari lain, mereka tinggal di peternakan yang masih cukup tradisional. Dengan demikian, para peternak ini bisa mendapat pengalaman yang berbeda.
Tentu, persoalan makanan dan bahasa, menjadi tantangan sendiri bagi mereka. Mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Tapi, mereka beruntung, karena ada pihak dari Frisian Flag yang mendampingi mereka dan menjadi penerjemah. Tantangan soal makanan juga berat bagi mereka, karena mereka tidak terbiasa memakan sup, roti, keju, dan makanan-makanan ala Eropa.
Saat berada bersama para peternak di Belanda, keempat peternak Indonesia mendapatkan briefing dari peternak Belanda. Mereka mendapatkan cerita pengalaman dan teori. Mereka pun diminta untuk bertanya apa saja terkait persoalan pengelolaan sapi perah. Selain mendapat briefing, mereka juga bisa melihat dan praktek langsung dalam pengelolaan sapi perah tiap hari. Ini sangat berguna bagi mereka saat mereka kembali ke Indonesia.
kumparan berkesempatan menyaksikan bagaimana Mita dan Yanto saat berada di peternakan Paul Sinnige. Begitu mereka datang, Paul yang merupakan peternak muda berusia 36 tahun, menyambut mereka dengan gembira. Paul sedang mengemudikan traktor saat Mita dan Yanto tiba di peternakannya sekitar pukul 09.30. Dia bergegas turun dari traktornya, dan menyalami Mita dan Yanto.
“Kita briefing dulu di lantai atas, setelah itu kita jalan lihat-lihat kandang dan area peternakan,” kata Paul.
Paul mengajak ke lantai dua kandang sapi perahnya. Dari lantai dua ini, Mita dan Yanto bisa melihat dengan jelas sapi-sapi perah milik Paul.
Briefing salah satunya membahas mengenai penanganan sapi saat kering kandang. Masa kering kandang biasanya diperlakukan kepada sapi 8 minggu sebelum melahirkan. Sapi itu tidak diperah lagi, karena untuk persiapan melahirkan. Paul membahas hal ini karena Yanto dan Mita menceritakan bahwa sapi perah yang mereka miliki tiba-tiba produksinya jatuh drastis setelah masa puncak laktasi.
Menurut Paul, produksi terjun bebas karena selama ini peternak sering tidak memperhatikan makanan sapi saat kering kandang.
“Kalau saat kering kandang, sapi-sapi bapak dan ibu coba kasih makanan rumput saja, untuk memperbanyak serat. Jangan dikasih konsentrat. Masa kering kandang ini sangat krusial, jadi tolong diperhatikan betul,” kata Paul sambil juga menjelaskan teorinya.
Ternyata Mita dan Yanto baru mengetahui hal ini, padahal mereka sudah lebih dari 10 tahun beternak sapi perah. Mereka sangat antusias mendapat informasi ini.
“Saya baru paham, nanti saya akan coba lakukan,” kata Yanto yang memiliki 8 sapi.
Peternak sapi di Belanda dan peternak sapi Indonesia memang tidak bisa dibandingkan. Peternak Belanda rata-rata memiliki 90 ekor sapi perah. Mereka juga memiliki lahan yang sangat luas. Ini berbeda dengan peternak sapi perah di Indonesia, yang rata-rata memiliki sapi perah hanya 10 ekor. Lahan yang dimiliki peternak Indonesia juga sempit.
Paul memiliki sekitar 160 sapi perah, yang 120 di antaranya sedang laktasi. Dia memiliki lahan sekitar 115 hektare, sebagian kecil untuk kandang dan sebagian besarnya untuk lahan rumput dan menanam jagung. Paul juga memiliki kandang yang sangat bagus, modern, dan relatif baru. Dia merenovasi kandangnya dengan mengeluarkan biaya sekitar 1 juta Euro. Paul sudah memanfaatkan robot untuk mengelola peternakannya.
Salah satunya bisa dilihat dari pemerahan sapi. Paul sudah tidak perlu susah-susah memasangkan alat perah ke puting susu sapi. Dengan sistem robot, sapi perah bisa kapan saja ingin diperah. Sapi tinggal datang ke ruang pemerahan dan mesin pemerahan sapi akan langsung bekerja secara otomatis. Dengan penggunaan sistem robot, sapi rata-rata mengalami pemerahan susu sekitar 3-4 kali. Ini berbeda dengan kebiasaan pemerahan sapi di peternakan tradisional, yang biasanya hanya mengalami pemerahan 2 kali, di pagi dan sore hari.
Kalau Yanto dan Mita berada di peternakan Paul, Nenih dan Apid memiliki kesempatan bertandang ke peternakan Adinda Roerink. Adinda juga memiliki peternakan yang modern sebagaimana Paul. Jumlah sapi Adinda dan lahan yang ia miliki juga tidak jauh berbeda dengan Paul.
Nenih dan Apid juga berkesempatan belajar dengan Minne Holtrop, seorang peternak yang memiliki 200 ekor sapi laktasi. Minne mengelola peternakannya dengan lebih sederhana, dengan mesin perah otomatis sistem rotary, namun belum menggunakan robot. Nenih dan Apid selama 2 jam juga mendapatkan ilmu bagaimana menyediakan dan memberikan pakan yang baik untuk sapi perah. Minne mengajak mereka berdua berhitung mengenai kebutuhan energi dan protein untuk sapi.
Ilmu dan pengalaman baru dari para peternak sapi di Belanda ini tentu sangat berharga untuk Yanto, Mita, Apid, dan Nenih. Mereka sangat senang bisa melihat dan meras langsung menjadi peternak di Belanda. Pengalaman dan kesan terkait pengelolaan sapi perah ini pasti lebih menarik buat mereka dibanding hanya pengalaman soal bahasa Inggris dan makanan.
“Saya baru kali ini mengemudikan traktor. Saya kemarin diminta Paul untuk mengumpulkan hay (rumput kering) dengan traktor,” kata Yanto antusias.
“Ternyata susah ya memanen rumput,” kata Mita, seusai diminta mencoba mengemudikan traktor pemotong rumput yang berukuran besar saat bertemu peternak Belanda, Gerben Smeekh.
“Saya diminta memerah 200 ekor sapi. Tapi saya kesulitan memasangkan alatnya ke puting susu sapi, karena saya kurang tinggi,” kata Nenih.
“Di Bu Dinda, saya juga diajari bagaimana cara mengetahui sapi berahi yang pas. Karena sapinya tinggi-tinggi, terpaksa saya berdiri di atas ember,” ujar Nenih lagi.
“Saya diajari Sama Bu Dinda bagaimana memotong kuku sapi yang benar. Baik sekali Bu Dinda, saya dihadiahi alat pemotong kuku,” kata Apid.
Masih banyak hal-hal baru yang dilihat dan dipelajari oleh Yanto, Mita, Nenih, dan Apid. Apalagi pada Rabu, 3 Juli 2019, mereka dibawa ke Campus Dairy, yang merupakan lembaga penelitian terkait sapi perah. Ini lembaga independen terkait penelitian sapi perah di Belanda. Mereka juga dibawa untuk melihat CRV, lembaga koperasi yang menjadi pusat breeding sapi perah di Belanda. Di kedua tempat ini, keempat peternak Indonesia ini mendapatkan informasi dan ilmu yang sangat bermanfaat.
Kamis, 4 Juli 2019, malam, para peternak Indonesia ini akan kembali ke Indonesia. Mereka bertekad akan mempraktekkan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan di Belanda untuk memperbaiki peternakan sapi perah mereka. Tujuannya, agar produksi susu sapi mereka meningkat. Saat ini, produksi susu sapi perah di peternakan rakyat di Indonesia rata-rata 12 liter per hari. Sementara produksi susu sapi perah di Belanda rata-rata 27 liter per hari.
