47 Persen Lapangan Minyak di Indonesia Berusia di Atas 50 Tahun

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat Indonesia banyak memiliki lapangan minyak yang sudah berusia tua. Lapangan-lapangan ini adalah warisan di masa lalu saat produksinya masih tinggi.
Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, mengatakan jumlah lapangan tua di Indonesia saat ini jumlahnya mencapai sekitar 47 persen. Lapangan tersebut sudah beroperasi selama puluhan tahun.
“Dari statistik memang 47 persen lapangan kita umurnya di atas 25-50 tahun. Jadi kalau lihat production profile, mature field kita ini bagian buntutnya saja. Kalau buntut, produksinya turun, cost-nya naik,” kata Amien dalam sambutannya di diskusi energi di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (7/11).
Biaya investasi yang diperlukan dari lapangan tua ini memang besar. Alasannya karena produksi sudah turun dan perusahaan membutuhkan teknologi yang lebih modern untuk bisa menemukan minyak di dasar laut atau tanah yang semakin dalam.
Salah satu perusahaan yang mengelola lapangan tua adalah PT Pertamina EP (PEP), anak usaha PT Pertamina (Persero) di bidang hulu. Presiden Direktur PEP Nanang Abdul Manaf mengatakan, perusahaan memiliki 300 lapangan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesai dari Sabang sampai Merauke.
Sayangnya, kata dia, mayoritas lapangan itu berusia tua. Meski begitu, PEP tetap masih bisa memproduksi minyak dari sana. “(PEP) 300 lapangan, (sebanyak) 90 persen itu lapangan tua. Umurnya lebih dari 40 tahun. Tapi kami tetap bisa produksi,” kata Nanang.

Nanang menjelaskan, 90 persen lapangan tua itu kebanyakan berada di daerah remote yang membuat biaya produksi sudah pasti lebih tinggi di banding lapangan yang lokasinya strategis. Selain itu, ada juga proyek lain yang menjadi tumpuan perusahaan seperti lapangan yang ada di Jawa Barat dan Sumatera Selatan.
“Backbone kita di Jabar dan Sumatera Selatan. Ada juga proyek on going. Ini proyek EP bisa survive. Ada tambahan produksi baru dan ini green field. Kita memang tidak pernah nemuin signifikan discovery. Kita cuma bisa survive supaya decline enggak banyak,” jelasnya.
Nanang mengakui tantangan terbesar lapangan tua ini adalah bagaimana caranya menekan decline. Dia menjelaskan secara umum, decline pada 2017 hanya 2,5 persen. Dia berharap pada 2018 sampai Juli incline 5 persen.
“Ini harapannya dari lapangan baru dan aset baru, yaitu Sukowati. Ini strategi detailnya, bagaimana kita melakukan upaya peningkatan produksi Pertamina EP. PODc discovery baru, lapangan lama tapi bisa potensial untuk bisa workover, aset 3 kita juga ada beberapa pertemuan. Strategi lain adalah dengan eksplorasi,” jelasnya.
