Kumparan Logo

5 Hal Tentang Saham Uber yang Resmi Melantai di Wall Street

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aplikasi Uber. Foto: REUTERS/Tyrone Siu
zoom-in-whitePerbesar
Aplikasi Uber. Foto: REUTERS/Tyrone Siu

Perusahaan taksi online berbasis aplikasi, Uber, resmi melantai di bursa pada Jumat (10/5) waktu Amerika Serikat (AS). Emiten berkode sama dengan nama perusahaannya itu, menjual sahamnya di New York Stock Exchange.

Penjualan saham Uber sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun lalu. Tapi terus tertunda, hingga baru terwujud kali ini. Berikut 5 hal yang perlu diketahui tentang saham Uber.

  1. Harga Saham
 Saham Uber ditawarkan pada harga nominal USD 45. Angka itu ada di batas bawah, karena sebelumnya diproyeksikan antara USD 44 hingga USD 50 per saham. Adapun jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 180 juta saham biasa. 

 Kapitalisasi pasar Uber saat penjualan saham perdananya mencapai USD 82,4 miliar atau sekitar Rp 1.183 triliun. Dengan angka itu, kapitalisasi Uber di bawah target yang semula sebesar USD 90 miliar. Posisinya di Wall Street sedikit di atas Morgan Stanley.


  2. Kedua Terbesar
 Dengan kapitalisasi saat IPO yang sebesar itu, Uber jadi perusahaan teknologi kedua terbesar setelah Facebook. Nilai kapitalisasi saat IPO-nya masih jauh di atas Google, yang ada di posisi ketiga.



    embed from external kumparan

  3. Belajar dari Kesalahan Lyft Uber menetapkan harga saham di batas bawah, setelah belajar dari kesalahan yang dilakukan pesaingnya, yakni Lyft. Selain itu, Uber juga ingin menarik minat pengelola reksa dana raksasa yang biasanya mencari harga IPO rendah. 

Lyft juga perusahaan teknologi penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi. Uber dan Lyft bersaing sengit di AS. Saham Lyft laris saat IPO dengan harga penawaran di batas atas, tetapi langsung anjlok di bursa saham pada hari perdagangan perdana. 


  4. Operasional Perusahaan
 Uber saat ini beroperasi di lebih dari 700 kota yang tersebar di 63 negara. Selain dari operasional taksi online, sumber pendapatannya telah terdiversifikasi dengan penyewaan sepeda dan skuter, pengiriman makanan, dan ekspedisi. 



    Pendiri Uber Travis Kalanick hadir di Bursa Saham New York saat perusahaan itu resmi menjual sahamnya pada Jumat (10/5). Foto: Reuters/Brendan McDermid

    Di tengah langkah besar masuk bursa saham, ribuan mitra pengemudinya di berbagai negara berunjuk rasa. Mereka menganggap patokan tarif yang diberlakukan terlalu rendah, sehingga menuntut kenaikan. Uber juga diprotes oleh sopir taksi yang lebih dulu beroperasi di berbagai kota dunia.

  1. Kinerja Keuangan 
Uber menjual sahamnya di Wall Street dengan laporan keuangan tahun 2018. Dalam laporannya ke Security Exchange Committee (SEC) atau OJK-nya Amerika Serikat (AS), pada 2018 lalu Uber melaporkan pendapatan sebesar USD 11,3 miliar. 

 Sementara angka kerugiannya pada tahun itu, sebesar USD 1,85 miliar atau sekitar Rp 16,3 triliun. Kinerja keuangan Uber tahun lalu, pendapatannya naik 43 persen. Sementara angka kerugiannya turun dibandingkan 2017 yang sebesar USD 2,2 miliar atau sekitar Rp 31,2 triliun.

embed from external kumparan