50 Persen Bahan Baku Batik Indonesia Diimpor dari AS hingga China

2 Oktober 2018 18:06
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Proses pembuatan Batik Blora "Krajan Pratiwi" (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pembuatan Batik Blora "Krajan Pratiwi" (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
ADVERTISEMENT
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan, sekitar 50 persen bahan baku batik Indonesia masih harus diimpor dari luar negeri. Bahan baku tersebut didatangkan dari berbagai negara seperti Amerika Serikat (AS), Mesir dan China.
ADVERTISEMENT
Bahan baku impor tersebut, antara lain cat warna sintetis, bahan serat kapas, dan mesin printing batik. Bahan-bahan baku tersebut ada yang tidak diproduksi dalam negeri, ada juga yang kualitasnya kurang bagus.
"Misalnya serat kapas, kita punya tapi spesifikasinya tidak bagus. Sehingga kalau dipintal dia cepat putus. Bahan baku impor sebagian besar itu ya 50 persen," ucap Direktur Jenderal IKM Kemenperin, Gati Wibawanigsih, kepada kumparan, Selasa (2/10).
Pembuatan batik Pekalongan (Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra)
zoom-in-whitePerbesar
Pembuatan batik Pekalongan (Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra)
Gati menambahkan, saat ini pemerintah terus mendorong produksi batik. Hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan biaya impor bahan baku.
"Untuk menekan impor, yang paling penting pasar batik di Indonesia itu diperluas. Caranya diperkenalkan lebih banyak lagi ke lapisan masyarakat," tuturnya.
Selanjutnya di Hari Batik Nasional ini, Gati berharap agar lebih banyak lagi masyarakat sadar akan batik sebagai identitas budaya bangsa. Gati pun mendorong agar Pemerintah Daerah (Pemda) terus mendorong seluruh masyarkat agar menggenakan batik di Hari Batik Nasional tahun depan.
ADVERTISEMENT
"Tahun depan di Hari Batik tanggal 2 Oktober seluruh rakyat Indonesia harus pakai batik. Ini harus dihimbau juga oleh pemerintah daerah. Karena kalau bukan kita pakai batik siapa lagi?" pungkasnya.