59 Hari Tak Turun Hujan, Triputra Agro Perkuat Upaya Cegah Karhutla

59 hari sudah Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, tak diguyur hujan. Ini total hitungan hari hingga Kamis (27/8).
Cuaca panas berkepanjangan itu membuat Triputra Agro Persada Tbk (TAP) memperketat pengawasan terhadap munculnya titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah anak usaha mereka, PT Gawi Bahandep Sawit Mekar (GBSM).
General Manager Region Kalteng dan Sumatera PT Triputra Agro Persada Tbk Japatar Banjarnahor mengungkapkan, meningkatnya ancaman karhutla di Kalimantan membuat perusahaan kini lebih memfokuskan pencegahan karhutla ketimbang operasional.
Dengan upaya tersebut, Japatar menegaskan sampai hari ini belum ada titik api atau hotspot yang muncul di dalam wilayah operasional. TAP juga turut memantau dan bahkan terlibat memadamkan bila ada titik api di sekitar wilayah perbatasan.
"Jadi kalau instruksi manajemen, nomor 1 adalah karhutla. Operasional itu udah nomor 2. Jadi bukan lagi ke profit ini. Bagaimana supaya nggak kejadian," ujar Japatar saat akan menggelar patroli terpadu pencegahan karhutla di PT GBSM pada Kamis (27/8).
Sejalan dengan instruksi tersebut, kata Japatar, berbagai upaya pencegahan karhutla pun semakin ditingkatkan. Mulai dari patroli gabungan yang digelar semakin rutin tiap minggunya, sampai dengan pemantauan dari jalur darat, sungai, menara pantau, dan bahkan menggunakan drone.
Di samping mereka juga punya satgas pencegahan karhutla sendiri, lengkap dengan petugas pemadam kebakaran yang merupakan para pekerja yang sudah mendapat pelatihan intensif.
"Jadi kalau tentang ke produksi dan lain-lain, jelas berkurang sekali. Karena apa? Tim kita akan tersedot untuk pengendalian karhutla ini. Itu tim juga dari tenaga panen, tenaga rawat tim yang lain-lain lah, jadi ini akan diambil," sambungnya.
Ia menjelaskan, bagi TAP, pengendalian karhutla tidak dimulai ketika api sudah terlihat. Kesiapsiagaan dibangun jauh sebelumnya melalui pencegahan, deteksi dini, kesiapan personel, sarana pendukung, serta kolaborasi bersama masyarakat dan pemerintah.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen TAP Untuk Negeri dalam menjaga lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan termasuk di GBSM ini.
“Kesiapan harus dibangun jauh sebelum itu, dan dilakukan sepanjang tahun. Karena itu, pendekatan kami bukan hanya pemadaman, tetapi mencakup pencegahan, deteksi dini, kesiapan personel, edukasi, hingga kolaborasi dengan masyarakat,” jelasnya.
Kesiapsiagaan karhutla di GBSM didukung oleh 585 personel satgas pengendalian karhutla. Satgas ini terbagi lagi ke dalam satgas estate, regu inti, dan regu pendukung.
Para personel ini ditempa dengan pengalaman latihan bersama Manggala Agni sejak 2016. Sejak 10 tahun lalu itu, tercatat 79 personel telah mengantongi pengalaman latihan.
Tak hanya itu, mereka yang sebelumnya hanya terbiasa dengan peralatan kebun, dilatih penggunaan peralatan sampai penanganan kondisi darurat di lapangan.
Danramil Seruyan Hilir Supriyono yang ikut dalam patroli gabungan mengamini kesiapan TAP dalam pencegahan karhutla. "Kegiatan GBSM ini telah dilaksanakan dengan baik, sudah jelas kesiapan dan komitmennya mendukung penanganan karhutla," tuturnya.
Teknologi Satelit sampai Menara Pantau Api
Supaya titik api bisa dideteksi lebih awal, GBSM menerapkan Early Warning System (EWS) hotspot yang memanfaatkan deteksi satelit. Informasi titik panas disampaikan secara realtime, lengkap dengan tingkat kewaspadaan dan peta koordinat.
Patroli juga dilakukan berdasarkan tingkat kerawanan atau Fire Danger Rating (FDR), dengan frekuensi patroli yang disesuaikan dari kondisi rendah hingga ekstrem. Sistem deteksi tersebut didukung berbagai sarana pengendalian karhutla. Mulai dari 146 papan FDR, 89 embung air, 45 menara pantau api, dan 9 unit drone.
Keberadaan tim dan prasarana milik GBSM ini juga diakui Kapolsek Seruyan Hilir Ipda Eko Andrianto cukup membantu juga bila terjadi kebakaran di luar area operasional. "Selama ini kami banyak dibantu GBSM (dalam penanganan karhutla)," jelasnya.
Selain penguatan dari sisi internal, perusahaan juga mendorong agar masyarakat desa sekitar turut mencegah terjadinya titik api. Di sekitar wilayah operasional GBSM, pendekatan ini diwujudkan melalui Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) dan Desa Makmur Peduli Api (DMPA).
Ini juga diperkuat dengan adanya pemberian penghargaan bagi desa yang sepanjang tahun tercatat tidak muncul titik api di sana.
"Kita di sini reward Rp 100 juta, kalau tidak ada karhutla dalam 1 tahun per desa," ujarnya.
