Kumparan Logo

6 Tahun Disuspen, BLTA Minta Saham Perseroan Bisa Diperdagangkan Lagi

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur PT Berlian Laju Tanker Tbk (Foto:  Ela Nurlaela/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Direktur PT Berlian Laju Tanker Tbk (Foto: Ela Nurlaela/kumparan)

Saham PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) dihentikan sementara perdagangan sahamnya (suspensi) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2012 lalu.

Kini, perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa transportasi laut itu tengah berjuang agar saham perseroan bisa diperdagangkan kembali di pasar modal.

Direktur BLTA Anthony Budiawan mengatakan, pihaknya akan kembali bertemu dengan pihak BEI untuk meminta agar saham perusahaan bisa dibuka kembali.

"Minggu depan atau dua minggu lagi kami berencana untuk melakukan pertemuan. Perusahaan terus berupaya minta kepada BEI agar segera dapat mencabut suspensi saham perseroan," kata Anthony dalam acara public expose di Gedung BEI, Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (16/3).

Menurut Anthony, perusahaan menargetkan bisa kembali membuka sahamnya di papan perdagangan pada kuartal tiga tahun ini. Dia mengklaim, perusahaan sudah tidak masuk kategori gagal bayar karena perusahaan telah merestrukturisasi utang dengan mengkonversi utang menjadi saham melalui penerbitan saham baru Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (non-HMETD) atau private placement.

IHSG ditutup melemah (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
zoom-in-whitePerbesar
IHSG ditutup melemah (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Perusahaan menyatakan debt standstill dan mendapat proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dari salah satu krediturnya pada 14 Juni 2012.

"Sesuai amandemen restrukturisasi utang persiapan yang telah disetujui oleh mayoritas kreditur di rapat kreditur tanggal 14 Agustus 2015, utang tanpa jaminan perseroan dikonversi menjadi saham baru seri A sebanyak 11,9 miliar lembar saham dengan nominal saham Rp 62,5," jelasnya.

Lebih lanjut Anthony menjelaskan, sampai dengan 28 Februari, sertifikat saham tersebut telah diambil kreditur sebanyak 9,14 miliar saham. Sementara sisanya sebanyak 2,79 miliar saham belum diambil oleh ex pemegang obligasi HY dan CB.

Menurut Anthony, diberhentikannya perdagangan saham perseroan tersebut secara tidak langsung berpengaruh secara psikologis terhadap kinerja perusahaan. Salah satunya dalam memperoleh pinjaman dana dari perbankan.

"Kita tahu lah bank gimana bisnisnya, kalau kita bagus mereka semua menyodorkan uang. Kalau kita lagi susah semua narik. Itu adalah suatu realitas yang harus dimaklumi. Jadi kita harus bisa membuktikan sampai sekian tahun kita sudah oke baru kemungkinan dibuka," ujarnya.