7 Perusahaan Masuk Antrean IPO per Oktober 2026, Sektor Kesehatan-Energi

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sampai 2 Oktober lalu, terdapat 7 perusahaan yang sudah masuk ke dalam antrean atau pipeline pencatatan (IPO). Perusahaan tersebut juga berasal dari beragam sektor.
Dikutip dari data BEI pada Minggu (4/10), 7 perusahaan tersebut terdiri dari 4 perusahaan sektor kesehatan, 2 perusahaan sektor energi dan 1 perusahaan sektor industri.
Sementara dari segi aset, 3 perusahaan di antaranya merupakan perusahaan dengan aset menengah atau setara Rp 50 sampai 250 miliar. Setelah itu, 2 perusahaan lagi merupakan perusahaan dengan aset kecil atau di bawah Rp 50 miliar dan 2 perusahaan sisanya merupakan perusahaan dengan aset besar atau di atas Rp 250 miliar.
Sedangkan dari sisi perusahaan yang sudah melakukan IPO pada 2026, BEI mencatat baru ada 7 perusahaan. Adapun total dana dihimpun dari 7 perusahaan yang sudah IPO pada 2026 tersebut mencapai Rp 2,16 triliun.
Adapun untuk tahun 2026, BEI sebenarnya menargetkan terdapat 50 perusahaan yang melakukan IPO sepanjang tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun 2025 yang diproyeksikan melampaui target awal 45 perusahaan tercatat.
Untuk pipeline obligasi, BEI sampai 2 Oktober lalu mencatat sudah ada 24 emisi dari 17 penerbit EBUS yang sudah berada dalam antrean. Dari sisi sektor, 2 perusahaan berasal dari sektor basic materials, 4 perusahaan sektor energi, 6 perusahaan sektor keuangan, 1 perusahaan sektor industri, 3 perusahaan sektor infrastruktur dan 1 perusahaan sektor properti.
Secara keseluruhan, sampai saat ini sudah ada 135 emisi dari 62 penerbit EBUS yang diterbitkan pada 2026. Dari situ, terdapat dana yang dihimpun sebesar Rp 132,98 triliun.
Bergeser ke pipeline aksi korporasi, per 2 oktober masih ada 1 perusahaan yang ada dalam antrean tersebut. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan dari sektor properti. Adapun sepanjang tahun ini, sudah ada 15 perusahaan tercatat yang melakukan aksi korporasi atau menerbitkan right issue dengan total nilai Rp 16,23 triliun.
