Kumparan Logo

81 Saham HSC Keluar dari IHSG, Analis Prediksi Potensi Rotasi Dana

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi IHSG. Foto: Devara Udayana/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi IHSG. Foto: Devara Udayana/Shutterstock

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengeluarkan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari kriteria seleksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai hari ini, Senin (2/11).

Berdasarkan data BEI terbaru, ada 81 saham yang masuk kategori HSC hingga akhir Oktober 2026. Dengan kebijakan itu, saham-saham HSC tetap bisa diperdagangkan di bursa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi IHSG.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai dampak kebijakan tersebut terhadap IHSG cukup signifikan, terutama dari sisi perubahan bobot dan kontribusi saham-saham HSC terhadap indeks.

Namun, menurutnya, penghapusan saham HSC tidak serta-merta membuat IHSG bergerak lebih rendah. Perubahan yang terjadi lebih berkaitan dengan penyesuaian komposisi indeks.

“Namun, dampaknya tidak serta-merta membuat IHSG bergerak lebih rendah. Akan ada penyesuaian komposisi sehingga pergerakan indeks bisa berbeda dibandingkan sebelumnya,” ujar Elandry kepada kumparan, Senin (2/11).

Elandry menilai kebijakan HSC yang dikeluarkan perhitungan indeks berpotensi membuat IHSG lebih mencerminkan kondisi pasar secara luas. Sebab, selama ini konsentrasi kepemilikan pada saham tertentu membuat pergerakan indeks kurang merepresentasikan kondisi mayoritas saham.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai pengeluaran saham HSC penting untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas IHSG.

Menurut Nafan, kebijakan ini berpotensi mengurangi distorsi pergerakan indeks akibat saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Meski demikian, dampaknya dalam jangka pendek cukup signifikan karena ada penyesuaian terhadap saham-saham yang sebelumnya berkontribusi terhadap kapitalisasi pasar IHSG.

“Dampak tersebut tidak serta-merta mencerminkan perubahan fundamental pasar, melainkan lebih disebabkan oleh perubahan metodologi perhitungan indeks. Oleh karena itu, investor perlu membedakan antara penyesuaian indeks secara teknis dengan perubahan sentimen dan fundamental emiten,” jelas Nafan.

video story embed

Potensi Rotasi Aliran Dana

Selain mengubah komposisi indeks, kebijakan ini juga berpotensi mempengaruhi strategi investasi manajer investasi, khususnya pengelola reksa dana berbasis indeks.

Elandry mengatakan manajer investasi perlu menyesuaikan portofolio agar tetap sejalan dengan benchmark terbaru. Sementara itu, investor ritel perlu lebih selektif dengan mempertimbangkan fundamental, likuiditas, dan kualitas tata kelola emiten.

Dia juga melihat adanya potensi pergeseran aliran modal atau capital flow. Saham-saham HSC berpeluang kehilangan sebagian daya tarik dari investor institusi yang mengacu pada IHSG. Sebaliknya, saham non-HSC berpotensi memperoleh tambahan alokasi dana karena bobotnya dalam indeks meningkat.

“Bukan berarti dana otomatis keluar dari saham HSC. Arah aliran dana tetap bergantung pada strategi investor dan manajer investasi,” lanjut Elandry.