Kumparan Logo

AAJI: Penyelamatan Jiwasraya Pulihkan Kepercayaan di Industri Asuransi

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Asuransi Jiwasraya. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Asuransi Jiwasraya. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), menyebut restrukturisasi asuransi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menambah kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon, menyampaikan bahwa kerja keras yang dilakukan oleh Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya juga menjadi titik terang bagi pemegang polis dalam upaya pengembalian dana mereka.

"Terbayang oleh kita, atas kerja keras yang luar biasa di Tim Percepatan Restrukturisasi itu. Di mana pencapaian saat ini yang mendapatkan kepercayaan dari pemegang polis dengan deadline 31 Mei 2021 ini. Kami mewakili AAJI mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya," ujar Budi dalam webinar IFG Progress, Rabu (28/4).

Adapun hingga 27 April 2021, pemegang polis yang ikut dalam program restrukturisasi Jiwasraya terus mengalami peningkatan. Misalnya saja pemegang polis Bancassurance, yang saat ini sudah mencapai 93 persen atau 16.223 polis.

Sementara itu, pemegang polis Korporasi yang ikut restrukturisasi mencapai 82,8 persen atau 1.774 polis. Di sisi lain, pemegang polis ritel sudah mencapai 75,3 persen atau 134.792 polis.

Budi melanjutkan, kepercayaan masyarakat atau pemegang polis dalam mengikuti program restrukturisasi juga karena adanya perusahaan asuransi baru, IFG Life, yang akan menaungi seluruh polis yang sudah direstrukturisasi.

"Suatu hal yang menggembirakan atas terbitnya izin operasional IFG Life. Ini menjadi titik terang bagi anggota kami yang selama ini mengalami kesulitan yang berdampak kepada pemegang polis dan kepercayaan," jelasnya.

Dia menjelaskan, masalah yang ada di Jiwasraya sebenarnya bukan terjadi dalam satu atau dua tahun ini. Hal tersebut terjadi karena adanya pembiaran masalah likuiditas perusahaan yang cukup lama.

Ilustrasi Asuransi Jiwasraya. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Bahkan, menurut Budi, masalah di Jiwasraya bukan karena salah penerbitan produk melainkan adanya salah pengelolaan produk terlebih desain bunga produk yang tinggi.

"Produk yang dijual oleh Jiwasraya ini sesungguhnya juga dijual oleh perusahaan lain juga. Tercatat ada sekitar 22 perusahaan yang menjual produk serupa dari 60 perusahaan asuransi dan tidak semua bermasalah. Tapi di Jiwasraya salah pengelolaannya dan desainnya terlalu agresif," jelas dia.

Menurut Budi, restrukturisasi Jiwasraya akan meningkatkan kepercayaan masayarakat untuk kembali ikut dalam asuransi. Hal itu sebagai bukti nyata bahwa pemegang saham hadir ketika perusahaan tengah menghadapi gagal bayar.

Tak hanya itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah mengeluarkan beragam aturan untuk memperketat penyelenggaran di sektor asuransi ini.

Budi juga menyarankan masyarakat untuk membeli produk asuransi jiwa dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama, modal perusahaan. Kedua, tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Ketiga, reputasi perusahaan.

"Untuk perusahaan hal itu harus dipublish di website perusahaan setiap tiga bulan. Juga di koran atau media masa dan sifatnya wajib," tambahnya.