Ada China di Balik Kenaikan Harga Daging Sapi

Kenaikan harga daging sapi membuat pedagang mengancam mogok berjualan mulai hari ini. Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDIAPDI), mengungkapkan salah satu penyebab kenaikan harga daging sapi lantaran tingginya permintaan dari berbagai negara, salah satunya China.
Ketua Umum Harian APDI, Asnawi, mengatakan saat ini China menjadi salah satu konsumen terbesar daging sapi dari Australia. Sementara, pasokan daging sapi Indonesia paling banyak dari Australia.
"Faktor lain itu di mana Australia negara produsen. Sesama negara konsumen bukan Indonesia saja, termasuk China." katanya kepada kumparan, Rabu (20/1).
Ia mengatakan, tingginya konsumsi daging sapi di China, setelah negara tersebut diterpa masalah virus babi. Karena tingginya kebutuhan daging sapi, China mengimpor dari Australia.
"Kasus di China tentang virus babi itu kan mereka terpapar juga dengan COVID-19. Yang biasa babi, sekarang ke sapi," lanjutnya.
Akibat tingginya permintaan daging sapi di China, harga daging sapi di Australia pun meningkat. Menurut dia, sejak Juli 2020, harga daging sapi bakalan dari Australia sudah naik Rp 13.000 per kg.
Menurut Asnawi, pada Juli 2020, harga daging sapi sudah mencapai USD 3,6 per 1 kg bobot hidup sapi bakalan. Sementara pada Januari-Februari 2021 harganya sudah masuk USD 3,9 per 1 kg.
"Belum biaya-biaya bongkar muat pelabuhan dan transportasi angkutan," katanya.
