Kumparan Logo

Afrika Jadi Pasar Baru Mobil China, Chery Akuisisi Pabrik Nissan di Afsel

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Chery. Foto: Dima Plotnikov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Chery. Foto: Dima Plotnikov/Shutterstock

Produsen otomotif China, Chery, mengakuisisi bekas pabrik Nissan di Rosslyn, dekat Pretoria, Afrika Selatan. Chery berencana memproduksi kendaraan plug-in hybrid, kendaraan listrik berbasis baterai (EV), serta model-model dari merek Jetour di fasilitas tersebut.

Perusahaan tersebut semakin gencar mengalihkan strategi dari mengekspor kendaraan menjadi membangun fasilitas produksi di Afrika.

Langkah ini juga didorong keyakinan bahwa urbanisasi yang pesat, pertumbuhan kelas menengah, serta kebijakan pemerintah yang mendukung, bakal menjadikan Afrika sebagai salah satu pasar pertumbuhan bagi industri otomotif.

Strategi itu pun menjadi bagian dari upaya menghadapi perlambatan permintaan di pasar domestik China, serta meningkatnya hambatan perdagangan di Eropa dan Amerika Utara.

Para analis menilai, pergeseran ini berpotensi mengubah industri otomotif Afrika dengan menciptakan lapangan kerja, mengembangkan rantai pasok lokal, dan mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV). Namun, lemahnya infrastruktur dan ketidakpastian kebijakan masih menjadi hambatan yang signifikan.

Beijing Automotive Group (BAIC) telah memiliki fasilitas manufaktur dan perakitan kendaraan di Gqeberha atau Port Elizabeth, Afrika Selatan. Sementara itu, Great Wall Motor dari China juga memiliki kapasitas perakitan lokal dan distribusi komponen di negara tersebut.

“Afrika telah dikenal sebagai next frontier bagi pasar otomotif,” kata Direktur Eksekutif The Electric Mission, Hiten Parmar, dikutip dari AP News.

Mengunjungi fasilitas produksi Chery di Wuhu, Anhui, China, Kamis 9 Februari 2023. Foto: dok. Chery International

Transisi ke EV Semakin Cepat di Afrika

Para analis menilai Afrika Selatan, Maroko, Kenya, Ethiopia, dan Ghana merupakan sejumlah negara yang paling siap menarik investasi EV dari China. Sebab negara-negara itu memiliki kapasitas industri, kebijakan yang mendukung, atau infrastruktur kelistrikan yang terus berkembang.

Maroko juga diuntungkan oleh kedekatannya dengan pasar ekspor Eropa, sementara cadangan litium yang besar di Zimbabwe berpotensi mendukung rantai pasok baterai.

Manufaktur lokal pada akhirnya dapat menurunkan harga kendaraan dengan menghindari bea masuk, sekaligus mendorong investasi pada infrastruktur pengisian daya, manufaktur komponen, dan produksi baterai. Gigafactory baterai berskala besar pertama di Afrika juga telah direncanakan dibangun di Maroko.

Urbanisasi yang pesat, peningkatan pendapatan, serta harga merek-merek China yang relatif terjangkau memungkinkan produsen otomotif China merebut pasar yang secara historis didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

“Selama ini konsumen Afrika bergantung pada mobil bekas, tetapi keterjangkauan merek-merek Asia memberikan akses yang lebih luas terhadap kendaraan baru,” ujar Parmar.

Sementara itu analis riset transisi energi di Zero Carbon Analytics, Nick Hedley, mengatakan pertumbuhan populasi Afrika yang pesat dan ekspansi kelas menengah menciptakan pasar alami bagi kendaraan listrik yang terjangkau. Hal itu juga dapat membantu pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

“Afrika juga merupakan importir bersih bahan bakar olahan, yang menguras cadangan devisa serta membebani mata uang dan anggaran negara. Beralih ke mobil listrik yang diproduksi secara lokal merupakan kepentingan nasional negara-negara Afrika,” kata Hedley.

“Seiring kendaraan listrik menjadi semakin kompetitif dari sisi biaya, adopsinya akan semakin cepat di Afrika, dan produsen otomotif China akan mendapatkan keuntungan,” lanjut Hedley.

Pergeseran tersebut juga didorong oleh perubahan kondisi ekonomi di China. Managing Director CrossBoundary Group, Tombo Banda, mengatakan pabrik-pabrik China memproduksi lebih banyak kendaraan dibandingkan yang mampu diserap pasar domestik, sementara ekspor menghadapi semakin banyak hambatan.

“Melokalkan produksi di benua Afrika merupakan investasi jangka panjang yang masuk akal,” kata Banda.

Ia menilai, manufaktur lokal membantu perusahaan menghadapi tarif sekaligus menempatkan mereka lebih dekat dengan pasar yang berkembang pesat.