Kumparan Logo

Agrinas Jaladri Bakal Jadi Pengelola Tambak Ikan Seluas 20,4 Hektare di Pantura

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polisi saat mendatangi tambak yang ikannya mati mendadak di Sayung, Demak. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Polisi saat mendatangi tambak yang ikannya mati mendadak di Sayung, Demak. Foto: Dok. Istimewa

Salah satu BUMN di sektor perikanan yakni PT Agrinas Jaladri (Persero) akan terlibat dalam proyek revitalisasi tambak ikan seluas 20.413,25 hektare di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa Barat.

Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan BUMN perikanan ini sebagai pengelola proyek tambak ikan itu.

“Agrinas Jaladri diharapkan nanti sebagai operator di sini untuk kegiatan on-farm,” kata Trenggono dalam Penandatanganan MoU Perikanan Budidaya Tambak dengan Pemerintah Daerah Jabar di Kantor Kementerian KP, Jakarta Pusat pada Rabu (25/6).

Untuk kegiatan produksi dan industrialisasi hasil ikan dari tambak nantinya akan melibatkan sektor swasta. Komoditas yang akan dibudidayakan dari tambak tersebut nantinya adalah ikan Nila Salin.

“Sekarang ini ada kurang lebih 15 pelaku industri swasta untuk pengolahan nila yang kapasitasnya itu masih under capacity, masih rendah sekali. Karena bahan bakunya memang tidak bisa disediakan dalam negeri. Itu kira-kira potensinya,” ujar Trenggono.

Terkait tambak ikan Nila Salin yang akan terbangun di kawasan seluas 20.413,25 hektare tersebut, Trenggono menuturkan nantinya ikan Nila Salin hasil produksi tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

Selain itu, Ia juga melihat potensi pasar dari ikan Nila Salin yang sangat besar baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar ekspor.

“Demand lokal saja itu sudah 13 juta ton, itu bayangkan kalau 1 kilo itu Rp 10 ribu, kalau 13 juta ton itu Rp 130 triliun. Tapi kalau demand dunia itu jauh lebih besar lagi,” ujarnya.

Di dalam negeri salah satu kebutuhan protein yang ada berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nantinya ikan Nila Salin hasil tambak juga bisa mengisi kebutuhann program tersebut.

“Yang tertinggi itu adalah kandungan protein ikan. Ini kalau bisa dilihat disini ya 0,25 gram itu udang, 0,22 gram itu ikan sementara ayam, daging ayam cuma 0,14 gram,” ujarnya.

Terkait revitalisasi di sepanjang Pantura Jawa Barat, revitalisasi akan dilakukan di 4 kabupaten yakni Bekasi, Karawang, Subang dan Indramayu. Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono juga menuturkan program ini akan berdampak pada serapan tenaga kerja.

Revitalisasi tambak di Pantura Jabar ini merupakan tahap awal di mana dalam prospek panjang Trenggono menjelaskan Kementerian KP akan merevitalisasi 78 ribu hektare tambak kurang produktif di sepanjang Pantura Jawa. Untuk investasi ikan budidaya di tambak-tambak Pantura Jawa Barat seluas 20.413,25 hektare dibutuhkan Rp 26 triliun.

Langkah revitalisasi tambak di Pantura Jawa Barat ini juga dilakukan untuk menaikkan produksi ikan tambak yang mana saat ini masih cukup rendah di angka 0,6 ton per hektare per tahun. Dengan adanya revitalisasi maka volume produksi diperkirakan bisa meningkat hingga 1,18 juta ton per hektare per tahun dengan nilai produksi mencapai Rp 30,65 triliun