Agus Marto Jelaskan Perjalanan Rupiah dan Inflasi 5 Tahun Terakhir

Komsisi XI DPR RI hari ini mengadakan rapat kerja dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo terkait laporan kinerja BI selama lima tahun.
Rapat ini dihadiri oleh sejumlah anggota Komisi XI dan Dewan Gubernur BI, seperti Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara serta Deputi Gubernur BI Sugeng dan Erwin Rijanto.
Dalam pemaparannya, Agus melaporkan bahwa selama lima tahun terakhir nilai tukar rupiah dan inflasi relatif terjaga. Meski pada awal dia bertugas, ekonomi domestik dinilai cukup sulit.
"Perjalanan tugas kita pada 2013 diawali perekonomian yang cukup sulit, hanya berselang dua hari setelahnya, Bank Sentral AS, The Fed beri sinyal akan kurangi stimulus moneter. Sejak Mei-Agustus 2013 aliran modal asing terus keluar sehingga mengakibatkan pelemahan nilai tukar dan pasar keuangan di negara berkembang termasuk Indonesia," ujar Agus di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (22/5).
Perekonomian global di tahun 2013 juga diselimuti oleh ketidakpastian yang tinggi pasca krisis 2008. Harga-harga komoditas utama dunia juga mulai menurun setelah pada 2011 harga komoditas terlampau tinggi.
Dari sisi nilai tukar rupiah, Agus mencatat, dalam lima tahun terakhir BI berhasil menjaga volatilitas nilai tukar rupiah berada di bawah 12%. Meskipun pada akhir Desember 2013 kurs rupiah sebesar Rp 12.189 per dolar AS dan per hari ini menjadi Rp 14.178 per dolar AS.
Adapun cadangan devisa masih dalam kondisi yang cukup baik, di akhir 2013 cadev mencapai USD 99,4 miliar dan saat ini per April 2018 mencapai USD 124,9 miliar.
Sementara, sisi pergerakan inflasi, Agus mengatakan meskipun pada 2013 sempat menembus level 8,38% karena adanya kenaikan harga BBM, tetapi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir inflasi bisa dalam kisaran stabil di kisaran 3%.
"Tiga tahun terakhir, inflasi senantiasa dalam range BI,” tambahnya.
