Kumparan Logo

Agus Martowardojo Jelaskan Masalah Bumiputera Saat 1995

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan Gubernur BI, Agus Martowardojo memberikan sambutan saat peluncuran buku 'Agus Martowardojo' di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (2/9). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Gubernur BI, Agus Martowardojo memberikan sambutan saat peluncuran buku 'Agus Martowardojo' di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (2/9). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Mantan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo sudah mengetahui masalah Bank Bumiputera sejak 25 tahun silam. Saat itu ia menjabat sebagai Direktur Utama Bank Bumiputera.

"Pada 25 tahun yang lalu, Bumiputera hampir bermasalah. Karena tantangan di banknya, maka berdampak ke yang lainnya," ujar Agus di Gedung BI, Jakarta, Senin (2/9).

Seperti dikutip buku biografinya "Agus Martowardojo, Pembawa Perubahan", ia menceritakan bahwa kondisi Bank Bumiputera sudah kronis. Kredit macet membengkak sehingga bank harus menyisihkan lebih banyak dana pencadangan.

"Sejak 1995, kerugian Bank Bumiputera makin dalam hingga mencapai kisaran Rp 200 juta per bulan," katanya.

Agus pun tidak mau krisis tersebut hanya diketahui oleh level pimpinan. Ia ingin pegawai di level manajemen memahami beratnya masalah yang dihadapi bank tempat mereka mencari nafkah.

"Pada waktu itu semua harus paham, bank dalam kondisi sekarat," katanya.

Akibat bank tersebut bermasalah, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 juga ikut terdampak. Saat itu, Agus beserta timnya langsung menangani permasalahan Bumiputera.

Agus Martowardojo mengaku meminta bantuan likuiditas-likuiditas darurat dari bank sentral yang kala itu masih tersedia, namun gagal. Bank Indonesia hanya setuju jika pemilik Bank Bumiputera diganti.

"'Bagi Agus, syarat itu terlalu berat. Permasalahan Bumiputera bukan kesalahan pemilik, tapi manajemen," katanya.

Akhirnya Agus merombak tata kelola, memperbaiki yang lemah dengan membangun sistem andal. Manajemen pun akhirnya menyiapkan diri menarik tenaga baru untuk menggantikan pegawai lama.

Pengelola skema penguatan AJB Bumiputera Foto: Edy Sofyan

"Kami, direksi, sudah meneliti kinerja dan kualitas para pegawai, memilah mana yang bagus mana yang tidak. Kami putuskan untuk merekrut SDM baru untuk memperkuat organisasi," kata Agus Martowardojo.

Puncaknya pada akhir 1995, bank yang semula megap-megap ini berhasil mencetak laba Rp 2,62 miliar.

Memasuki 1996, kaki Bank Bumiputera sudah berdiri tegak meski modalnya terbatas dan masih termasuk bank yang diawasi lebih ketat oleh BI. Laba bank naik menjadi Rp 3,2 miliar.

Krisis ekonomi berlanjut. Pada akhir 1997, pemerintah menutup 16 bank. Bumiputera lolos, tidak ikut ditutup.

Asuransi Jiwa Bumiputera saat ini masih didera masalah tunggakan polis asuransi. Total tunggakannya sebelumnya mencapai Rp 30 triliun. Masalah tersebut hingga kini masih belum terselesaikan.