Kumparan Logo

Airlangga Minta 5 Bank Jelaskan ke Moody's Usai Outlook Dipangkas

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers ABAC Meeting I 2026, Sabtu (7/2/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers ABAC Meeting I 2026, Sabtu (7/2/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta 5 bank besar yang mengalami penurunan outlook kredit menjadi negatif untuk memberikan penjelasan kepada lembaga pemeringkat global, Moody’s Ratings.

Moody's memangkas outlook kredit Indonesia dari Stabil menjadi Negatif. Lembaga tersebut kemudian merevisi outlook kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menjadi negatif.

"Ya, kalau itu, kan, nanti perlu penjelasan dari masing-masing perbankan kepada Moody's, karena semua rating agency itu kuncinya juga perlu dijelaskan apa yang menjadi concern mereka dan concern itu tentu perlu diberikan jawaban yang memadai," ungkap Airlangga saat ditemui di Hotel Shangri-La Jakarta, Sabtu (7/2).

Airlangga melanjutkan meski terdapat beberapa kekhawatiran, Moody's tetap mempertahankan peringkat kredit secara nasional pada level Baa2, masih di atas batas investment grade. Kekhawatiran tersebut, kata dia, perlu direspons masing-masing korporasi.

"Kemudian kalau dari segi nasional Moody's tetap Indonesia di dalam investment grade, hanya outlook itu sesuatu yang mereka khawatir, nah kekhawatiran itu yang perlu dijawab," katanya.

Sebuah papan nama lembaga pemeringkat Moody's terpampang di kantor pusat perusahaan tersebut di New York. Foto: Emmanuel Dunand/AFP

Di sisi lain, dia menilai catatan Moody's terhadap ketidakpastian kebijakan pemerintah juga perlu diberikan penjelasan, terutama dari sisi Danantara Indonesia yang kemunculannya sejak tahun lalu menimbulkan pertanyaan dari pasar keuangan global.

"Ketidakpastian itu, kan, membutuhkan penjelasan, jadi dijelaskan saja karena tahun ini tentu ada perbedaan di dalam anggaran, terutama terkait dengan investasi karena dividen dan yang lain, kan, sekarang semuanya masuk di Danantara dan Danantara memerankan fungsi juga untuk investasi," jelas Airlangga.

Sementara dari pihak pemerintah, Airlangga menjamin kondisi ekonomi makro nasional tetap terjaga dengan berbagai kebijakan fiskal dan moneter yang terkendali.

"Tetapi dari segi pemerintah fiskal kita commit untuk budget deficit maksimum 3 persen, dan loan to PDB itu sekitar di bawah 40 persen, nah itu secara makro kita jaga," tandas Airlangga.

Moody's Pangkas Outlook Kredit 5 Bank Besar RI

Sebelumnya, Moody's memangkas outlook kredit pada lima bank besar di Indonesia menjadi negatif, dari sebelumya stabil. Analis Moody's, Clarabelle Tan, menyebutkan penilaian peringkat tersebut mencerminkan outlook negatif atas peringkat kredit pemerintah Indonesia di level Baa2, yang menunjukkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia.

"Risiko tersebut tercermin dari menurunnya kepastian dan konsistensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif sepanjang satu tahun terakhir," katanya, Jumat (6/2).

Dia melanjutkan, jika kondisi tersebut berlanjut, tren penurunan kredit rating ini berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbentuk, yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan.

Meski demikian, Moody's menegaskan peringkat kredit pemerintah Indonesia tetap mempertimbangkan ketahanan ekonomi nasional, yang didukung oleh faktor struktural seperti basis sumber daya alam yang kuat dan demografi yang solid, sehingga menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang stabil dan kuat.

Jika peringkat kredit pemerintah Indonesia diturunkan, maka peringkat kredit lima bank Indonesia yang disebutkan di atas juga akan diturunkan. Untuk Bank Mandiri, BRI, dan Bank Central Asia, penurunan peringkat sovereign juga akan diikuti oleh penurunan Baseline Credit Assessment (BCA) dan Adjusted BCA yang bergerak sejalan dengan peringkat pemerintah.

Sementara itu, penurunan peringkat BNI dan BTN terutama didorong oleh berkurangnya faktor dukungan pemerintah (public support uplift). Selain itu, Counterparty Risk Rating (CRR) dan Counterparty Risk Assessment (CRA) milik Mandiri, BRI, BCA, dan BTN juga akan ikut diturunkan apabila peringkat kredit pemerintah Indonesia mengalami penurunan.