Kumparan Logo

Airlangga Sebut Penyebab Rupiah Tembus Rp 17.300 karena Gejolak Global

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (19/3). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (19/3). Foto: Zamachsyari/kumparan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS.

Airlangga bakal memantau terus pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyebut pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” kata Airlangga saat ditemui usai konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis (23/4).

Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dinamika global. Meski begitu, Airlangga menegaskan tidak akan bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar rupiah.

“Ya kan itu (penyebabnya) lihat gejolak global. Nanti kita monitor saja dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga (stabilitas rupiah),” tutur Airlangga.

BI Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas Rupiah

Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam penutupan KKI, Minggu (10/8). Foto: Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi konflik geopolitik dan sentimen pasar keuangan internasional, masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah," terang Destry.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.