Kumparan Logo

Airlangga Sebut Potensi AI Sektor Sipil Tembus USD 255 Miliar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026).  Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia masih terbuka lebar bagi pelaku usaha maupun investor.

Airlangga menyoroti hingga saat ini belum ada kelompok usaha besar atau konglomerat di sektor tersebut. Dengan demikian, masih ada peluang besar bagi investor dari dalam maupun luar negeri untuk masuk ke industri AI nasional.

​“Ini potensinya banyak, dan potensi di sini bahasa jelasnya belum ada konglomeratnya, jadi it's open for public, open for everyone,” kata Airlangga dalam sambutannya pada gelaran Opening Ceremony Digital Transformation Indonesia (DTI) Series 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

​Selain itu, bisnis AI juga dinilai lebih mudah dikembangkan karena tidak membutuhkan modal sebesar pembangunan pabrik industri manufaktur.

​Dengan demikian, Airlangga memandang saat ini adalah momentum yang tepat bagi investor untuk masuk ke dalam industri AI di Indonesia.

​“Dan ini modalnya scalable. Tidak seperti bangun pabrik harus modalnya ratusan juta dolar baru jalan. Ini bisa semuanya scalable. Jadi ini kesempatan yang sangat baik,” jelasnya.

Potensi AI Tembus USD 255 Miliar

Ilustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock

​Airlangga mengatakan pemerintah juga terus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem AI global. Salah satunya melalui keikutsertaan Indonesia sebagai founding member World AI Cooperation Organization yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

​Dia menambahkan, organisasi tersebut fokus pada pemanfaatan AI untuk kebutuhan sipil.

​“Dan kebutuhan sipil sektor industri itu potensi pasar AI sudah mencapai USD 255 miliar sendiri. Internet of Things, Machine Learning, Human-Machine Interaction,” ujarnya.

​Airlangga juga menuturkan perkembangan AI akan mengubah lanskap industri manufaktur. Dia mencontohkan semakin banyak pabrik yang mulai mengandalkan robot dalam proses produksinya.

​“Dan kalau sudah pabrik semuanya menggunakan 4.0, jangan salah kalau melihat pabrik kok lampunya dimatikan. Karena yang kerja robot semua. Jadi mereka bisa kerja mati lampu,” terangnya.

Indonesia Amankan 6 Intellectual Property dari ARM

Ilustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/Shutterstock

Selain memperkuat kerja sama internasional, Airlangga mengungkapkan Indonesia telah memperoleh enam intellectual property (IP) dari ARM. Menurut dia, hal ini menjadi modal berharga dalam pengembangan industri semikonduktor dan teknologi nasional.

​Ia menekankan persaingan global saat ini tidak hanya terjadi dalam pengembangan produk teknologi, tetapi juga dalam penguasaan hak kekayaan intelektual.

​“Dengan ARM itu kita juga mendapatkan 6 intellectual property, 6 IP. Yang negara lain kalau mau mengakses itu harus minta IP di Indonesia. Jadi ini betul-betul sedang berlomba siapa yang akan duduk menguasai daripada IP,” tuturnya.