Kumparan Logo

Airlangga Sebut RI Harus Kejar AI-Semikonduktor untuk Saingi Ekonomi Vietnam

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Downstreaming Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
 Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Downstreaming Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia perlu mendorong pengembangan industri berbasis teknologi tinggi, seperti digitalisasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI) jika ingin mengejar pertumbuhan ekonomi Vietnam yang mencapai 9 persen.

Katanya, Indonesia perlu meningkatkan kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) yang saat ini masih perlu didorong agar melampaui 20 persen.

“Dan kesempatan untuk (pertumbuhan ekonomi) naik dari 5, kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9 persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI. Jadi itu seluruhnya leverage yang Vietnam sudah lakukan lebih dulu dari Indonesia,” kata Airlangga dalam acara Downstreaming Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10).

Selain itu, untuk mengembangkan hilirisasi pada 28 komoditas, kebutuhan investasinya diperkirakan mencapai USD 618 miliar. Airlangga mengatakan investasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor menjadi USD 857 miliar, dengan nilai tambah sebesar USD 235,9 miliar.

Saat ini, nilai ekspor Indonesia mendekati USD 500 miliar. Dengan pengembangan hilirisasi, nilai ekspor tersebut berpotensi meningkat hingga dua kali lipat.

“Dan yang double dari angka kita adalah negara tetangga, Vietnam, yang juga dengan selain hilirisasi mereka masuk juga ke industri yang di tier 3,” tutur Airlangga.

instagram embed

Oleh karena itu, Airlangga menilai Indonesia dinilai perlu mulai memperkuat industri pada tingkat ketiga tersebut, termasuk melalui pengembangan AI, agar dapat mengejar pertumbuhan ekonomi Vietnam.

Kemudian dari sisi kawasan ekonomi khusus (KEK), Indonesia juga dinilai masih tertinggal dari Vietnam. Luas KEK Indonesia disebut sekitar 24.000 hektare, sedangkan Vietnam mencapai 2 juta hektare.

“Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha, mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor. Jadi kita tentu ada persaingan dengan Vietnam,” jelas Airlangga.

Ia melanjutkan, Vietnam juga lebih dahulu menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa. Menurut Airlangga, Vietnam memperoleh perlakuan tarif dan nontarif yang lebih menguntungkan dari Amerika Serikat (AS) dibandingkan Indonesia.

“Jadi inilah yang mendorong Vietnam ekspornya lebih cepat dari kita, namun mereka tidak punya domestic market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor,” tutur Airlangga.

Berdasarkan data dari Kantor Statistik Nasional di Hanoi yang dirilis pada Sabtu (3/10), produk domestik bruto (PDB) Vietnam naik 9,95 persen pada periode Juli-September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini merupakan yang tercepat sejak kuartal III 2022, sekaligus melampaui median perkiraan 8,65 persen dari survei Bloomberg terhadap delapan ekonom dan angka revisi pertumbuhan 8,81 persen pada kuartal II.