Akibat PMK, Banyak Pedagang Hewan Kurban Ogah Jual Sapi Jawa
·waktu baca 2 menit

Pedagang hewan kurban mengaku, tahun ini beralih menjual sapi yang berasal dari luar Jawa. Alasannya, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) paling banyak menyerang sapi di Jawa.
Robi, salah satu pedagang hewan kurban di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan mengatakan, sapi Jawa yang memiliki ukuran lebih besar justru rentan mati ketika terkena wabah PMK.
“Kalau sapi Jawa dia benar-benar sampai lumpuh kalau manusia itu ibaratnya seperti cantengan, mulutnya juga kena. Tapi kalau sapi Bali cuma koreng-koreng sedikit, terus ileran tapi kalau kita cepat menanganinya Insya Allah akan sembuh,” ungkap Robi kepada kumparan, Senin (4/7).
Senada dengan Robi, Ismail salah satu pedagang hewan kurban di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, juga hanya fokus menjual Sapi dari kota Bima, Nusa Tenggara Barat.
Ia menjelaskan, sebelumnya dirinya pernah juga menjual sapi Jawa. Namun, karena wabah PMK dirinya memberhentikan distribusi dari Jawa.
“Kalau sapi kita (dari Bima) kan dari gunung kuat, makannya aja jerami. Kalau sapi Jawa kan makanan fermentasi, kalau sapi Jawa kerjaannya makan tidur makan tidur. Sama aja kaya ayam kampung dan ayam ras kan beda kualitasnya,” ungkap Ismail.
Selain itu, walaupun dirinya sudah beralih ke sapi Bima, namun Ismail tetap membatasi penjualannya. Hal ini dikarenakan dirinya takut semua sapinya terancam terkena wabah PMK.
“Saya enggak ambil banyak karena takut, penularannya ini kan 5-10 kilometer takutnya banyak yang kena,” tambahnya.
Pedagang yang sudah melakoni bisnis ini selama 14 tahun, Ismail mengakui dirinya kewalahan untuk menghadapi wabah PMK ini. Dirinya menceritakan banyak peternak yang mengeluh karena sulitnya menjaga sapi di situasi seperti ini.
“Yang bikin stress keluar uangnya, terus malam hari ngelap pakai air hangat tidak ada tenangnya peternak, mereka mengeluh seumur-umur ngurus sapi tahun ini yang paling capek,” tutur Ismail.
