Kumparan Logo

Aksi Jual Obligasi Global Makin Dalam, Saham Turun Saat Harga Minyak Naik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi saham turun. Foto: Golden Dayz/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi saham turun. Foto: Golden Dayz/Shutterstock

Aksi jual obligasi global semakin meluas seiring kebuntuan perang di Iran yang mendorong kenaikan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi, dan meningkatkan spekulasi bank sentral masih harus terus memperketat kebijakan moneternya.

Mengutip Bloomberg pada Senin (18/5), obligasi pemerintah AS atau Treasury melemah di seluruh tenor, dengan imbal hasil obligasi 30 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun akibat kekhawatiran investor terhadap percepatan inflasi.

Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun melonjak 10 basis poin ke level tertinggi sejak 1996, sementara yield obligasi 30 tahun Jepang naik 20 basis poin ke posisi tertinggi sejak pertama kali diterbitkan pada 1999. Obligasi di Australia dan Selandia Baru juga ikut turun.

Seiring lonjakan imbal hasil obligasi, pasar saham memperpanjang pelemahan dari level rekor tertinggi. Saham Asia turun 0,8 persen, meski indeks Kospi Korea Selatan yang menjadi indeks berkinerja terbaik dunia tahun ini berhasil berbalik naik 1 persen setelah saham Samsung Electronics Co. pulih dari penurunan sebelumnya.

Kontrak berjangka indeks saham juga mengindikasikan pelemahan lebih lanjut di Eropa dan AS. Dolar AS, yang menjadi aset safe haven pilihan selama konflik Timur Tengah, menguat untuk hari keenam berturut-turut.

Sentimen pasar turut tertekan setelah minyak Brent naik sekitar 2 persen menjadi di atas USD 111 per barel, setelah melonjak hampir 8 persen pekan lalu, di tengah belum adanya kemajuan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang vital.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan waktu terus berjalan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan.

Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (20/4/2026). Foto: REUTERS

Gejolak pasar pada Senin (18/5) mengikuti aksi jual saham dan obligasi pada Jumat (15/5) lalu, ketika kekhawatiran meningkat bahwa penutupan efektif Selat Hormuz akan menjaga harga minyak tetap tinggi, memicu inflasi, dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Salah satu fokus utama investor pekan ini adalah laporan keuangan Nvidia Corp., setelah selama berbulan-bulan pasar saham mengabaikan meningkatnya risiko makroekonomi karena optimisme bahwa belanja besar-besaran untuk pengembangan AI akan mendorong pertumbuhan laba perusahaan.

“Kekhawatiran inflasi telah mencengkeram pasar obligasi global,” kata Chief Asia Economist HSBC, Frederic Neumann.

Perhatian pasar kini tertuju pada pasar obligasi, terutama perubahan ekspektasi terhadap Federal Reserve. Para trader kini melihat kenaikan suku bunga hampir pasti terjadi pada Maret, menandai perubahan besar narasi pasar obligasi sejak akhir Februari ketika pasar justru memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga seperempat poin pada 2026.

Menurut Yardeni Research, The Fed perlu segera menyesuaikan kebijakannya dengan pasar obligasi atau berisiko kehilangan kendali atas biaya pinjaman di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi.

“Kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni dan beralih ke sikap kebijakan yang lebih ketat,” tulis Ed Yardeni.

instagram embed