Alibaba Himpun Dana Rp 180,55 Triliun untuk Perkuat Bisnis AI

Alibaba Group Holding Ltd. berhasil menggalang dana HK$80 miliar atau USD 10,2 miliar setara Rp 180,55 triliun melalui penjualan saham sekunder terbesar di Hong Kong. Aksi ini menunjukkan agresivitas Alibaba dalam menghimpun dana untuk memperkuat ambisinya menjadi salah satu pemimpin global di bidang kecerdasan buatan (AI). Mengutip Bloomberg, Senin (24/8), perusahaan e-commerce yang kini memperluas bisnisnya ke sektor AI itu melepas 710 juta saham dengan harga HK$112,7 per lembar. Harga tersebut memberikan diskon 3,6 persen dibandingkan penutupan American depositary receipts (ADR) Alibaba pada Jumat sebelumnya dan 8,4 persen di bawah harga penutupan saham Alibaba di Hong Kong. Setelah transaksi diumumkan, saham Alibaba langsung tertekan. Pada pembukaan perdagangan Senin di Hong Kong, saham perusahaan tersebut anjlok 8,1 persen. Penjualan saham ini menjadi penawaran saham lanjutan terbesar yang pernah dilakukan perusahaan di Hong Kong. Nilainya juga menjadi yang terbesar di kota tersebut sejak Prosus NV melepas saham Tencent Holdings Ltd. senilai USD 14,7 miliar setara Rp 260,20 triliun pada 2021, berdasarkan data Bloomberg. Penggalangan dana tersebut semakin menegaskan posisi Alibaba sebagai salah satu perusahaan China yang paling agresif menggelontorkan modal untuk pengembangan AI. Perusahaan sebelumnya telah melepas sejumlah aset dan berkomitmen mengeluarkan lebih dari 380 miliar yuan dalam tiga tahun untuk berbagai kebutuhan, termasuk chip, pusat data, serta pengembangan large language model (LLM). Produk AI andalan Alibaba, Qwen, saat ini menjadi salah satu keluarga model AI yang paling populer di dunia. Namun, investasi besar Alibaba untuk bersaing dengan perusahaan seperti Anthropic PBC dan OpenAI mulai memberikan tekanan terhadap margin keuntungan. Di sisi lain, perlambatan konsumsi domestik China masih menjadi tantangan bagi bisnis utama Alibaba di sektor perdagangan online. Aksi korporasi tersebut juga menuai kritik dari investor Michael Burry. Burry, investor yang namanya dikenal luas setelah kisahnya diangkat dalam film The Big Short, menyatakan bahwa ia “tidak bisa menyetujui” penerbitan saham baru Alibaba sebagai respons terhadap pengumuman perusahaan. “Ini sekali lagi merupakan paradigma baru bagi BABA, dan ROIC-nya akan terus turun,” tulisnya dalam sebuah unggahan media sosial pada Minggu. Burry mengungkapkan bahwa sebelumnya ia berencana menjual kembali sebagian besar kepemilikannya di Alibaba yang telah ia alihkan ke JD.com Inc. “belum lama ini”. Namun, setelah aksi tersebut, ia mengatakan kini “tidak lagi” memiliki rencana itu. Ia juga menyebut harga saham Alibaba perlu turun hingga setengahnya sebelum kembali menarik minatnya untuk membeli. Kesepakatan tersebut terjadi ketika Alibaba meningkatkan belanja modal kuartalan hingga mendekati USD 10 miliar setara Rp 177,01 triliun. Langkah itu dilakukan untuk mempertahankan posisi perusahaan di tengah persaingan AI yang semakin ketat. Dana dari penjualan saham akan digunakan Alibaba untuk memperkuat kemampuan AI secara menyeluruh atau full-stack AI. Investasi tersebut mencakup perluasan dan peningkatan infrastruktur yang mendukung pengembangan teknologi AI.
