Aliran Modal Asing Kabur USD 5,26 Miliar, BI Harap Kondisi Membaik Tahun Depan
ยทwaktu baca 3 menit

Bank Indonesia (BI) menyebutkan Indonesia mengalami net outflow, atau aliran modal asing yang keluar lebih banyak dari jumlah modal yang masuk pada kuartal III 2025.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menjelaskan BI melihat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang tahun ini masih tetap baik dan berdaya tahan, dengan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Perbaikan defisit tersebut didorong oleh kinerja ekspor yang masih cukup tinggi hingga September, terutama ke negara mitra utama seperti India dan Cina.
Namun, dari sisi lalu lintas keuangan, BI mencatat masih terjadinya net outflow. Tercatat pada September hingga 20 Oktober 2025 saja, aliran modal asing yang keluar sudah mencapai USD 5,26 miliar.
"Pada triwulan III, kami perkirakan akan tercatat net outflows, di mana investor asing mencatatkan arus keluar bersih," ungkap Juli saat Media Gathering di Bukittinggi, Sumatra Barat, Jumat (24/10).
"Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian global, yang menjadi salah satu faktor utama terjadinya net outflows pada periode tersebut," imbuhnya.
Juli mengatakan, posisi cadangan devisa Indonesia per September 2025 sebesar USD 148,7 miliar, setara dengan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Menurutnya, angka ini cukup memadai karena jauh di atas standar internasional yakni minimal 3 bulan impor, sehingga BI menilai posisi cadangan devisa masih sangat aman untuk memenuhi kewajiban jangka pendek ke depan.
BI, kata dia, memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia akan tetap baik hingga akhir tahun ini bahkan tahun depan, dengan defisit transaksi berjalan masih akan terjaga, sementara arus modal asing diharapkan kembali masuk ke Indonesia seiring dengan prospek ekonomi nasional yang semakin membaik.
"Seiring ketidakpastian mereda dan ekonomi membaik, kami harapkan arus masuk modal asing akan kembali ke Indonesia. Seperti disampaikan, outlook tahun 2026 kami perkirakan lebih baik, termasuk dari sisi arus keuangan global," kata Juli.
Juli melanjutkan, aliran modal asing yang masuk biasanya dibedakan menjadi arus modal portofolio, misalnya terhadap saham atau instrumen Surat Berharga Nasional (SBN), serta arus Penanaman Modal Asing alias Foreign Direct Investment.
Dia memperkirakan beberapa sektor yang masih prospektif dan menarik untuk investasi asing, misalnya hilirisasi, manufaktur, dan energi terbarukan. Namun, hal ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi, mempercepat perizinan, dan memanfaatkan potensi pasar domestik yang besar.
"Sedangkan arus modal portofolio juga diharapkan meningkat ke depan seiring stabilitas makroekonomi yang terjaga," jelas Juli.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan kinerja transaksi modal dan finansial diperkirakan mengalami defisit pada kuartal III karena terjadinya net outflows investasi portofolio, seiring tingginya ketidakpastian global dan pembayaran utang luar negeri, di tengah tetap positifnya penanaman modal langsung.
"Sejak September 2025 hingga 20 Oktober 2025, investasi portofolio tercatat net outflows sebesar 5,26 miliar dolar AS yang mengharuskan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah," ungkapnya saat konferensi pers, Rabu (22/10).
Kendati begitu, Perry menyebutkan transaksi berjalan pada kuartal III 2025 diprakirakan mencatat surplus, ditopang oleh berlanjutnya surplus neraca perdagangan pada September 2025.
Hal ini didukung oleh ekspor nonmigas yang meningkat di tengah perlambatan ekonomi global sejalan dengan antisipasi eksportir terhadap tarif resiprokal AS, termasuk ekspor ke India dan Tiongkok untuk komoditas minyak kelapa sawit (CPO) dan besi baja.
Perry berharap surplus neraca perdagangan dan arus masuk penanaman modal asing diperkirakan terus berlanjut, sehingga defisit transaksi berjalan keseluruhan tahun 2025 lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Pada tahun 2026, NPI diprediksi juga tetap akan baik didukung defisit transaksi berjalan yang sehat dan aliran modal yang meningkat sejalan prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.
