Kumparan Logo

Amran Buka Peluang RI Punya Cadangan Kedelai, Tunggu Ada BUMN Minat

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja menyelesaikan pengolahan kedelai menjadi tahu di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (3/12/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja menyelesaikan pengolahan kedelai menjadi tahu di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (3/12/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Amran Sulaiman, merespons rencana membuat stok cadangan kedelai karena harga saat ini masih dikendalikan oleh para importir.

Amran membuka peluang Indonesia akan memiliki cadangan kedelai ke depannya. Namun, masih harus menunggu BUMN yang minat untuk mengelola cadangan tersebut.

Jika sudah ada BUMN yang berminat, Amran memastikan akan langsung memberi izin agar BUMN tersebut bisa langsung mengelola cadangan kedelai.

“Harusnya BUMN, bukan saya (Bapanas). Harusnya BUMN. Kalau BUMN berminat, saya kasih. Oh bukan lampu hijau, lampu apa kalau langsung jalan?” kata Amran ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (22/9).

Soal apakah Bulog akan diizinkan jika menyatakan minat untuk mengelola cadangan kedelai, Amran mengatakan akan memperhatikan regulasinya terlebih dahulu. Walau begitu, ia memastikan cadangan kedelai nasional memang penting untuk ke depan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman usai rapat di kediamannya di Kalibata, Jakarta pada Senin (21/9/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

“Tergantung sesuai regulasi. Kita lihat regulasinya, ya. Iya harus (punya cadangan kedelai), supaya bisa membantu peternakan kecil,” ujarnya.

Selama ini, Bulog memang sudah mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Per akhir Juli lalu, jumlah CBP Bulog mencapai 5,4 juta ton pada Juni 2026 dan hingga akhir Juni 2026 atau Semester I 2026, Bulog telah menyerap 3,2 juta ton atau sebesar 81 persen dari target 4 juta ton sepanjang tahun.

Sebelumnya, melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 juga menjadi acuan bagi Bulog dalam memperkuat CBP, menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani, sekaligus mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional.

Sedangkan terkait kedelai, kebutuhan produksi bersih kedelai dalam negeri dari 2021 hingga 2026 baru mencapai sekitar 190.223 ton. Angka tersebut hanya sekitar 8,14 persen dari rata-rata total kebutuhan nasional yaitu 2.620.294 ton.